Amerika Tinjauan dari Dalam, 11 April 2020
-
Angka pengangguran meningkat tajam di Amerika di tengah pandemi Corona.
Dinamika Amerika Serikat selama beberapa hari terakhir diwarnai berbagai isu di antaranya puluhan juta warga Amerika kehilangan pekerjaannya akibat wabah virus Corona.
Selain itu, mayoritas warga Amerika mengaku kecewa dengan kinerja Trump dalam menangani Corona, WHO menjawab kritikan Trump terhadap kinerja badan PBB itu, dan Pentagon mengirimkan bantuan medis untuk pasukan Israel.
16,8 Juta Warga AS Kehilangan Pekerjaan Akibat Corona
Surat kabar Los Angeles Times melaporkan bahwa hampir 17 juta warga Amerika telah mengajukan tunjangan pengangguran dalam tiga pekan terakhir akibat terkena dampak dari pandemi Corona. Ini adalah lonjakan PHK yang tercepat dalam sejarah Amerika.
Para ekonom mengatakan gelombang PHK akibat pandemi Corona pada bulan April akan menjadi 15 persen atau bahkan lebih tinggi. Ini menandai pukulan ekonomi seperti tsunami yang tidak terlihat sejak Depresi Besar tahun 1930-an, ketika 1 dari 4 pekerja menganggur.
Presiden Donald Trump telah berbicara tentang pembukaan kembali ekonomi Amerika dalam waktu dekat di tengah penyebaran cepat wabah Corona di negara itu. Dia berniat melonggarkan kebijakan pembatasan sosial yang memungkinkan kegiatan bisnis dibuka kembali demi menggairahkan ekonomi Amerika.
Selain penyebaran virus yang meningkat, kebijakan PHK akan menyebabkan banyak pekerja terputus hubungan dengan bos mereka, meskipun sebagian besar berstatus pemberhentian sementara.
Para pakar memperingatkan bahwa pencabutan pembatasan yang terlalu dini dapat memperpanjang pandemi dan memicu gelombang infeksi kedua. Virus ini dapat menyebar kembali ke daerah yang telah pulih dan menginfeksi orang-orang yang tidak terpapar pada gelombang pertama. Skenario seperti itu pada akhirnya akan kembali menghancurkan ekonomi Amerika.
Sejumlah ekonom Amerika menyarankan pemberian bantuan yang lebih besar dan tahan lama kepada mereka yang kehilangan pekerjaannya.
Pada Jumat kemarin, AS menjadi negara pertama yang mencatat lebih dari 2.000 kematian akibat virus Corona dalam satu hari. Menurut data Universitas Johns Hopkins, AS mencatat 2.108 kematian dalam 24 jam terakhir.
Negara bagian New York, pusat pandemi COVID-19 di AS, bersama dengan tetangganya New Jersey dan Connecticut, mencatat penyebaran terburuk di wilayah mereka, bahkan ketika otoritas kesehatan publik menyatakan optimisme bahwa laju infeksi sepertinya telah melambat.
Mayoritas Warga AS Kecewa dengan Kinerja Trump Tangani Corona
Dukungan untuk respon Presiden Donald Trump terhadap pandemi Corona, telah merosot dalam sebulan terakhir. Mayoritas warga Amerika sekarang menyatakan tidak setuju dengan kinerja Trump dalam menangani wabah virus Corona.
Menurut survei yang dirilis oleh ABC News/Ipsos pada hari Jumat (10/4/2020), sekitar 55 persen responden tidak menyetujui manajemen krisis kesehatan masyarakat, sementara hanya 44 persen menyetujuinya.
Survei menemukan bahwa dukungan untuk penanganan COVID-19 oleh Trump telah turun tajam dari tingkat yang ia capai pada pertengahan Maret lalu, di mana 55 persen orang Amerika menyetujui responnya terhadap pandemi Corona dan 43 persen menyatakan tidak setuju.
Sementara itu, jajak pendapat yang dilakukan Reuters/Ipsos minggu ini menemukan bahwa dukungan terhadap kinerja Trump dalam menangani pandemi Corona telah merosot menjadi 42 persen, turun dari 48 persen pada pekan sebelumnya.
Kekhawatiran atas wabah Corona dan ekonomi AS yang anjlok telah menurunkan dukungan kepada Trump dan ini bisa memperkecil peluangnya untuk terpilih kembali dalam pemilu presiden AS pada November 2020.
Beberapa rekan dan penasihat Trump di Partai Republik dilaporkan prihatin dengan konferensi pers harian presiden tentang pandemi. Menurut mereka, Trump menggunakan momen itu untuk menyebarkan kebohongan dan informasi yang salah tentang responnya terhadap pandemi Corona.
Trump menghadapi banyak kritik karena mengecilkan wabah Corona di tahap awal. Dia mengatakan sejak awal bahwa virus ini terkendali dan berulang kali membandingkannya dengan flu musiman di Amerika.
WHO: Trump Ingin Cetak Poin Politik Lewat Virus Corona
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menanggapi kritikan Presiden AS Donald Trump atas upaya organisasi itu dalam menangani wabah virus Corona. Menurut mereka, Trump telah mempolitisasi virus tersebut.
Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyampaikan hal itu setelah Trump mengkritik kinerja badan PBB itu dan mengancam akan menghentikan bantuan dana AS untuk organisasi tersebut.
“Tolong jangan mempolitisir virus ini. Jika Anda ingin memiliki lebih banyak kantong mayat, maka silahkan Anda melakukannya. Jika Anda tidak ingin banyak lagi kantong mayat, maka berhentilah mempolitisirnya. Pesan singkat saya adalah, Mohon karantina politisasi Covid. Persatuan negara Anda akan sangat penting untuk mengalahkan virus berbahaya ini," tegas Tedros dalam konferensi pers di Jenewa, Swiss.
Tedros menyerukan persatuan dan penghentian "politisasi" krisis kesehatan global, serta mendesak Amerika untuk menunjukkan "kepemimpinan yang jujur."
Sekjen PBB Antonio Guterres juga mengatakan, bukan waktunya untuk mengkritik tanggapan awal terhadap wabah tersebut. “Sekarang adalah waktu untuk bersatu, komunitas internasional harus bekerja bersama dalam solidaritas untuk menghentikan virus ini dan konsekuensinya yang menghancurkan," kata Guterres dalam sebuah pernyataan.
Pentagon Kirim Bantuan Medis untuk Pasukan Israel
Di tengah kelangkaan akut peralatan medis di Amerika Serikat, Departemen Pertahanan negara itu justru mengirim satu pesawat yang mengangkut lebih dari 1 juta masker bedah untuk pasukan rezim Zionis Israel.
Surat kabar al-Quds al-Arabi, (8/4/2020) melaporkan, media Israel mengklaim sebuah pesawat yang mengangkut lebih dari satu juta masker bedah milik Pentagon dikirim ke wilayah pendudukan, untuk membantu tentara Israel.
Menurut The Jerusalem Post, puluhan ribu sarung tangan, masker dan alat pelindung diri (APD) dikirim ke Israel melalui udara. Kabar ini spontan memicu kemarahan warga Amerika di tengah tingginya angka kematian akibat Covid-19 di negara itu, dan kelangkaan alat medis.
Menanggapi reaksi warga Amerika, The Jerusalem Post kemudian menghapus berita tersebut dan mengubah judulnya menjadi "Israel membawa satu juta masker dari Cina untuk Israel Defense Forces (IDF).” (RM)