Hanya Berkata Jujur Itu Tidak Cukup: Etika Berbicara dalam Al-Qur'an
-
Ucapan yang baik
Pars Today - Al-Qur'an tidak hanya menilai benar atau salahnya suatu ucapan; nada, rasa hormat, kelembutan, pengaruh, dan bahkan waktu serta cara penyampaian juga merupakan bagian dari etika berbicara dalam pandangan Al-Qur'an.
Melansir Pars Today, Selasa, 01 September 2026, banyak peristiwa penting dalam hidup kita dimulai dengan beberapa kata. Sebuah kalimat dapat menenangkan seseorang, menghancurkan hati seseorang, menghilangkan kesalahpahaman, atau bahkan mengubah perselisihan sederhana menjadi pertengkaran yang berkepanjangan. Karena itu, tidak mengherankan bahwa Al-Qur'an berbicara dengan sangat rinci tentang berbicara.
Yang menarik adalah bahwa Al-Qur'an tidak hanya mengatakan "jangan berbohong" atau "berbicaralah dengan baik". Untuk berbagai bentuk ucapan, ia memiliki ungkapan yang terpisah, seolah-olah ingin mengatakan bahwa berbicara dengan benar bukan hanya memiliki satu karakteristik.
Misalnya, ia berbicara tentang "qaulan sadidan", ucapan yang benar, kuat, dan terukur. Ucapan yang tidak terburu-buru atau emosional. Ungkapan ini mungkin memiliki makna yang lebih besar hari ini, di zaman di mana orang mendengar sesuatu dengan sangat cepat dan langsung membagikannya.
Di tempat lain, ia berbicara tentang "qaulan ma'rufan", ucapan yang pantas dan terpuji. Di sini, bukan hanya kebenaran ucapan yang penting, tetapi cara mengatakannya juga penting. Terkadang, perkataan kita mungkin benar, tetapi kita mengatakannya dengan nada yang merendahkan orang lain. Al-Qur'an tampaknya tidak menganggap itu sebagai ucapan yang baik.
Ungkapan "qaulan kariman" bahkan melangkah lebih jauh, berbicara dengan orang dengan cara yang mulia dan penuh hormat. Ungkapan ini menunjukkan bahwa rasa hormat bukan hanya perilaku lahiriah, tetapi juga harus terlihat dalam bahasa seseorang.
Salah satu ungkapan yang paling menarik adalah "qaulan layyinan", ucapan yang lembut. Poin pentingnya adalah bahwa kelembutan dalam berbicara tidak berarti meninggalkan pendirian atau menunjukkan kelemahan. Seseorang dapat menjadi lawan, mengkritik, dan bahkan berbicara dengan serius, tetapi tetap tidak bersikap kasar atau merendahkan.
"Qaulan maisuran" adalah ungkapan lain, ucapan yang mudah, menenangkan, dan menyenangkan. Kadang-kadang, kita benar-benar tidak dapat menyelesaikan masalah seseorang, tetapi kita dapat berbicara dengan cara yang setidaknya tidak menambah rasa sakit mereka.
Al-Qur'an juga berbicara tentang "qaulan balighan", ucapan yang jelas dan berpengaruh. Jadi, dalam pandangan Al-Qur'an, ucapan yang baik bukan hanya ucapan yang benar; ia juga harus disampaikan dengan benar. Mungkin karena itulah kita juga menemukan ungkapan seperti "allati hiya ahsan" (yang terbaik) dan "qulu li al-nasi husnan" (katakanlah kepada manusia dengan baik), artinya, jika ada ucapan yang akan disampaikan, lebih baik disampaikan dengan cara yang terbaik.
Di sisi lain, Al-Qur'an juga memiliki berbagai kata untuk ucapan yang salah.
"Qawl al-zur" merujuk pada ucapan yang salah dan bohong. "Al-ifk" lebih dekat dengan kebohongan yang membalikkan kebenaran. "Buhtan" adalah fitnah yang mengaitkan sesuatu dengan seseorang yang tidak benar.
Namun tidak semua kesalahan bahasa dalam Al-Qur'an terbatas pada kebohongan. "Ghibah" (menggunjing) adalah contoh penting. Mungkin apa yang dikatakan tentang seseorang itu benar, tetapi mengatakannya di belakang mereka tetap salah. Ini adalah poin penting: tidak semua yang benar layak untuk dikatakan.
"Hamz" dan "lamz" terkait dengan mencari-cari kesalahan, sindiran, dan penghinaan, hal-hal yang terkadang tampak sangat biasa; sebuah sindiran, lelucon, kalimat pendek. Tetapi hal-hal ini dapat menargetkan kepribadian seseorang.
"Sukhriyah" berarti mengejek orang lain, dan "tanabuz bi al-alqab" berarti memanggil orang dengan julukan yang merendahkan mereka. Al-Qur'an juga memperingatkan tentang percakapan rahasia yang dilakukan untuk dosa, permusuhan, atau menyakiti orang lain, dan berbicara tentang "al-najwa bi al-ithm wa al-udwan" (bisikan untuk dosa dan permusuhan).
Jika kita menggabungkan semua ungkapan ini, satu hal menjadi jelas: dalam pandangan Al-Qur'an, bahasa bukan hanya alat untuk berbicara; itu adalah bagian dari akhlak seseorang.
Apa yang kita katakan itu penting, tetapi bagaimana kita mengatakannya juga tidak kalah pentingnya. Bahkan tentang siapa kita berbicara, dalam situasi apa, dan dengan tujuan apa, itu semua penting.
Mungkin karena itulah, kadang-kadang, sebelum mengucapkan sebuah kalimat, jeda beberapa detik saja sudah cukup. Apakah perkataan ini benar? Apakah perlu diucapkan? Dan jika perlu, tidak bisakah kita mengatakannya dengan sedikit lebih baik?
"Bahasa adalah bagian dari akhlak. Kebenaran saja tidak cukup; nada, rasa hormat, kelembutan, dan pengaruh semuanya penting. Al-Qur'an mengajarkan bahwa kita harus mempertimbangkan dengan cermat apa yang kita katakan, bagaimana kita mengatakannya, kepada siapa, dan dalam situasi apa. Kadang-kadang, jeda singkat sebelum berbicara dapat membuat perbedaan besar."