Bagaimana Hizbullah Mengatasi Tank Merkava dalam Perang 2006?
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i183656-bagaimana_hizbullah_mengatasi_tank_merkava_dalam_perang_2006
Pars Today - Dalam perang 2006, gerakan Hizbullah Lebanon mampu menargetkan kelemahan tank Merkava dengan menggunakan taktik asimetris dan penggunaan rudal anti-tank canggih secara ekstensif, menunjukkan bahwa bahkan tank Israel yang paling canggih pun rentan terhadap ancaman modern.
(last modified 2026-01-05T09:26:13+00:00 )
Jan 05, 2026 16:24 Asia/Jakarta
  • Bangkai Tank Merkava
    Bangkai Tank Merkava

Pars Today - Dalam perang 2006, gerakan Hizbullah Lebanon mampu menargetkan kelemahan tank Merkava dengan menggunakan taktik asimetris dan penggunaan rudal anti-tank canggih secara ekstensif, menunjukkan bahwa bahkan tank Israel yang paling canggih pun rentan terhadap ancaman modern.

Perang 33 Hari pada musim panas 2006 antara rezim Zionis Israel dan Hizbullah Lebanon merupakan salah satu ujian lapangan terpenting bagi tank Merkava. Tentara Israel memasuki medan perang dengan ratusan tank Merkava, termasuk model Mark 2, Mark 3, dan Mark 4 terbaru.

Tank-tank ini dikenal sebagai simbol superioritas lapis baja rezim Israel dan diharapkan memiliki keunggulan yang menentukan atas pasukan gerilya Hizbullah. Namun, kenyataan di medan perang menunjukkan bahwa situasinya berbeda. Dengan mengandalkan jaringan parit, terowongan, dan posisi tersembunyi yang kompleks, Hizbullah mampu menerapkan taktik anti-tank yang efektif.

Faktor kunci keberhasilan Hizbullah adalah penggunaan rudal anti-tank modern Rusia dan Iran secara ekstensif. Hizbullah menembakkan lebih dari 1.000 rudal anti-tank ke tank dan bahkan infanteri selama pertempuran. Sekitar 45 persen tank dan kendaraan lapis baja yang menjadi sasaran rudal anti-tank berpemandu mengalami penetrasi lapis baja.

Secara total, 15 awak tank tewas akibat penetrasi ini. Penetrasi ini sebagian besar dilakukan oleh rudal yang dilengkapi dengan hulu ledak dua tahap (tandem). Senjata Hizbullah termasuk RPG-29 Vampire Rusia, rudal anti-tank AT-5 Concourse, AT-13 Metis-M, dan rudal berpemandu laser AT-14 Kornet, serta rudal anti-tank Toophan Iran (versi rekayasa balik dari TOW). RPG-29 mampu melumpuhkan lapisan pelindung reaktif canggih Merkava Mark 4.

Rudal-rudal ini, dengan daya tembus lapis baja yang tinggi, terutama digunakan terhadap sisi dan bagian belakang tank Merkava. Lapis baja depan Merkava sangat tahan dan sulit ditembus, tetapi Hizbullah, menyadari kekuatan ini, memfokuskan serangannya pada bagian yang lebih rentan.

Sebanyak 50 tank Merkava (terutama Mark 2 dan 3) menjadi sasaran, dengan delapan tank yang masih dapat digunakan di medan perang. Sekitar 20 tank Merkava rusak parah, dan lima tank Merkava (dua Merkava Mark 2, satu Merkava Mark 3, dan dua Merkava Mark 4) hancur total.

Faktor lain adalah taktik gerilya Hizbullah yang fleksibel. Pasukan kelompok tersebut akan menembak dari posisi tersembunyi, seringkali di bunker atau terowongan bawah tanah di desa-desa dan daerah pegunungan, dan kemudian segera bergerak. Metode ini menyulitkan tank Israel untuk dengan mudah mengidentifikasi dan menghancurkan titik tembak.

Selain itu, Hizbullah juga menggunakan ranjau berat dan bom pinggir jalan, yang dalam beberapa kasus menghancurkan tank sepenuhnya. Dua dari kehancuran Merkava disebabkan oleh bom yang sangat kuat yang bahkan melumpuhkan lapisan pelindung canggih tank itu.

Dari perspektif militer, perang 2006 menunjukkan bahwa keunggulan teknologi tidak selalu menjamin kemenangan. Hizbullah, dengan menggabungkan teknologi yang relatif murah tapi efektif dengan taktik asimetris, mampu mengejutkan tentara Israel.

Kelemahan Merkava terhadap rudal anti-tank modern terungkap, dan rezim Israel terpaksa menambahkan sistem perlindungan aktif seperti Trophy pada tank-tanknya setelah perang untuk menangkis ancaman serupa. Pengalaman ini juga menunjukkan bahwa dalam pertempuran tidak teratur, tank akan rentan tanpa dukungan udara dan infanteri yang efektif.

Pada akhirnya, kinerja Hizbullah dalam perang 2006 tidak hanya memberikan pukulan besar terhadap klaim Israel tentang kemampuan Merkava, tetapi juga mengirimkan pesan penting kepada tentara di seluruh dunia, bahkan tank tercanggih pun tidak kebal terhadap taktik cerdas dan senjata anti-tank modern.

Perang ini merupakan titik balik dalam sejarah peperangan lapis baja dan menyebabkan rezim Israel serta negara-negara lain mempertimbangkan kembali doktrin lapis baja mereka secara serius. Meskipun rezim Israel masih mengklaim bahwa Merkava adalah tank yang ampuh, pengalaman Lebanon membuktikan bahwa tidak ada sistem yang tak terkalahkan dan bahwa keberhasilan di medan perang lebih bergantung pada kombinasi teknologi, taktik, dan kondisi lingkungan.(sl)