Transformasi Timur Tengah, 22 Juni 2019
-
Ilustrasi kejahatan Arab Saudi di Yaman.
Transformasi Timur Tengah sepekan terakhir diwarnai oleh sejumlah isu penting di antaranya pernyataan Hamas tentang konferensi yang digelar AS di Bahrain. Yaman bangkit melawan agresi Arab Saudi.
Isu lainnya mengenai kesimpulan tim pakar PBB yang menyebut Saudi terlibat dalam pembunuhan Khashoggi. Selain itu, jumlah hulu ledak nuklir Israel dilaporkan terus bertambah.
Hamas: Konferensi Bahrain untuk Melayani Israel
Juru bicara Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) mengatakan, konferensi ekonomi Bahrain untuk melayani kepentingan rezim Zionis Israel dan mendorong rezim ini meningkatkan kejahatannya terhadap bangsa Palestina.
Seperti dilaporkan Pusat Informasi Palestina, Rabu (19/6/2019), Hazim Qassim dalam statemennya menyeru seluruh pihak khususnya negara-negara Arab untuk memboikot konferensi Bahrain yang ditujukan untuk menghapus isu Palestina.
Hamas ini juga meminta Liga Arab untuk melarang seluruh anggotanya hadir di konferensi Bahrain.
Selasa lalu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengklaim bahwa penyelenggaraan konferensi Manama merupakan hasil dari upaya Amerika Serikat untuk memulihkan kondisi regional.
Sementara itu, Nabil Abu Rudeineh, juru bicara Otorita Ramallah dalam sebuah pernyataan mengatakan semua konspirasi terhadap bangsa Palistana pasti gagal dan menegaskan, perundingan tanpa kehadiran Palestina baik itu di Bahrain atau di manapun saja pasti akan gagal.
AS dan Bahrain mengumumkan bahwa konferensi ekonomi – sebagai langkah pertama pelaksanaan Kesepakatan Abad – akan digelar pada 25-26 Juni di Manama.
Prakarsa AS, Kesepakatan Abad akan menolak kepulangan pengungsi Palestina ke tanah airnya, menempatkan mereka di negara lain, memberikan legalitas hukum ke pemukiman Zionis dan mengirim pesan kepada setiap orang Palestina bahwa kalian tidak akan pernah memiliki negara dan hak untuk menentukan nasib sendiri.
Yaman Bangkit Lawan Agresi Arab Saudi
Wakil Menteri Informasi Yaman, Nasruddin Amer mengatakan, jika Uni Emirat Arab (UEA) tidak menghentikan dukungan atas kelompok-kelompok teroris, maka bandara dan pelabuhan negara itu akan menjadi sasaran berikutnya unit drone dan rudal militer Yaman.
Nasruddin Amer, Selasa (18/6/2019) kepada Fars News menjelaskan tentang serangan drone militer dan komite rakyat Yaman ke bandara Abha di selatan Arab Saudi. Dia menuturkan, bandara dan pelabuhan-pelabuhan UEA dapat menjadi target berikutnya militer Yaman.
"Pasukan perlawanan Yaman yang memiliki semua opsi dalam menghadapi negara-negara agresor, berhasil merusak perimbangan kekuatan musuh," ujarnya.
Militer dan komite rakyat Yaman pada Kamis (20/6/2019) dini hari menembakkan sebuah rudal jelajah ke pusat pembangkit tenaga listrik al-Shuqaiq di Jizan, selatan Arab Saudi.
Juru bicara militer Yaman mengatakan, rudal yang ditembakkan itu mengenai sasaran, dan serangan ini dilakukan untuk membalas kejahatan koalisi Saudi di Yaman. Brigadir Jenderal Yahya Saree menambahkan, rakyat Yaman memiliki rencana khusus untuk menyerang instalasi-instalasi vital Saudi.
"Masih ada kejutan besar yang datang, Insya Allah, di mana kami akan menargetkan posisi yang lebih vital di Saudi jika mereka terus meningkatkan agresi," tegasnya.
Serangan Yaman terhadap fasilitas dan infrastruktur utama Saudi telah meningkat dalam beberapa pekan terakhir.
PBB: Saudi Terlibat Pembunuhan Khashoggi
Seorang pakar independen PBB mengatakan, ada bukti kredibel yang menunjukkan Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman dan pejabat senior Saudi lainnya bertanggung jawab atas pembunuhan jurnalis senior, Jamal Khashoggi, Oktober lalu.
"Ini adalah kesimpulan dari Pelapor Khusus bahwa Khashoggi telah menjadi korban dari eksekusi yang disengaja dan direncanakan sebelumnya, pembunuhan di luar hukum di mana Arab Saudi bertanggung jawab berdasarkan hukum hak asasi manusia internasional," kata pelapor khusus PBB, Agnes Callamard pada Rabu (19/6/2019) setelah melakukan penyelidikan enam bulan.
"Ada bukti kredibel yang menjamin penyelidikan lebih lanjut atas tanggung jawab individu pejabat tinggi Saudi, termasuk putra mahkota," tambahnya. Callamard mendesak Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres untuk membentuk tim investigasi internasional.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Arab Saudi menyebut laporan PBB terkait kasus pembunuhan Khashoggi, penuh dengan tuduhan tidak berdasar. Adel al-Jubeir mengatakan, "Kami dengan tegas menolak segala upaya untuk menyentuh kepemimpinan Kerajaan Saudi, mendorong kasus ini keluar dari jalur keadilan di Saudi, atau mempengaruhinya dalam bentuk apapun."
Menurut al Jubeir, laporan Agnes Callamard mengandung kontradiksi yang jelas dan tuduhan tidak berdasar yang menyerang kredibilitas Saudi.
Para pejabat Saudi awalnya membantah pembunuhan Khashoggi di gedung konsulat mereka di Istanbul, dengan mengatakan ia telah meninggalkan tempat itu. Riyadh mengubah narasinya beberapa kali sebelum kemudian mengakui Khashoggi dibunuh.
Jumlah Hulu Ledak Nuklir Israel Bertambah
Pusat Penelitian Perdamaian Internasional Stockholm (SIPRI) mengatakan bahwa rezim Zionis Israel diyakini memiliki antara 80-90 hulu ledak nuklir. SIPRI, seperti dilaporkan laman Rai al-Youm, Kamis (20/6/2019) meminta negara-negara dunia untuk segera bertindak mengurangi jumlah hulu ledak nuklir.
Menurut lembaga itu, rezim Zionis belum mengubah kebijakan tentang penambahan hulu ledak nuklir dan terus menambah jumlah senjata dan rudal nuklirnya.
Sejak awal 2019, Amerika Serikat, Rusia, Inggris, Prancis, Cina, India, Pakistan, Israel, dan Korea Utara memiliki sebanyak 13.865 hulu ledak nuklir. Rezim Zionis tidak mengomentari persenjataan nuklirnya dan menolak bergabung ke dalam Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT).
SIPRI mengatakan Israel telah memodifikasi armada kapal selam kelas Dolphin buatan Jerman untuk membawa rudal jelajah peluncur nuklir. Rezim Zionis memiliki 30 bom gravitasi yang dapat ditembakkan dari jet tempur dan beberapa di antaranya diyakini berhulu ledak nuklir.
Israel tidak pernah mengizinkan inspeksi ke fasilitas nuklirnya dan menentang seruan internasional untuk bergabung dengan NPT, yang bertujuan untuk mencegah penyebaran senjata nuklir.
Rezim ini memiliki sejarah panjang agresi, pendudukan, militerisme dan terorisme negara dan berada dalam perang abadi dengan negara-negara lain di Timur Tengah. (RM)