Amerika Tinjauan Dari Dalam 1 Desember 2018
-
Presiden Donald Trump dan Presiden Vladimir Putin.
Dinamika Amerika Serikat pekan lalu diwarnai sejumlah isu penting di antaranya temuan baru dalam kasus kolusi AS-Rusia pada pilpres AS, dukungan AS terhadap Ukraina dalam konflik dengan Rusia, Trump tidak percaya pada laporan pemerintah AS tentang perubahan iklim, dan Trump mengecam kesepakatan Brexit Inggris dengan Eropa.
Temuan Baru Soal Kolusi Trump dan Rusia dalam Pilpres
Pekan lalu, Presiden AS Donald Trump dalam sebuah tweet meminta agar penyelidikan tentang intervensi Rusia dalam pemilu presiden AS segera dihentikan. Dalam sebuah pesan di akun Twitter-nya, Trump menyebut penyelidikan atas campur tengan Rusia dalam pilpres AS sebagai upaya untuk menyesatkan publik dan menyebutnya "ilegal" yang harus segera diakhiri.
Tentu saja, ini bukan sebuah kebetulan jika Trump membuat tweet bersamaan dengan pengakuan Michael Cohen, mantan pengacara presiden AS itu. Cohen pada Kamis lalu tiba di sebuah pengadilan di New York tanpa pemberitahuan sebelumnya dan mengakui bahwa ia telah berbohong kepada Kongres selama penyelidikan atas kasus intervensi Rusia dalam pilpres.
Cohen mengakui bahwa ia telah menyesatkan anggota Kongres mengenai proyek pembangunan gedung pencakar langit di Moskow. Dengan pengakuan ini, sekarang Donald Trump Jr akan menghadapi masalah baru. Putra sulung Trump ini ketika memberi kesaksian pada September 2017 mengatakan tahu tentang rencana pembangunan tower di Moskow, tetapi mengaku tidak terlibat dalam proyek ini. Namun, Cohen mengatakan dia secara langsung melakukan konsultasi dengan para anggota keluarga Trump termasuk Trump Jr tentang program itu.
Ini adalah perkembangan terbaru penyelidikan tentang kolusi Trump dengan Rusia untuk mempengaruhi pilpres AS pada 2016. Tahun lalu, Michael Cohen menjawab pertanyaan Kongres dalam sebuah pertemuan tertutup. Waktu itu, dia mengaku tidak begitu terlibat dalam proyek Trump di Moskow. Sekarang Cohen mengaku telah memberi kesaksian palsu kepada Kongres demi membela Trump.
Gedung Putih pada Jumat kemarin mengatakan bahwa hubungan Rusia-Amerika kemungkinan akan rusak menyusul penyelidikan kasus kolusi tim kampanye Trump dengan Rusia selama pilpres 2016. Juru bicara Gedung Putih, Sarah Sanders mengatakan, "Sayangnya, penyelidikan ini akan memperlemah hubungan kita dengan Rusia."
Gedung Putih dan Kremlin membantah tudingan berkolusi dalam kampanye pilpres AS. Lawan-lawan Trump dari awal berharap bahwa dengan terbuktinya kerjasama Trump dan Rusia dalam pemilu, mereka mampu menurunkan presiden dari kekuasaannya untuk pertama kali dalam sejarah Amerika.
Para pejabat intelijen AS mengatakan Rusia terlibat campur tangan dalam pilpres AS dan membantu pemilihan Trump. Namun, Trump membantah adanya kolusi dengan Moskow. Rusia juga mengatakan bahwa pihaknya tidak campur tangan dalam pemilu AS.
AS Dukung Ukraina untuk Lawan Rusia
Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menekankan dukungan Washington kepada Kiev dalam menghadapi konflik terbaru dengan Rusia. "Pompeo dalam kontak telepon dengan Presiden Ukraina Petro Poroshenko pada Senin malam, menegaskan kembali dukungan AS untuk kedaulatan dan integritas Ukraina termasuk perairan teritorial," kata Departemen Luar Negeri AS dalam sebuah statemen.
Poroshenko menyambut dukungan AS dalam insiden di Selat Kerch dan menggarisbawahi pentingnya negara-negara Barat bersatu dalam menghadapi "agresi" Rusia.
Sebelumnya, Poroshenko mengatakan serangan Angkatan Laut Rusia dan penahanan kapal perang Ukraina di Laut Azov adalah peristiwa luar biasa, yang pertama semacam itu selama 4,5 tahun lalu. Menurutnya, ancaman invasi militer Rusia secara penuh di Ukraina tetap ada.
Pada Minggu lalu, kapal perang Berdyansk dan Nikopol Ukraina dan kapal tunda Yany Kapu melintasi perbatasan maritim Rusia. Menurut Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB), kapal-kapal itu berlayar menuju Selat Kerch, sebuah pintu masuk ke Laut Azov dan disita oleh Rusia setelah tidak merespon permintaan untuk berhenti.
Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova, memperingatkan negara-negara Barat yang berusaha memicu ketegangan antara Rusia dan Ukraina. "Mitra Barat kemungkinan sudah tahu tentang provokasi di Selat Kerch atau bahkan mengambil bagian dalam persiapannya. Ini adalah provokasi yang disengaja dan semua ini bukan kebetulan," ujarnya seperti dilansir media Sputnik, Kamis (29/11/2018).
Buntut dari peristiwa itu, Presiden AS Donald Trump secara mendadak membatalkan pertemuannya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada KTT G-20 di Buenos Aires, Argentina.
Trump membuat pengumuman di Twitter pada Kamis lalu, sekitar satu jam setelah dia mengatakan kepada wartawan bahwa pertemuan itu "mungkin" akan berjalan sesuai agenda. Dia menyalahkan Rusia atas pembatalan ini karena menolak melepaskan kapal Ukraina dan pelaut yang ditangkap selama konfrontasi maritim di Selat Kerch.
"Berdasarkan fakta bahwa kapal-kapal dan pelaut belum dikembalikan ke Ukraina dari Rusia, saya memutuskan bahwa akan lebih baik bagi semua pihak yang berkepentingan untuk membatalkan pertemuan saya yang dijadwalkan sebelumnya di Argentina dengan Presiden Vladimir Putin," tulis Trump di akunnya.
Trump tak Percaya Laporan Perubahan Iklim
Presiden AS Donald Trump menolak laporan pemerintahnya sendiri yang memperingatkan kerugian ekonomi besar-besaran dan korban manusia jika mengabaikan perubahan iklim.
Menurut laporan National Climate Assessment, perubahan iklim sudah mempengaruhi Amerika dan bisa merugikan negara ratusan miliar dolar setiap tahun jika tanpa adanya mitigasi global substansial dan berkelanjutan. Kebakaran hutan yang mematikan, angin topan dan gelombang panas adalah salah satu dampak berbahaya dari perubahan iklim di AS.
"Saya tidak percaya," kata Trump di Gedung Putih pada Senin lalu, menambahkan bahwa AS tidak akan mengambil langkah-langkah untuk mengurangi emisi karbon jika negara-negara lain tidak melakukan itu.
Trump yang menyebut perubahan iklim sebagai "tipuan Cina", mengatakan dia telah membaca beberapa laporan dan itu "baik." Namun, ia menolak peringatan National Climate Assessment. "Tidak, tidak, saya tidak percaya," ulangnya.
National Climate Assessment dalam laporannya memperingatkan bahwa tanpa upaya mitigasi global dan adaptasi regional yang substansial dan berkelanjutan, perubahan iklim diperkirakan akan menyebabkan kerugian yang meningkat terhadap infrastruktur dan properti Amerika serta menghambat laju pertumbuhan ekonomi selama abad ini.
Trump Kecam Kesepakatan Brexit Inggris dan Uni Eropa
Presiden AS Donald Trump mengecam kesepakatan Brexit yang dicapai baru-baru ini antara pemerintah Inggris dan Uni Eropa, dan menganggap kesepakatan itu menguntungkan Uni Eropa. "Kedengarannya seperti baik untuk Uni Eropa," kata Trump berbicara kepada wartawan di luar Gedung Putih pada Senin lalu.
"Karena, Anda tahu, sekarang jika Anda melihat transaksi, mereka (Inggris) mungkin tidak dapat berdagang dengan kami dan itu tidak akan menjadi hal yang baik," tambahnya.
Trump sejak awal mendukung penarikan Inggris dari Uni Eropa. Namun, dia menyuarakan keprihatinan dalam komentar sebelumnya bahwa rencana Brexit "lunak" Inggris dapat menghalangi kedua negara untuk mengembangkan kesepakatan perdagangan bilateral yang lebih komprehensif yang bebas dari pembatasan Eropa.
Komentar ini muncul setelah para pemimpin Uni Eropa menyetujui kesepakatan tentang penarikan Inggris dari blok itu pada Minggu lalu, dan menggambarkan kesepakatan Brexit sebagai solusi terbaik dan satu-satunya yang mungkin.
Para pejabat Eropa memperingatkan bahwa renegosiasi bukanlah pilihan, bahkan jika Parlemen Inggris menolak rencana yang diusulkan. (RM)