Hizbullah Yakin akan Menang dalam Setiap Perang Melawan Israel
Sekretaris Jenderal Gerakan Muqawama Islam Lebanon (Hizbullah) mengatakan, jika terjadi perang baru terhadap Lebanon, maka Hizbullah akan memenangkan perang ini.
Sayid Hassan Nasrullah mengatakan hal itu dalam wawancara dengan jaringan televisi al-Manar, Jumat (19/8/2016) petang seperti dilnasir Mehr News.
Sekjen Hizbullah mengatakan, kemenangan Hizbullah dalam perang 33 hari tahun 2006 bukan sebuah peristiwa biasa, padahal volume serangan rezim Zionis Israel dalam perang ini lebih besar ketimbang semua perang dengan pihak-pihak Arab dan semua ini juga dilakukan dengan dukungan pihak-pihak internasional dan regional serta dengan satu tujuan, yaitu menghancurkan Muqawama.
"Jika perang baru terhadap Lebanon terjadi kembali, kami yakin Muqawama (Hizbullah) akan menang," tegasnya.
Sayid Nasrullah menjelaskan, di antara pengakuan terpenting rezim Zionis adalah jika kami ingin mengalahkan Hizbullah maka tidak mungkin dilakukan melalui perang dan konfrontasi langsung, dan perang dengan Iran juga tidak ada gunanya, oleh karena itu mereka berusaha mengeluarkan Suriah dari poros perlawanan.
Sekjen Hizbullah lebih lanjut menuturkan, tujuan negara-negara Arab mengungkapkan ketertarikan ke Suriah pasca perang 33 hari adalah ingin mengeluarkan negara ini dari poros perlawanan.
Peristiwa yang sedang terjadi di Suriah saat ini, kata Sayid Nasrullah, adalah semacam balas dendam disebabkan perang 33 hari dan ini merupakan kelanjutan dari perang tersebut.
"Tujuan perang 33 hari adalah untuk menghancurkan perlawanan di Lebanon, Suriah dan Palestina serta pada akhirnya mengisolasi Republik Islam Iran," imbuhnya.
Menurut Sayid Nasrullah, perang 33 hari berdampak luas terhadap rezim Zionis, oleh karena itu pasca perang tersebut, diputuskan untuk mengeluarkan Suriah dari poros perlawanan, sebab negara ini merupakan pendukung terbesar untuk Muqawama sehingga dengan memukul Suriah, maka mereka berharap bisa mengalahkan Hizbullah.
"Yang dipersoalkan musuh-musuh Suriah terhadap Bashar al-Assad, Presiden negara ini adalah dia tidak bersedia untuk menerima Timur Tengah baru yang bermakna kehadiran para penguasa dan pejabat yang tunduk dan menyerah kepada Amerika Serikat," jelasnya.
Di bagian lain pernyatannya Sekjen Hizbullah menyinggung kelompok-kelompok teroris Takfiri dan pihak-pihak yang sejalan dengan kebijakan rezim Zionis.
Sayid Nasrullah menuturkan, pihak-pihak Arab dan kelompok-kelompok teroris Takfiri memainkan peran sebagai pendukung rezim Zionis. (RA)