Iran Aktualita, 26 September 2020
https://parstoday.ir/id/news/other-i85616-iran_aktualita_26_september_2020
Dinamika di Republik Islam Iran selama sepekan terakhir diwarnai sejumlah isu penting seperti, peringatan agresi rezim Baath Irak ke Iran (Pekan Pertahanan Suci), dan Presiden Iran menyampaikan pidato secara virtual pada sidang tahunan Majelis Umum PBB.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Sep 26, 2020 13:52 Asia/Jakarta
  • Pameran Alutsista di Pekan Pertahanan Suci di Tehran.
    Pameran Alutsista di Pekan Pertahanan Suci di Tehran.

Dinamika di Republik Islam Iran selama sepekan terakhir diwarnai sejumlah isu penting seperti, peringatan agresi rezim Baath Irak ke Iran (Pekan Pertahanan Suci), dan Presiden Iran menyampaikan pidato secara virtual pada sidang tahunan Majelis Umum PBB.

Isu lain dari Iran berkenaan dengan protes Tehran terhadap standar ganda Eropa dalam masalah HAM, dan terakhir kunjungan Menlu Iran ke Rusia.

Peringatan Pekan Pertahanan Suci

Tanggal 31 Shahrivar atau 21 September setiap tahun diperingati sebagai Pekan Pertahanan Suci yang menandai dimulainya serangan rezim Saddam ke Iran pada 21 September 1980.    

Perang yang dipaksakan rezim Saddam terhadap Iran terjadi atas restu Amerika Serikat dan bertujuan untuk menggulingkan sistem Republik Islam Iran yang masih belia. AS dan sekutunya mendukung agresi Saddam selama delapan tahun, tetapi mereka gagal mencapai tujuannya.

Era sulit itu meninggalkan nilai-nilai abadi yang sekarang menjadi penyokong kuat bagi bangsa Iran dalam menghadapi konspirasi dan permusuhan musuh. Oleh karena itu, sangat penting untuk melestarikan nilai-nila era pertahanan suci dari berbagai aspek heroisme, militer, persatuan nasional, pengenalan musuh, dan semangat juang dalam menghadapi tekanan dan konspirasi musuh.

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei dalam pidatonya pada 21 September 2020, menyinggung kemenangan brilian bangsa Iran dalam menghadapi serangan musuh. Rahbar juga menjelaskan urgensi perang pertahanan suci dengan menjabarkan fakta dan poin pentingnya.

"Tujuan utama musuh mengobarkan perang adalah menumbangkan pemerintahan Islam, menguasai kembali Iran, dan memecah belah negara ini, namun mereka gagal menduduki wilayah Iran walaupun hanya sejengkal tanah, serta tidak mampu memaksa Republik Islam dan bangsa Iran mundur walaupun hanya selangkah," tegas Ayatullah Khamenei.

Ayatullah Khamenei mengingatkan bagian dari sejarah politik Iran dan kekalahan yang menimpa Iran dalam perang dua abad terakhir, yaitu di era Qajar dan Pahlavi, dan bagian utara dan selatan negara itu yang  didominasi oleh agresor.

Beliau menekankan pentingnya titik balik sejarah Iran yang ditunjukkan dalam perang pertahanan suci, sebab dalam perang yang dipaksakan tersebut, Iran berhasil mengatasi ujian berat dan mampu melawan kekuatan adidaya Timur dan Barat yang berada di belakang Saddam.

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei.

Rouhani: Standar Ganda AS Ancam Keamanan Global

Sidang Majelis Umum PBB tahun ini diadakan melalui konferensi video karena wabah global penyakit Covid-19. Sidang kali ini menjadi kesempatan untuk mengungkapkan keprihatinan tentang isu-isu global.

Presiden Republik Islam Iran Hassan Rouhani, pada Selasa (22/09/2020) malam waktu Tehran, dalam konferensi video yang disiarkan di Sidang Tahunan ke-75 Sidang Umum PBB, menyatakan Amerika Serikat tidak dapat memaksakan negosiasi atau perang terhadap negara lain, dan kini sudah saatnya dunia menolak segala bentuk pemaksaan dan penindasan. “Era dominasi dan hegemoni telah berakhir,” tegasnya.

"Dua kali penolakan Dewan Keamanan terhadap AS yang berupaya menggunakan instrumen ilegalnya terhadap institusi internasional ini dan resolusi 2231, menunjukkan kemenangan bukan hanya bagi Iran, tetapi juga bagi transisi sistem internasional di dunia pasca-Barat, ketika rezim hegemonik [AS] tenggelam dalam isolasi yang dibuatnya sendiri," ujar Presiden Iran dalam pidatonya itu.

"Hidup sulit dengan sanksi, tapi lebih sulit lagi hidup tanpa kemerdekaan," pungkas Rouhani.

Di bagian lain pidatonya, Presiden Iran menyinggung dampak kebijakan tekanan maksimum AS terhadap Iran yang menargetkan mata pencaharian, kesehatan, bahkan hak hidup rakyat Iran.

"Mereka sendiri dengan kaki tangannya menyulut berbagai perang, pendudukan dan agresi di Palestina, Afghanistan dan Yaman, juga Suriah, Irak, Lebanon, Libya, Sudan dan Somalia. Tetapi ironisnya mengklaim Iran sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap  kekalahan  fatalnya," papar Rouhani.

Rouhani dalam pertemuan tingkat tinggi Majelis Umum PBB Selasa malam juga menjelaskan rekam jejak brilian Iran Islam sebagai poros perdamaian dan stabilitas di kawasan, terutama dalam perang melawan terorisme.

Presiden Hassan Rouhani.

Iran Memprotes Standar Ganda Eropa dalam Masalah HAM

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh mengatakan kebijakan politis dan langkah selektif yang dilakukan AS dan sebagian negara Eropa selalu memberikan pukulan yang paling besar terhadap prinsip-prinsip hak asasi manusia.

Khatibzadeh dalam sebuah pernyataan hari Rabu (23/9/2020) menolak laporan yang diterbitkan oleh surat kabar The Guardian Inggris. Menurutnya, ini laporan pesanan untuk mencoreng situasi penegakan HAM di Republik Islam Iran dan ini jelas sekali terlihat dalam situasi sekarang.

The Guardian dalam laporannya, menyatakan pemerintah Prancis, Jerman, dan Inggris akan memanggil duta besar Iran untuk memprotes penangkapan orang-orang berkewarganegaraan ganda oleh Tehran.

"Pendekatan, statemen, dan tindakan beberapa negara Eropa merupakan campur tangan dalam urusan internal Republik Islam," tegas Khatibzadeh.

Dia menambahkan sangat aneh dan tidak dapat dipercaya bahwa negara-negara tersebut bukan hanya tidak memprotes pelanggaran hak-hak bangsa Iran oleh AS dan sanksi kejam negara itu, tetapi mereka malah ikut terlibat di dalamnya dengan tidak berbuat apapun.

Menlu Iran (kiri) dan Menlu Rusia dalam pertemuan di Moskow.

Kunjungan Menlu Iran ke Rusia

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengatakan, Rusia dan Cina memainkan peran strategis dalam melawan pelanggaran hukum yang dilakukan Amerika Serikat.

Hal itu disampaikan pada Rabu (23/9/2020) malam setelah ia mendarat di Moskow, Rusia, seperti dikutip laman Farsnews.

"Terkait perjanjian nuklir, pemerintah Rusia dan perwakilan mereka di PBB bersama dengan Cina mengambil sikap yang paling bagus di Dewan Keamanan dalam beberapa bulan terakhir. Mereka memainkan peran strategis dalam melawan pelanggaran hukum oleh AS," ungkap Zarif.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov, mengatakan negaranya tidak akan mengikuti ajakan Amerika Serikat untuk memutuskan hubungan kerja sama dengan Iran.

"Moskow dan Tehran berniat memperluas kerja sama perdagangan bilateral meskipun ada sanksi dari Washington," tegas Lavrov. Dia menambahkan bahwa Moskow dan Tehran juga menolak tegas upaya Washington untuk memberlakukan embargo senjata tanpa batas terhadap Iran. (RM)