Dinamika Asia Tenggara, 28 September 2019
https://parstoday.ir/id/news/other-i74178-dinamika_asia_tenggara_28_september_2019
Dinamika Asia Tenggara sepekan terakhir menyoroti sejumlah isu di antaranya pernyataan wapres Indonesia di sidang Majelis Umum PBB yang menekankan penghormatan terhadap kedaulatan negara.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Sep 28, 2019 13:25 Asia/Jakarta
  • PM Malaysia berpidato di sidang Majelis Umum PBB
    PM Malaysia berpidato di sidang Majelis Umum PBB

Dinamika Asia Tenggara sepekan terakhir menyoroti sejumlah isu di antaranya pernyataan wapres Indonesia di sidang Majelis Umum PBB yang menekankan penghormatan terhadap kedaulatan negara.

Selain itu, masalah asap karhutla yang menjadi perhatian UNICEF, pernyataan PM Malaysia mengenai Israel yang menginjak-injak aturan internasional, dan kepolisian Malaysia menangkap 12 WNI terduga teroris.

 

Wapres RI, Jusuf Kalla

Wapres Indonesia: Hormati Kedaulatan Negara !

Wakil Presiden Jusuf Kalla menekankan penghormatan kedaulatan negara saat berpidato dalam sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat, pada Jumat 27/9).

JK menegaskan bahwa Indonesia akan selalu menghormati prinsip kedaulatan negara lain, sejalan dengan kebijakan politik luar negeri bangsa selama ini.

Di saat yang sama, Indonesia juga mengharapkan negara lain menghormati kedaulatan dan integritas teritorial Indonesia.

JK tak menjabarkan lebih lanjut. Namun sebelumnya, JK pernah mengakui ada keterlibatan pihak asing dalam kerusuhan di sejumlah wilayah di Papua.

Ia kemudian menyebut sejumlah indikasi keterlibatan pihak asing, salah satunya empat warga Australia yang dideportasi lantaran mengikuti unjuk rasa orang asli Papua (OAP) untuk menuntut kemerdekaan Papua.

Imigrasi Sorong berdalih empat orang tersebut ditipu warga lokal yang mengatakan bahwa kerusuhan itu merupakan festival budaya.

Selain itu, lanjut JK, ada pula aktivis Papua Merdeka Benny Wenda yang diduga terlibat dalam sejumlah kerusuhan di Papua.

 

masalah asap karhutla

UNICEF: Polusi Karhutla Bahayakan kehidupan 10 Juta Anak

Badan Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa, UNICEF memperingatkan dampak negatif polusi akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia yang membahayakan kehidupan 10 juta anak.

"Kualitas udara buruk merupakan tantangan bagi Indonesia," ujar wakil Badan Anak PBB (UNICEF) untuk Indonesia, Debora Comini dilansir CNN Indonesia.

"Setiap tahun, jutaan anak menghirup udara beracun yang mengancam kesehatan hingga mereka terpaksa bolos sekolah, menyebabkan kerusakan fisik dan kognitif mereka" tegasnya.

Menurut Comini, hampir 10 juta anak di bawah usia 18 tahun tinggal di kawasan yang paling rawan terkena dampak karhutla di Sumatera dan Kalimantan. Mereka di rentang usia tersebut sangat rentan karena perkembangan sistem imun mereka belum sempurna.

Sementara itu, anak dari ibu yang terpapar polusi selama masa kehamilan juga berpotensi lahir dengan berat badan kurang dan prematur.

Tak hanya itu, kabut asap akibat karhutla juga memaksa sekolah-sekolah di kawasan terkena dampak tutup sehingga siswa tak bisa melanjutkan proses belajar.

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari Indonesia dan Malaysia tidak hanya menimbulkan masalah bagi kedua negara, tapi sudah menjadi masalah bagi negara asia tenggara lainnya.

Dilaporkan, kondisi mulai berangsung membaik dan pekan ini, pemerintah Malaysia sudah kembali membuka sebagian sekolah di negara jiran ini.

Indonesia pun terus berupaya memadamkan api di Sumatera dan Kalimantan. Kepolisian juga telah menetapkan 296 orang sebagai tersangka dalam peristiwa karhutla. Selain itu, sembilan korporasi telah ditetapkan sebagai tersangka.

 

 

PM Malaysia

PM Malaysia: Israel Cemooh Aturan Internasional

Perdana Menteri Malaysia, Jumat (27/9/2019) di Sidang Majelis Umum PBB ke-74 mengecam kejahatan dan pendudukan rezim Zionis Israel di Palestina. Menurutnya, Israel telah mengolok-olok seluruh aturan internasional.

PM Malaysia, Mahathir Mohamad menuturkan, penjajahan Israel di Al Quds dan pembangunan distrik Zionis di tanah Palestina, tidak bisa dibiarkan.

PM Malaysia juga menyinggung pembantaian warga Muslim Rohingya di Myanmar dan mengatakan, umat Islam Myanmar dibunuh di depan mata masyarakat internasional.

PBB baru-baru ini mengumumkan, militer Myanmar telah melakukan genosida dan pembersihan etnis Muslim Rohingya di negara itu.

 

Mahathir Mohamad

PM Malaysia Pertanyakan Validitas Jumlah Korban Holocaust

Perdana Menteri Malaysia dalam pidatonya di Universitas Columbia, Amerika Serikat, Rabu (25/9/2019) mempertanyakan kebenaran jumlah korban tewas dalam peristiwa Holocaust.

PM Malaysia, Mahathir Mohamad menuturkan, baiklah saya tidak mempertanyakan jumlah korban tewas Holocaust, tapi saya tanya siapa yang menentukan jumlah ini ? jumlah itu akan berbeda di tangan pendukung atau penentang Holocaust.

Sejumlah penelitian menunjukkan, sekitar sepertiga warga dewasa Amerika Serikat percaya jumlah korban tewas dalam peristiwa Holocaust, jauh lebih kecil dari yang dipublikasikan.

Penelitian yang dilakukan sebuah pusat riset atas permintaan The Conference on Jewish Material Claims Against Germany atau Claims Conference menunjukkan, sekitar 70 persen warga dewasa Amerika meyakini bahwa tidak ada seorangpun yang terlalu peduli dengan Holocaust sekarang.

Berdasarkan hasil penelitian itu, 11 persen warga dewasa Amerika dan 22 persen remaja, diragukan pernah mendengar istilah Holocaust.

Sementara itu, 31 persen warga dewasa dan 41 persen remaja Amerika, percaya jumlah korban Holocaust terlalu dibesar-besarkan.

Rezim Zionis Israel mengklaim bahwa Partai Nazi pimpinan Adolf Hitler di Jerman di masa Perang Dunia II melakukan pembantaian terhadap 6 juta Yahudi.

 

Polisi Malaysia

Malaysia Tangkap 12 WNI Terduga Teroris

Kepolisian Malaysia dilaporkan menahan 12 warga negara Indonesia (WNI) yang diduga merupakan militan kelompok teror ISIS.

Kepala kepolisian anti-terorisme Malaysia, Ayob Khan, mengatakan bahwa kedua belas WNI itu ditangkap dalam beberapa operasi di Sabah, Selangor, Serawak, Penang, Pahang, dan Kuala Lumpur antara 10 Juli hingga 25 September lalu.

Serangkaian penangkapan ini bermula pada 10 Juli lalu, saat aparat Malaysia menahan satu WNI berusia 25 tahun di Keningau, Sabah.

Menurut Ayub, WNI tersebut sudah bekerja sebagai buruh di Malaysia selama dua atau tiga tahun belakangan.

Tak hanya WNI, tiga warga Malaysia dan satu perempuan India India juga ditahan dalam rangkaian penangkapan di sejumlah negara bagian ini.

Salah satu warga Malaysia yang ditangkap diduga sudah merencanakan serangan terhadap sejumlah politikus dan kelompok non-Muslim di Negeri Jiran.

Dua warga Malaysia lainnya dibekuk di Sabah karena menyebarkan propaganda ISIS dan mengatur pergerakan para pelaku bom bunuh diri.

Sementara itu, satu perempuan India ditahan pada 2 Agustus lalu atas tuduhan menggalang dana untuk satu kelompok teror. Namun, ia langsung dideportasi ke India tak lama setelah ditangkap. (PH)