Tepi Barat: Medan Perang Palestina vs Lengan Kejam Tentara Pendudukan
-
Permukiman Zionis di Tepi Barat
Pars Today - Seorang pakar Palestina menyatakan bahwa peristiwa terbaru di Tepi Barat yang diduduki merupakan "pertempuran terbuka" antara rakyat Palestina dengan pemukim Zionis yang secara praktis telah menjadi lengan kejam tentara pendudukan.
Melansir IRNA, 3 Juni 2026, Mahmoud al-Saifi mengatakan kepada kantor berita Palestina Shehab bahwa tujuan pemukim Zionis adalah menindas warga Palestina dan memaksa mereka mengungsi serta meninggalkan tanah mereka. Serangan pemukim tidak lagi bersifat insidental, melainkan terorganisir, dan setiap hari menargetkan petani serta rumah-rumah penduduk.
Ia merujuk pada serangan besar-besaran terbaru di desa Madma, selatan Nablus, yang mengakibatkan delapan warga Palestina terluka dan dilarikan ke Rumah Sakit Rufidia.
Al-Saifi menambahkan bahwa di sana, tentara pendudukan mendukung pemukim dengan menyatakan tanah-tanah tersebut sebagai "kawasan militer tertutup", sehingga mencegah akses warga Palestina ke lahan mereka dan merampas sumber penghasilan utama ribuan keluarga di musim panen zaitun.
Pakar Palestina yang meneliti perluasan permukiman ini mengungkapkan angka-angka yang tercatat dalam laporan Palestina dan internasional sejak awal tahun 2026, yang mengonfirmasi pengungsian paksa lebih dari 350 keluarga Palestina dari komunitas dan desa mereka akibat terorisme pemukim dan militer.
Data Kunci: Perlawanan dan Migrasi Terbalik
Al-Saifi menegaskan bahwa program penjajah untuk menarik satu juta pemukim baru telah gagal, dan karena keteguhan perlawanan, situasinya berbalik arah. Statistik saat ini menunjukkan migrasi terbalik yang luas: lebih dari 280 keluarga pemukim telah meninggalkan kawasan tersebut secara permanen. Selain itu, ribuan lainnya ingin pergi karena merasa tidak aman dan keyakinan bahwa kehadiran mereka hanya sementara, sementara tanah memiliki pemilik yang sah.
Pakar Palestina ini menegaskan bahwa pandangan warga Palestina saat ini sangat berbeda dengan masa Nakba 1948. Rakyat memahami rencana besar ini, berpegang teguh pada tanah mereka, dan menolak mengulangi skenario pengungsian. Mereka tetap teguh di tanah mereka meski menghadapi kebijakan pembakaran rumah, pencurian, dan genosida yang diterapkan oleh para pemimpin pendudukan seperti Smotrich dan Ben-Gvir (menteri-menteri ekstremis kabinet rezim Zionis).
Smotrich, Menteri Keuangan rezim Israel, baru-baru ini menyerukan pembubaran Otoritas Palestina dan aneksasi seluruh Tepi Barat yang diduduki.
Fakta dan Angka: Permukiman Ilegal di Tepi Barat
Rezim Zionis selain menyerbu harian Tepi Barat dan menangkap warga Palestina, juga melanjutkan kebijakan permukiman.
Berdasarkan statistik yang dirilis lembaga-lembaga Palestina menjelang Hari Bumi pada 30 Maret (10 Farvardin), terdapat total 542 permukiman dan pos Israel di seluruh Tepi Barat, yang terdiri dari 192 permukiman dan 350 pos. Menurut statistik ini, lebih dari 165 pos didirikan setelah Oktober 2023, dan 59 pos hanya pada tahun 2025, dengan lebih dari 780.000 pemukim Zionis tinggal di kawasan tersebut.
Sejak dimulainya perang Gaza, Tepi Barat juga menyaksikan peningkatan serangan pemukim yang didukung tentara Israel, terutama di kawasan pedesaan yang berdekatan dengan permukiman dan pos-pos mereka.
Laporan ini menyoroti bagaimana perlawanan Palestina tidak hanya bertahan, tapi juga membalikkan arah migrasi pemukim, sebuah fenomena yang jarang dibicarakan media arus utama.(Sail)