Dari Gurun Pasir ke Kamp Kematian: Wajah Sejati Kolonialisme Jerman
https://parstoday.ir/id/news/world-i184666-dari_gurun_pasir_ke_kamp_kematian_wajah_sejati_kolonialisme_jerman
Pars Today – Laporan‑laporan sejarah dan dokumen yang dipublikasikan dari masa kolonialisme Jerman di Namibia mengungkap salah satu kejahatan paling mengerikan dan terorganisasi pada abad ke‑20; sebuah tragedi di mana ribuan orang dari suku Herero dan Nama tewas akibat kebijakan rasis, pengusiran paksa, kehausan, kelaparan, dan kerja paksa.
(last modified 2026-02-20T14:57:18+00:00 )
Jan 26, 2026 19:38 Asia/Jakarta
  • Riwayat kolonialisme Jerman di Afrika
    Riwayat kolonialisme Jerman di Afrika

Pars Today – Laporan‑laporan sejarah dan dokumen yang dipublikasikan dari masa kolonialisme Jerman di Namibia mengungkap salah satu kejahatan paling mengerikan dan terorganisasi pada abad ke‑20; sebuah tragedi di mana ribuan orang dari suku Herero dan Nama tewas akibat kebijakan rasis, pengusiran paksa, kehausan, kelaparan, dan kerja paksa.

Peristiwa yang terjadi di Namibia antara tahun 1904 hingga 1908 bukan sekadar sebuah operasi militer, melainkan sebuah program terencana untuk memusnahkan dua kelompok etnis pribumi dan mengambil alih seluruh wilayah mereka. Program ini kini dikenal sebagai genosida pertama abad ke‑20. Laporan ini menyajikan kisah faktual tentang wajah sebenarnya kolonialisme Jerman dan dimensi‑dimensi tragedi sejarah yang selama ini jarang diungkap.

 

Kinerja kolonialisme Jerman di Namibia merupakan salah satu bab paling kelam dan penuh kekerasan dalam sejarah Afrika, sekaligus contoh nyata dari hakikat sejati kolonialisme Eropa—sebuah sistem yang dibangun di atas perampasan, rasisme, dan pemusnahan bangsa‑bangsa pribumi. Sejak tahun 1884, Jerman menjadikan Namibia sebagai koloni bernama “Afrika Barat Daya Jerman”, dan memandangnya bukan sekadar sebagai pos dagang, melainkan sebagai koloni pemukim. Pandangan ini berarti perampasan total tanah, ternak, dan sumber air milik penduduk asli, serta mengubah mereka menjadi tenaga kerja tanpa hak.

 

Para pemukim Jerman, dengan dukungan militer, menyita tanah‑tanah subur milik masyarakat pribumi, memberlakukan pajak berat, dan melemahkan struktur kepemimpinan tradisional suku Herero dan Nama. Proses ini, disertai meningkatnya kekerasan para pemukim, mendorong masyarakat pribumi ke ambang kehancuran dan akhirnya memicu pemberontakan tahun 1904.

 

Pemberontakan suku Herero pada Januari 1904, dan kemudian bergabungnya suku Nama, merupakan reaksi alami terhadap puluhan tahun penindasan dan perampasan. Namun respons Jerman bukanlah sekadar penumpasan terbatas, melainkan pelaksanaan sebuah program terencana untuk memusnahkan dua kelompok etnis tersebut secara fisik. Jenderal Lothar von Trotha, komandan pasukan kolonial, setelah diangkat, mengeluarkan perintah terkenal bernama “perintah pemusnahan”; sebuah instruksi yang secara eksplisit menyatakan bahwa setiap orang Herero yang ditemukan di wilayah kekuasaan Jerman—tanpa memandang usia atau jenis kelamin—harus dibunuh. Perintah ini merupakan salah satu dokumen paling jelas tentang genosida dalam sejarah modern dan menunjukkan bahwa tujuan Jerman bukan menghentikan pemberontakan, melainkan melenyapkan sebuah bangsa.

 

Para penyintas yang berhasil melarikan diri dari gurun atau menyerah, dipindahkan ke kamp‑kamp kerja paksa; kamp‑kamp seperti Pulau Shark dan Lüderitz yang kemudian oleh para peneliti digambarkan sebagai “prototipe awal kamp‑kamp kematian abad ke‑20”. Di kamp‑kamp tersebut, para tahanan dipaksa bekerja berjam‑jam dalam kondisi yang sangat berat—mulai dari memecah batu, membangun jalur kereta api, hingga mengangkut beban berat di bawah terik panas yang ekstrem. Kekurangan gizi, penyakit menular, pemukulan, penyiksaan, dan kerja berlebihan merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari mereka. Tingkat kematian di kamp‑kamp ini mencapai 30 hingga 50 persen, dan banyak tahanan yang meninggal dalam waktu singkat. Pulau Shark, karena tidak memiliki air tawar dan kondisi yang tidak manusiawi, dikenal sebagai “Pulau Kematian”, sementara Lüderitz menjadi salah satu pusat kerja paksa paling mematikan akibat kelaparan dan penyakit.

 

Dimensi kejahatan ini tidak terbatas pada pembunuhan langsung. Kedalaman tragedi tampak ketika Jerman memindahkan sebagian jenazah para korban ke Eropa untuk digunakan dalam eksperimen rasis dan proyek yang disebut “antropologi ras ilmiah”. Tengkorak dan tulang para korban digunakan di universitas dan lembaga penelitian Jerman untuk “membuktikan superioritas ras Eropa”—sebuah tindakan yang menunjukkan betapa eratnya hubungan antara kolonialisme, rasisme, dan penyalahgunaan ilmu pengetahuan.

 

Secara keseluruhan, sekitar 80 persen populasi suku Herero dan lebih dari 50 persen suku Nama dibunuh antara tahun 1904 hingga 1908. Genosida ini merupakan salah satu contoh pertama pembersihan etnis terorganisasi pada abad ke‑20, dan banyak peneliti menganggapnya sebagai pendahulu bagi kekerasan yang lebih luas yang dilakukan Jerman pada dekade‑dekade berikutnya. Dampak kejahatan ini masih terlihat di Namibia hingga kini—mulai dari ketimpangan kepemilikan tanah, kemiskinan struktural, hingga luka psikologis dan budaya yang diwariskan selama beberapa generasi.

 

Pasukan Jerman mengepung wilayah‑wilayah pemukiman dan menggiring orang‑orang Herero menuju Gurun Omaheke—sebuah kawasan kering tanpa sumber air yang berubah menjadi medan kematian. Tentara Jerman menutup sumur dan jalur‑jalur air sehingga tidak seorang pun dapat mengakses air. Ribuan orang, termasuk perempuan, anak‑anak, dan lansia, tewas dalam hari‑hari dan minggu‑minggu pertama akibat kehausan, kelaparan, dan sengatan panas. Tindakan ini merupakan salah satu taktik paling kejam dalam sejarah pembersihan etnis pada masa kolonial.

 

Genosida terhadap suku Herero dan Nama merupakan bukti yang mengguncang tentang hakikat sejati kolonialisme Eropa; sebuah pengingat bahwa kolonialisme, dalam bentuk apa pun dan pada masa apa pun, tidak pernah menjadi apa pun selain penghancuran sistematis terhadap manusia dan alam. (MF)