Di Balik Kemenangan Mahathir (3)
-
PM Malaysia, Mahathir Mohamad
Kekuatan sosial media menjadi salah satu faktor penting yang menjadi kunci kemenangan koalisi Pakatan Harapan dalam pilihan raya 9 Mei 2018.
Penggunaan internet yang tinggi di Malaysia dengan tingkat penggunaan di atas 24 juta dari sekitar 30 juta penduduk dan akses penggunaan internet di daerah pedesaan di atas 32 persen, menunjukkan peran penting sarana tersebut.
Faktor lain adalah tingginya angkatan muda. Faktanya pendaftar pemilu dengan rentang usia 21 hingga 30 tahun sekitar 45 persen dari 14,8 juta orang.Kedua faktor ini memberikan sumbangan penting dalam mempengaruhi perolehan suara di pemilu.

Kedua faktor tersebut menjadi pendukung utama bagi gerakan sosial Bersih sejak awal digalang. Salah satu bukti pengaruh efektif media sosial dalam penggalangan massa dan dukungan masyarakat adalah postingan video singkat dan kampanye aktif di media sosial yang dilakukan aktivis Pakatan Harapan yang sebelumnya bernama Pakatan Rakyat.
Sekitar enam bulan setelah keluar dari koalisi Barisan Nasional pada 29 Februari 2016, Mahathir mendaftarkan Partai Pribumi Bersatu Malaysia (PPBM) yang dipimpinnya sebagai partai resmi yang baru, dan dirinya menjadi ketua partai. Tidak lama kemudian partai ini bergabung dengan Pakatan Harapan. Sejak itu, Mahathir semakin gencar menyerukan supaya Najib Razak mundur dari jabatan perdana menteri.
Melalui video berdurasi kurang dari dua menit, mantan PM Malaysia periode 1981-2003 itu menyerukan para warga dan pendukung anti-pemerintah untuk melakukan aksi demonstrasi pada Sabtu (19/11/2016) dan bergabung bersama kelompok gerakan Bersih menuntut Najib lengser.
Salah satu kunci penggalangan massa adalah kehadiran orang muda progresif seperti Syed Saddiq Syed Abdul Rahman sebagai juru bicara partai baru Mahathir, sekaligus kekuatan koalisi Pakatan Harapan.
Terlahir dari keluarga sederhana, anak bungsu berusia 25 tahun, Syed Saddiq Syed Abdul Rahman bertekad memastikan perjuangan generasi pemuda dan orang tuanya tak sia-sia.
Syed adalah lulusan hukum International Islamic University yang belum lama ini menolak tawaran kedua dari Oxford University untuk mengejar gelar Master di bidang kebijakan publik.
Syed dikenal dalam komunitas debat jauh sebelum dia masuk ke dunia politik. Dia telah memenangi penghargaan Asia's Best Speaker di kejuaraan debat Asian British Parliamentary sebanyak tiga kali.

Syed mencuat di dunia poltik setelah memenangi jabatan konstituen Muar di Pemilu Mei lalu, mengalahkan petahana dari Barisan Nasional, Razali Ibrahim.
Media Malaysia melaporkan bahwa Syed termasuk yang paling menonjol di antara 25 pemuda progresif yang menulis pernyataan menolak kepemimpinan Perdana Menteri Najib Razak karena skandal 1MDB. Kelompok itu disebut Challenger.
Channel NewsAsia mengutip pernyataan Wan Saiful Wan Jan, peneliti di ISEAS-Yusof Ishak Institute of Singapore, melaporkan, Challenger berhasil mengorganisir diri ke dalam satu kelompok kohesif dan bepergian untuk bertemu pelajar dan pemimpin muda lain, merekrut banyak orang.
Syed dinilai berperan penting dalam menggenjot jumlah anggota partainya. Berkat jasanya pula, Mahathir mengangkat pemuda ini sebagai menteri termuda sepanjang sejarah Malaysia.
Dia ditunjuk sebagai menteri pemuda dan olah raga pemerintahan Mahathir Mohamad yang baru terbentuk setelah terpilih jadi perdana menteri melalui pemilihan umum, Mei lalu.
Tingginya pengaruh media sosial juga terbukti ketika Najib Razak yang saat itu menjabat sebagai perdana menteri Malaysia memonopoli media nasional, terutama televisi untuk meraih dukungan suara. Pada saat yang sama, Mahathir yang mewakili kubu oposisi menyampaikan pidatonya di media sosial secara langsung dengan dukungan yang besar.
Kekuatan media sosial juga kembali berperan setelah Mahathir terpilih dengan munculnya gerakan menggalang dana untuk mengurangi utang negara sekaligus menunjukkan dukungan rakyat Malaysia terhadap pemerintahan baru yang dipimpin Mahathir Mohamad semakin besar.
Seorang warga Malaysia bernama Nik Shazarina Bakti hari Sabtu (26/5) melakukan aksi penggalangan dana secara daring karena prihatin dengan utang negara yang mencapai RM1 triliun.
Inisiatif dengan slogan "Please Help Malaysia!" itu dilakukan pegawai hukum Sister in Islam (SIS) untuk membantu keuangan pemerintahan Mahathir. melalui aplikasi GoGetFunding.
"Apa yang memicu saya untuk memulai penggalangan dana dari masyarakat adalah ketika saya baru-baru ini membaca tentang seorang pria dari Batang Berjuntai yang memberikan RM100 dalam dua lembar RM50 kepada pemerintah untuk mengurangi utang negara," ungkapnya dalam wawancara singkat dengan Malaymail.
Dalam seruannya, ia merujuk waktu ketika orang-orang Malaysia menyerahkan perhiasan, uang, dan barang berharga mereka sehingga Tunku Abdul Rahman Putra Al-Haj dan pemerintah kemudian dapat mengumpulkan cukup uang untuk melakukan perjalanan ke London demi mengamankan kemerdekaan negara Malaysia.
"Ayo kita lakukan lagi! Dan kali ini, Kita melakukannya! Kita dapat memberi tahu anak-anak dan cucu kita tentang prakarsa ini bahwa kita semua mengambil bagian dalam menyelamatkan Negara kita Malaysia, "tulis Nik Shazarina.
The Straits Times melaporkan, aktivis sosial dan putri Perdana Menteri Malaysia Marina Mahathir memberikan dukungan terhadap Nik Shazarina yang diposting halaman Facebook-nya.
Beberapa komentator di postingan Marina menunjukkan antusiasme dan menjanjikan akan mendukung. Tapi sebagian lain menyatakan keberatan karena lebih menyukai platform nasional resmi untuk penggalangan dana semacam itu.
Menteri Keuangan Malaysia Lim Guan Eng mengkonfirmasi total utang negara mencapai RM1,087 triliun, atau 80,3 persen dari produk domestik bruto (PDB) negara ini.
Fenomena ini menunjukkan bahwa gerakan muda dan kemajuan teknologi jika dipergunakan dengan baik menjadi sebuah kekuatan besar bagi kemajuan bangsa dan negara.(PH)