Peringatan HUT ke 42 Kemenangan Revolusi Islam; Simbol Kekuatan Lunak Iran
22 Bahman, peringatan hari kemenangan Revolusi Islam, mengingatkan sebuah peristiwa penting sejarah bangsa besar Iran. Revolusi Islam Iran yang dipimpin Imam Khomeini meraih kemenangan pada 11 Februari 1979.
Rakyat di seluruh wilayah Iran setiap tahun dengan menggelar pawai akbar memperbaruhi baiat dan janji setia terhadap nilai-nilai Revolusi Islam dan Pemimpin Besar Revolusi Islam. Peringatan hari kemenangan Revolusi Islam tahun ini mengingat pandemi Corona digelar dengan cara yang berbeda dan dengan menjaga protokol kesehatan, namun kehadiran ini masih tetap menunjukkan gairah revolusi dan berlanjutnya nilai-nilai revolusi.
Kemenangan Revolusi Islam menimbulkan perubahan besar dan menentukan bagi bangsa Iran dan munculnya ideologi baru revolusi dengan landasan nilai-nilai Ilahi di antara pejuang berbagai bangsa dalam menentang sistem hegemoni. Dengan kemenangan Revolusi Islam, bangsa Iran terbebas dari ketergantungan bersejarah yang merusak dan hegemoni kekuatan arogan serta negara ini menempuh jalur independensi dan kemajuan di segala sektor.
Revolusi Islam Iran juga memberi pengaruh besar dan mendalam kepada bangsa tertindas dunia serta menciptakan perubahan besar bagi kebangkitan Islam serta terbentuknya front muqawama melawan Amerika Serikat dan Israel di kawasan. Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei di pidatonya memperingati kelahiran Rasulullah Saw dan Imam Jakfar Sadiq as menilai alasan utama permusuhan Amerika terhadap pemerintah Republik Islam Iran adalah karena Tehran menolak tunduk terhadap kebijakan zalim dan menolak mengakui hegemoni mereka. Rahbar menekankan, permusuhan ini akan tetap berlanjut dan solusi tunggal untuk menghapusnya adalah pihak seberang harus dibuat putus asa atas anggapannya mampu memberi pukulan telak dan mendasar kepada bangsa dan pemerintah Iran.
Seraya menekankan dilanjutkannya upaya menemukan jalan kehormatan dan otoritas Republik Islam, Rahbar menambahkanm "Para hegemon mengatakan mereka ingin Iran menjadi sebuah negara normal, yakni sesuai atau selaras dengan sistem hegemoni, namun Republik Islam sejak dibentuk melawan sistem hegemoni dan untuk selanjutnya juga tidak akan menyerah kepada kubu arogan dunia serta pasti akan melanjutkan jalan revolusioner dan melawan kubu arogan."
Indeks ini merupakan bagian dari manifestasi kehormatan Republik Islam yang berhutang pada upaya dan pengorbanan para syuhada seperti Syahid Qasem Soleimani yang dengan kemenangannya di medan pertempuran berhasil mengalahkan rencana Amerika dan Israel memecahbelah kawasan serta mendorong perubahan konstelasi kekuatan di kawasan. Perubahan besar ini indikasi ketahanan dan hidupnya Revolusi Islam yang membela kaum tertindas dengan melawan kubu arogan.
Pertanyaan penting di sini adalah mengapa Amerika dan musuh bangsa Iran selama bertahun-tahun gagal meraih ambisinya, padahal selama beberapa tahun terakhir menurut mereka sendiri, Iran tahun tidak akan lagi memperingati 22 Bahman, hari kemenangan Revolusi Islam.
Faktanya adalah Amerika Serikat dan musuh-musuh Iran sejak sebelum kemenangan Revolusi Islam telah melakukan perhitungan yang salah. 42 tahun permusuhan terhadap bangsa Iran juga termasuk kesalahan kalkukasi tersebut. Musuh bangsa Iran lebih dari empat dekade memanfaatkan beragam opsi yang dimilikinya untuk menggagalkan revolusi ini, namun mereka tetap gagal karena bangsa Iran tidak pernah merasa lelah dan lemah atau mundur saat menghadapi beragam konspirasi dan represi.
Musuh-musuh bangsa Iran berhalusinasi bahwa melalui represi maksimum dan teror mereka akan mampu merusak revolusi dan pemerintahan Republik Islam serta menjauhkan bangsa ini dari nilai-nilai dan cita-cita Revolusi; namun Iran Islami bukan saja tidak terkucil atau lemah, bahkan negara ini kini tampil kuat di Asia Barat serta resistensi rakyat melawan kubu hegemoni menjadi salah satu manifestasi kehormatan dan kekuatan Republik Islam Iran.
Hari ini, Iran Islami terus mengalami kemajuan di berbagai sektor dan kian kuat. Meski menghadapi beragam ancaman dan sanksi, negara ini balik melawan represi dan mengubah setiap ancaman menjadi peluang. (MF)