Poros Wujud dan Ekologi Transenden: Membaca Alam dari Fondasi Eksistensi
Oleh: Khusnul Yaqin, Guru Besar Ekotoksikologi Perairan, Universitas Hasanuddin
Banjir yang kembali merendam berbagai kota di Indonesia menunjukkan satu hal: alam sedang kehilangan ritmenya, dan kita masih membaca kerusakannya hanya dari permukaan. Masalahnya, alam sering dibaca sebagai kumpulan organisme, energi, dan proses fisik. Kita memetakan rantai makanan, mengurai dinamika iklim, atau menghitung keragaman hayati, dan itu semua penting. Tetapi bila hanya berhenti pada lapisan ini, kita hanya melihat kulit luar dari sebuah struktur eksistensi yang jauh lebih dalam.
Ekosistem, sekuat apa pun kita memetakannya, tetaplah permukaan. Di bawahnya terdapat arsitektur wujud: jaringan eksistensial yang bertingkat-tingkat, tempat keteraturan mengalir dari pusat realitas menuju lapisan material. Tanpa memahami struktur ini, diskursus ekologi modern terasa seperti membaca teks tanpa mengetahui tata bahasanya.
Di sinilah ekologi transenden memberikan kacamata baru, melihat alam bukan sekadar sistem biologis, tetapi sebagai emanasi dari tatanan wujud yang bergerak dari puncak eksistensi hingga titik terendahnya.
Mengapa Ekologi Modern Masih Kurang Lengkap
Ekologi kontemporer menyajikan beragam paradigma: antroposentrisme, biosentrisme, ekosentrisme, dan ekologi transpersonal. Masing-masing menawarkan perspektif penting, tetapi semuanya memulai dari tempat yang sama: makhluk.
Padahal, makhluk hanyalah simpul kecil dalam jaringan wujud yang jauh lebih luas. Ketika kita hanya fokus pada makhluk, kita mengabaikan pertanyaan paling mendasar: dari mana keteraturan ekologis itu muncul?
Ekosistem tidak mungkin stabil tanpa fondasi yang menopangnya. Dan fondasi itu bukan sekadar interaksi biologis—melainkan arus eksistensi yang mengalir dari pusat wujud. Inilah ruang yang nyaris tidak disentuh oleh teori ekologi modern.
Arsitektur Wujud: Jantung dari Ekologi Transenden
Dalam filsafat wujud, realitas dipahami sebagai spektrum intensitas: ada lapisan yang lebih kuat, lebih terang, dan lebih dekat kepada sumber eksistensi; ada pula lapisan yang lebih redup dan terikat pada materi.
Di sepanjang spektrum ini, terdapat entitas-entitas yang berfungsi sebagai poros wujud—simpul eksistensial yang memiliki kapasitas tinggi untuk memantulkan, menata, dan meneruskan keteraturan kosmos.
Ini bukan konsep moral. Bukan pula simbol religius. Ini murni cara membaca struktur realitas: semakin tinggi intensitas wujud, semakin besar daya pancarnya, semakin besar daya pancarnya, semakin luas perannya dalam menjaga harmoni kosmos. Dengan perspektif ini, keteraturan alam bukan fenomena spontan, tetapi hasil dari jaringan eksistensial yang tersusun rapi.
Keberlanjutan Alam sebagai Gejala Eksistensial
Bila kita menerima bahwa realitas memiliki struktur bertingkat, maka keberlanjutan ekologis muncul sebagai konsekuensi natural dari harmoninya arus wujud.
Ketika arus itu tersambung dengan baik, kita melihat: ekosistem yang stabil, siklus yang teratur, dan daya hidup yang mengalir tanpa hambatan.
Sebaliknya, ketika hubungan eksistensial terganggu, gejalanya terlihat jelas di permukaan: eksploitasi tanpa kendali, ketidakseimbangan energi, kerusakan habitat, hingga perubahan iklim. Ini bukan sekadar “kesalahan manusia”, tetapi retaknya relasi makhluk dengan fondasi wujud itu sendiri.
Krisis ekologis, dengan demikian, adalah fenomena ontologis yang muncul sebagai kelainan permukaan.
Melampaui Debat Lama: Manusia vs Alam
Antroposentrisme menempatkan manusia di pusat. Biosentrisme melawan balik dengan memberi nilai setara pada seluruh makhluk. Dua kutub ini terus saling bertabrakan dalam studi lingkungan.
Ekologi transenden mengambil rute berbeda:
• Pusat sebenarnya bukan manusia, bukan hewan, bukan tumbuhan, bukan alam.
• Pusat terletak pada poros eksistensi yang menjadi sumber keteraturan.
Dengan demikian, nilai ekologis tidak muncul dari jenis makhluk, tetapi dari derajat keterhubungannya pada arus wujud. Paradigma ini lebih stabil—karena mengacu pada struktur realitas, bukan preferensi moral.
Interaksi Ekologis Sebagai Bayangan dari Relasi Wujud
Semua yang kita lihat—gerak awan, pertumbuhan hutan, arus sungai, migrasi hewan—adalah ekspresi luar dari hubungan eksistensial yang bekerja dalam diam. Fenomena material adalah permukaan dari dinamika wujud yang tidak tampak.
Ekologi empiris menangkap pola, tetapi tidak selalu menangkap penyebab terdalamnya. Ekologi transenden melengkapi celah itu dengan menempatkan fenomena alam sebagai cermin dari keteraturan batin kosmos.
Dengan kata lain: setiap kejadian ekologis adalah percikan dari arus wujud yang lebih besar. Membaca Alam Sebagai Teks Ontologis Jika alam adalah teks, maka: fenomena ekologis adalah huruf-hurufnya, hubungan antar makhluk adalah kalimatnya, dan arsitektur wujud adalah tata bahasanya.
Selama kita hanya membaca huruf dan kalimat tanpa memahami tata bahasanya, pembacaan kita akan selalu terputus-putus. Ekologi transenden membantu kita mempertautkan makna itu kembali, dengan membaca kosmos dari akar eksistensinya.
Penutup: Mengembalikan Ekologi ke Fondasi Wujud
Ekologi transenden mengajak kita melihat alam secara lebih utuh, bukan hanya melalui mekanisme biologis, tetapi melalui struktur wujud yang menopangnya. Alam bertahan bukan karena kebetulan biologis, tetapi karena arus eksistensi yang teratur.
Dengan memahami rute eksistensial ini, kita dapat melihat bahwa keberlanjutan ekologis bukan sekadar tugas teknis atau moral, melainkan konsekuensi dari selarasnya hubungan manusia dan makhluk dengan poros keberadaan.
Alam baru dapat dirawat ketika kita memahami fondasinya. Dan fondasi itu adalah wujud, bukan sekadar materi.