Al-Bassa 1938. Ketika Inggris Bakar Desa Palestina
-
Desa Al-Bassa yang dibakar tentara Inggris
ParsToday - Fajar 7 September 1938, ketika matahari terbit dari balik perbukitan Al-Jalil, desa Al-Bassa berbau mesiu dan asap. Tentara Inggris dengan senyum puas membakar rumah-rumah satu per satu, dan jeritan perempuan yang anak-anaknya lenyap di dalam kobaran api menghilang di langit Palestina yang acuh tak acuh.
Al-Bassa, di barat laut Palestina, berubah menjadi neraka di bumi pada 7 September. Dua hari sebelumnya, sebuah ranjau darat merenggut nyawa dua tentara Inggris di jalan, dan para komandan di markas mereka sedang merancang "pelajaran berharga" yang akan abadi dalam ingatan Palestina.
Melaporkan dari ParsToday, Sabtu, 14 Februari 2026, saat fajar 7 September, kendaraan lapis baja Hussars ke-11 muncul dari cakrawala.
Selama dua puluh menit, peluru-peluru senapan mesin menghujani rumah-rumah tanah liat desa. Penduduk yang terbangun dari tidur dihujani tembakan di lorong-lorong. Namun, yang lebih mengerikan dari peluru adalah tungku api yang dibawa tentara yang turun dari kendaraan. Mereka mendobrak pintu dan membakar rumah-rumah. Dalam beberapa kasus, perempuan dan anak-anak masih berada di dalam rumah. Suara ledakan amunisi bercampur dengan jeritan manusia yang terbakar.
Desmond Woods, perwira Resimen Ulster, bertahun-tahun kemudian dalam memoarnya menggambarkan adegan itu sebagai berikut: "Aku tak akan pernah melupakan hari itu. Kami tiba di Al-Bassa dan melihat kendaraan lapis baja menembaki desa dengan senapan mesin. Berlangsung dua puluh menit. Lalu kami masuk dan membakar rumah-rumah dengan tungku api. Desa itu rata dengan tanah."
Namun, tragedi tak berhenti pada api. Tentara mengeluarkan sekitar 50 pria desa dari rumah-rumah mereka dan menggiring mereka ke dalam sebuah bus. Mereka mengarahkan bus ke jalan yang belum dibersihkan dari ranjau, melindas ranjau, dan meledakkannya. Mereka yang melompat keluar sebelum ledakan ditembaki. Penduduk yang tersisa dipaksa, di bawah todongan senjata, mengubur jenazah dalam kuburan massal.
Statistik resmi mencatat 20 korban jiwa, tetapi para penyintas mengatakan setengah dari desa, antara 50 hingga 100 orang, dibantai hari itu. Empat penyintas juga dibawa ke kamp militer dan disiksa di depan mata kerabat mereka.
Komandan resimen, ketika dipanggil menghadap Jenderal Montgomery, dengan tenang mengatakan bahwa dia telah memperingatkan para kepala desa bahwa jika perwiranya terbunuh, dia akan melakukan "tindakan hukuman". Jawab sang jenderal: "Baiklah, tapi lain kali berjalanlah sedikit lebih lambat."
Di Al-Bassa, tak ada yang tersisa untuk berjalan lebih lambat. Al-Bassa menjadi abu hari itu, dan hingga kini, tak pernah dibangun kembali. Tak ada penyelidikan, tak ada permintaan maaf. Satu-satunya yang tersisa adalah kenangan akan api dan asap yang dibawa tentara Inggris ke tanah ini.(sl)