Serial Kejahatan Perang Saudi di Yaman
Arab Saudi melanjutkan serangan udaranya ke berbagai wilayah Yaman yang menimbulkan banyak korban sipil dan merusak infrastruktur penting negara Arab ini. Dukungan finansial Riyadh kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah membuat lembaga dunia ini tidak bisa berbuat banyak untuk menindak kejahatan Saudi, bahkan rezim Al Saud menganggap dirinya berhak atas perang Yaman.
Menyusul meningkatnya berbagai kritikan PBB terhadap Arab Saudi terkait serangan udara militer negara ini ke rumah sakit, pusat medis, sekolah dan kawasan penduduk Yaman, rezim Al Saud kembali mengancam akan memutus bantuan finansial senilai jutaan dolar kepada lembaga internasional itu.
Arab Saudi mengkritik keras PBB yang mengungkapkan kekhawatiran atas kelanjutan pemboman rumah sakit, sekolah dan kawasan penduduk Yaman. Alessandra Vellucci, Direktur Informasi PBB mengatakan, lebih dari 70 pusat medis dan rumah sakit di Yaman termasuk tiga pusat organisasi Dokter Tanpa Batas (MSF) mengalami kerusakan parah akibat pemboman jet-jet tempur Arab Saudi. Tiga pusat MSF tersebut merupakan tempat penyimpanan peralatan medis.
Pesawat-pesawat tempur Arab Saudi sejak Sabtu pekan lalu telah tiga kali membombardir fasilitas publik dan pemukiman penduduk di Yaman. Pada Senin, 15 Agustus 2016, sebuah rumah sakit di kota Abs di Provinsi Hajjah, barat laut Yaman menjadi target serangan jet-jet tempur Arab Saudi. Serangan brutal ini menewaskan 15 orang dan melukai sedikitnya 19 lainnya.
Pada Selasa, 16 Agustus 2016, militer Arab Saudi menyerang sebuah rumah sakit di Yaman dan menewaskan sembilan warga sipil. Dua hari sebelumnya, pesawat tempur pasukan agresor juga membombardir sebuah sekolah hafalan al-Quran di Provinsi Saada, utara Yaman. Serangan ini merenggut nyawa 13 siswa dan melukai 18 lainnya.
Pada dasarnya, PBB menganggap serius soal kejahatan perang Arab Saudi di Yaman dan pelanggaran Riyadh terhadap hak-hak rakyat tak berdosa di negara ini, namun dukungan finansial Arab Saudi kepada PBB telah membuat lembaga internasional ini tidak bisa berkutik.
Pengabaian Riyadh terhadap hak anak-anak dan warga sipil di masa perang telah menyebabkan PBB memasukkan Arab Saudi ke dalam daftar hitam pelanggar hak anak-anak, namun ancaman negara Arab ini untuk memutus bantuan finansialnya kepada PBB telah mengubah keputusan yang telah lama dinanti-nanti opini publik dunia itu. Akhirnya, PBB yang dianggap sebagai pendukung perdamaian dan keamanan dunia mencabut keputusannya untuk memasukkan Arab Saudi ke dalam daftar hitam pelanggar hak anak-anak.
Ban Ki-Moon, Sekretaris Jenderal PBB pada tanggal 6 Juni 2016 menghapus sementara nama koalisi pimpinan Arab Saudi dari daftar hitam pelanggar hak anak-anak sampai selesainya penyelidikan bersama antara PBB dan Arab Saudi terkait masalah tersebut. Meskipun sepakat untuk melakukan penyelidikan bersama, namun faktanya Arab Saudi menolak untuk melakukan penyelidikan itu dan hingga sekarang melanjutkkan serangan militernya ke Yaman.
Kebungkaman penuh arti dan pendekatan PBB terhadap Arab Saudi tidak akan menghasilkan apapun kecuali meningkatnya pembunuhan terhadap rakyat Yaman. Foto para korban kejahatan dan pembunuhan di Yaman oleh militer rezim Al Saud menjadi dokumen kuat untuk mengadili Arab Saudi.
Foto-foto memilukan para korban serangan udara militer Arab Saudi di Yaman disaksikan oleh masyarakat internasional ketika berbagai lembaga dunia, Hak Asasi Manusia dan yang terpenting adalah hati nurani manusia telah menyerukan semua pemerintah dan kelompok untuk melindungi nyawa warga sipil dan infrastruktur non-militer di masa perang dan konflik bersenjata. Namun rezim Al Saudi justru melakukan sebaliknya. Rezim ini tidak mengenal batas dalam perang di Yaman. Tindakan ini disebabkan sikap pasif lembaga-lembaga internasional.
Kelanjutan pembunuhan terhadap warga sipil Yaman dan penghancuran infrastruktur penting negara ini seperti rumah sakit, pusat medis dan sekolah merupakan dampak dari "sopan-santun" Ban kepada Arab Saudi sebagai "balas budi" atas dukungan finansial Riyadh kepada PBB. (RA)