Ramadan, Solidaritas, dan Palestina: Mengapa Dunia Muslim Masih Terpecah?
Syed Abdullah Assegaf, Dosen Hubungan Internasional, Direktur Iran Corner, FISIP Universitas Brawijaya
Setiap Ramadan, lebih dari satu miliar Muslim di seluruh dunia memenuhi seruan ayat Al-Qur'an (2:185) untuk berpuasa menahan lapar dan haus, memperbanyak doa, dan berbagi makanan saat berbuka. Tetapi Ramadan sebenarnya bukan hanya soal menahan diri. Ia juga tentang kesadaran.
Pemikir Iran, Ali Shariati, pernah mengatakan bahwa ibadah dalam Islam tidak pernah sekadar ritual pribadi. Puasa, menurutnya, adalah latihan sosial yang sunyi tapi kuat. Ketika seorang pejabat, buruh, pengusaha, dan tukang ojek sama-sama berhenti makan saat fajar dan sama-sama menunggu azan magrib dengan tenggorokan kering, perbedaan kelas menjadi tidak relevan. Lapar menyamakan semua orang. Ramadan mengingatkan kita bahwa, pada dasarnya, manusia itu setara. Namun pertanyaannya: jika kita bisa setara dalam lapar, mengapa kita tidak bisa bersatu dalam sikap terhadap ketidakadilan?
Palestina dan Solidaritas yang Setengah Jalan
Isu Palestina sudah lama menjadi simbol solidaritas dunia Muslim. Dari Indonesia sampai Maroko, jutaan orang turun ke jalan, mengibarkan bendera Palestina, dan mendoakan Gaza serta Yerusalem. Media sosial dipenuhi dukungan. Masjid-masjid mengumandangkan doa. Namun di tingkat negara, ceritanya berbeda.
Sebagian pemerintah memilih jalan diplomasi yang lunak. Sebagian menjalin normalisasi hubungan dengan Israel. Sebagian lagi sibuk dengan rivalitas regionalnya sendiri. Kepentingan politik dan ekonomi sering kali lebih dominan daripada komitmen moral. Di sinilah terlihat paradoksnya: solidaritas rakyat begitu kuat, tetapi kebijakan politiknya terpecah. Ramadan seharusnya melatih empati. Tapi empati tanpa keberanian politik hanya menjadi emosi sesaat.
Lapar yang Kita Pilih, Lapar yang Dipaksakan
Selama Ramadan, kita memilih untuk lapar. Kita tahu magrib akan datang. Kita tahu ada makanan yang menunggu. Kita tahu ini sementara. Di Gaza, lapar bukan pilihan. Ia bukan simbol spiritual. Ia adalah kenyataan harian akibat blokade, perang, dan kehancuran infrastruktur. Kontras ini seharusnya mengguncang nurani.
Jika puasa dimaksudkan untuk membuat kita merasakan penderitaan orang lain, maka Palestina adalah ujian terbesarnya. Apakah Ramadan hanya membuat kita lebih sabar secara pribadi? Atau juga lebih peduli secara politik?
Tauhid dan Keberanian Moral
Bagi Shariati, tauhid—keyakinan bahwa Tuhan itu satu—juga berarti tidak ada manusia yang pantas merasa paling tinggi. Tidak ada kekuasaan yang absolut. Tidak ada penindasan yang bisa dibenarkan. Artinya, melawan ketidakadilan bukan sekadar pilihan politik. Ia adalah konsekuensi iman. Namun dunia Muslim hari ini masih terjebak dalam persaingan kepentingan, konflik sektarian, dan perhitungan geopolitik. Energi moral Ramadan sering berhenti di ruang-ruang ibadah, tidak masuk ke ruang-ruang kebijakan. Kita disiplin menahan makan, tetapi belum tentu disiplin menahan diri dari ambisi kekuasaan.
Ramadan: Ritual atau Perubahan?
Ramadan bisa menjadi dua hal: sekadar rutinitas tahunan, atau titik balik kesadaran. Jika ia hanya menjadi ritual pribadi, maka dunia akan tetap sama setelah Idulfitri. Gaza tetap hancur. Politik tetap terpecah. Solidaritas tetap berhenti pada slogan.
Tetapi jika Ramadan benar-benar melahirkan kesadaran baru—kesadaran bahwa kita tidak boleh netral terhadap ketidakadilan—maka ia bisa menjadi kekuatan moral yang besar.
Solidaritas sejati tidak cukup dengan pernyataan resmi atau unggahan media sosial. Ia membutuhkan konsistensi kebijakan, kerja sama nyata antarnegara, dan keberanian mengambil posisi yang jelas.
Pertanyaan yang Harus Dijawab
Setiap hari selama Ramadan, kita merasakan lapar yang sama. Kita menunggu waktu berbuka dengan perasaan yang sama. Kita berdiri dalam saf salat yang sama, tanpa melihat jabatan atau kekayaan. Tetapi setelah sebulan itu berlalu, apakah kita kembali ke dunia yang penuh sekat dan kepentingan sempit? Palestina menguji apakah Ramadan hanya mengubah jadwal makan kita—atau juga mengubah keberanian kita. Mungkin pertanyaan paling penting Ramadan bagi dunia Muslim hari ini sederhana: Jika kita bisa bersatu dalam ibadah, mengapa kita masih terpecah dalam membela keadilan?