Komunikasi Perang Ala Ali Khamenei
Khusnul Yaqin, Guru Besar Ekotoksikologi Perairan, Universitas Hasanuddin
Dari sisi nasab, Ali Khamenei terhubung dengan garis keturunan Ali ibn Abi Talib, sosok yang dikenal dalam sejarah Islam sebagai orator agung setelah Rasulullah SAW, dengan kedalaman retorika yang memadukan keberanian, hikmah, dan ketajaman logika. Dari sisi pendidikan, Khamenei ditempa dalam tradisi hawzah ilmiah di Iran—sebuah sistem pendidikan yang tidak hanya mengajarkan fikih dan ushul, tetapi juga filsafat, irfan, serta tradisi intelektual yang melatih nalar kritis dan kemampuan argumentatif. Sementara dari sisi karier, ia bukan sekadar ulama yang berkutat di ruang studi, melainkan figur yang juga hadir dalam dinamika revolusi dan periode perang, sehingga pengalamannya tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga praksis—memadukan teks dan konteks, mimbar dan medan, gagasan dan realitas.
Pada setiap peperangan, komunikasi adalah garis depan sebelum peluru pertama dilepaskan. Sejarah menunjukkan bahwa daya gentar (deterrence) sering kali ditentukan oleh kemampuan seorang pemimpin membangun persepsi kekuatan di benak lawan. Di titik inilah peran Ali Khamenei dapat dibaca: bukan sekadar sebagai pengambil keputusan, tetapi sebagai komunikator strategis yang memahami bahwa perang psikologis kerap lebih menentukan daripada konfrontasi fisik. Dengan diksi yang terukur dan pesan yang tegas, ia membentuk kalkulasi musuh sebelum medan tempur benar-benar terbuka—sebuah pendekatan yang menempatkan kata-kata sebagai instrumen pertahanan, sekaligus sinyal bahwa kekuatan bukan hanya soal persenjataan, melainkan juga soal pengaruh dan keberanian narasi.
Dalam satu kalimat singkat, Ali Khamenei mengguncang panggung geopolitik: “Betul bahwa kapal induk amerika berbaya, akan tetapi yang lebih berbahaya dari kapal induk AS adalah senjata yang dapat menenggelamkannya.” Kalimat itu bukan sekadar retorika. Ia adalah kristalisasi strategi, psikologi, dan filsafat kekuasaan dalam satu tarikan napas. Ali Khamenei tidak menolak fakta, tetapi lebih dari itu dia menunjukkan fakta baru bahwa mesin militer Republik Islam Iran lebih dahsyat dibandingkan mesin militer AS yang bongsor tapi rapuh.
Dunia modern terhipnotis oleh yang besar. Kapal induk—simbol supremasi militer Amerika—adalah mahakarya teknologi, kota terapung yang membawa jet tempur, radar canggih, dan sistem pertahanan berlapis. Ia adalah metafora keangkuhan imperium: besar, mahal, dan dipamerkan. Namun Khamenei memutar perspektif. Ia tidak menyangkal kedahsyatan kapal induk. Ia justru menggeser pusat perhatian pada titik lemahnya: kerentanan.
Di situlah kecerdasan kalimat itu. Ia tidak berteriak. Ia tidak memaki. Ia hanya mengingatkan bahwa dalam logika perang modern, efektivitas lebih penting daripada kemegahan. Senjata kecil, lincah, presisi—bila dirancang dengan strategi asimetris—dapat melumpuhkan raksasa baja bernilai miliaran dolar. Yang menentukan bukan ukuran, melainkan akurasi dan niat.Ini bukan semata soal militer. Ini pelajaran tentang kekuasaan. Mesin besar selalu menyediakan permukaan yang luas untuk diserang. Semakin besar struktur, semakin kompleks pula titik rapuhnya. Sebaliknya, kekuatan yang terdistribusi, adaptif, dan berbasis kecerdikan justru lebih sulit ditundukkan.
Dalam dunia yang bergerak menuju perang drone, rudal presisi, dan taktik gerilya laut, filosofi “kecil tetapi mematikan” menjadi relevan.Yang menarik, kalimat itu disampaikan dalam majelis pengajian. Artinya, ia lahir dari ruang spiritual, bukan ruang komando militer. Di sinilah menariknya: seorang ulama fiqih berbicara tentang strategi perang tanpa kehilangan nuansa moralnya. Ia mengajarkan bahwa pertahanan bukanlah agresi, melainkan hak eksistensial sebuah bangsa. Dan dalam membangun pertahanan, rasionalitas harus mengalahkan gengsi.Barat mungkin membaca kalimat itu sebagai ancaman. Dunia Muslim mungkin membacanya sebagai keberanian. Namun sesungguhnya ia adalah pesan universal tentang efisiensi dan keadilan strategi.
Jangan membangun kekuatan demi simbol. Bangunlah kekuatan demi fungsi. Jangan mengejar kebesaran visual, tetapi keefektifan struktural.Khamenei dalam kalimat itu menunjukkan kompleksitas perannya: ulama, filosof, sekaligus komunikator politik yang piawai. Ia tidak membantah fakta tentang kekuatan kapal induk Amerika. Ia hanya menambahkan fakta lain yang lebih menggetarkan: setiap raksasa memiliki Achilles heel. Dan di era teknologi presisi, tumit itu semakin mudah dijangkau.Di tengah dunia yang sering terjebak dalam perlombaan pamer kekuatan, kalimat tersebut terasa seperti tamparan intelektual.
Ali Khamenei mengingatkan bahwa kebijaksanaan strategis tidak selalu bersuara keras. Kadang ia hadir dalam satu kalimat pendek yang rapi, tenang, tetapi mampu membuat pusat-pusat kekuasaan berpikir ulang.Pada akhirnya, yang membuat dunia bergetar bukanlah ukuran senjata, melainkan kedalaman visi di baliknya. Dan dalam satu kalimat itu, visi tersebut terpancar jelas: kekuatan sejati bukan pada besarnya tubuh, tetapi pada ketepatan pukulan.(PH)