Empat Alasan Israel Sabot Perundingan Wina
-
Perundingan Wina
Selama beberapa hari terakhir beberapa kali muncul berita mengenai upaya rezim Zionis Israel menyabotase proses perundingan Wina antara Republik Islam Iran dan Kelompok 4+1.
Negosiator senior Iran, Ali Bagheri Kani secara transparan menyatakan, "Rezim Zionis Israel berusaha merusak atmosfer di luar ruang perundingan dan mempengaruhi suasana di dalam ruang perundingan."
Pertanyaannya adalah mengapa Israel berusaha merusak atmosfer perundingan Wina dan mencegah tercapainya negosiasi ini ?
Alasan pertama adalah bahwa Israel telah melakukan upaya besar dalam beberapa tahun terakhir untuk menggagalkan kesepakatan nuklir. Israel telah memainkan peran kunci di keluarnya mantan pemerintahan AS dari kesepakatan nuklir dengan Iran (JCPOA). Jadi, hari ini, kebangkitan JCPOA adalah kegagalan bagi kebijakan luar negeri rezim Israel.
Alasan kedua terkait bentuk hubungan antara Israel dan Republik Islam Iran. Republik Islam Iran tidak pernah mengakui rezim Israel dan menganggapnya sebagai aktor tidak sah dan rezim palsu di kawasan. Bagheri Kani dalam sebuah statemennya terkait intervensi Israel perundingan Wina menggunakan istilah "Identitas Ilegal" bagi Tel Aviv dan mengatakan, "Identitas ilegal yang berada di luar ruang perundingan berusaha untuk memperkeruh dan menghancurkan ruang di luar ruang perundingan."
Oleh karena itu, rezim Zionis menganggap Republik Islam Iran sebagai musuh yang paling penting dan pada saat yang sama, menemukan dirinya tidak mampu menghadapi Republik Islam. Oleh karena itu, diyakini bahwa semakin banyak tekanan global terhadap Iran, maka kepentingan rezim ini akan semakin terjamin.
Alasan ketiga adalah kekhawatiran rezim Israel tentang Iran menjadi teladan bagi negara-negara di kawasan. Pejabat Zionis, yang menghadapi berbagai krisis di dalam wilayah pendudukan, percaya bahwa mengurangi tekanan asing pada Republik Islam Iran, terutama kemungkinan menjual minyak dan mentransfer mata uang, dapat mengarah pada pembangunan ekonomi Iran. Di sisi lain, selama 43 tahun terakhir, Republik Islam Iran selalu menekankan independensi dalam kebijakan luar negeri, menentang intervensi kekuatan asing dalam urusan regional, dan penguatan poros perlawanan terhadap rezim Zionis.
Jika Iran dapat mencapai pembangunan ekonomi, itu dapat menjadi model bagi bangsa-bangsa di kawasan bahwa pembangunan dan kemajuan dapat dicapai tanpa ketergantungan dan dengan identitas Islam. Ini adalah masalah yang bertentangan dengan kepentingan rezim Zionis. "Pemerintahan Bennett sangat menentang pencabutan sanksi AS terhadap Iran dan menganggapnya sebagai langkah buruk," tulis Israel Hayom.
Alasan keempat adalah bahwa rezim Zionis percaya bahwa mengurangi tekanan global terhadap Iran juga dapat mempengaruhi posisi regional Iran. Dengan kata lain, Israel percaya bahwa sementara Iran, melalui tekanan habis-habisan, telah berhasil meningkatkan posisi regionalnya dan sekutunya, mengurangi tekanan global terhadap Iran akan sangat memperkuat posisi Tehran di kawasan Asia Barat karena kekhawatiran domestik Iran berkurang.
“Ketakutan nyata Israel terhadap kesepakatan AS dengan Iran adalah karena hal itu dapat menyebabkan penarikan AS dari Timur Tengah dan penguatan posisi regional Iran,” lapor Jerusalem Post. Dengan kata lain, Israel melihat cara untuk mencegah ketidakseimbangan kekuatan di kawasan yang menguntungkan Iran dengan kehadiran Amerika Serikat di kawasan dan berlanjutnya tekanan global terhadap Iran.
Mengingat alasan tersebut di atas, harus dikatakan bahwa Israel bukan pemain di meja perundingan Wina, tapi pemain rahasia terpenting dengan esensi destruktif di perundingan ini yang secara transparan mendukung kegagalan perundingan Wina. (MF)