Gaza, Tiga Tahun Setelah Genosida dan Kehancuran
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i198514-gaza_tiga_tahun_setelah_genosida_dan_kehancuran
Pars Today - Steve Bloomfield, mantan redaktur bagian internasional surat kabar The Observer, dalam sebuah laporan di surat kabar The Guardian dengan menyatakan bahwa perang genosida rezim Zionis terhadap Jalur Gaza yang dimulai sejak Oktober 2023 tidak hanya mengubah Gaza, melainkan juga secara mendalam mengubah struktur politik dan keamanan Asia Barat serta posisi Barat di dunia, menegaskan, "Gaza masih menjadi saksi hidup akibat tiga tahun perang, kehancuran, dan genosida."
(last modified 2026-10-13T04:18:12+00:00 )
Okt 13, 2026 11:10 Asia/Jakarta
  • Gaza
    Gaza

Pars Today - Steve Bloomfield, mantan redaktur bagian internasional surat kabar The Observer, dalam sebuah laporan di surat kabar The Guardian dengan menyatakan bahwa perang genosida rezim Zionis terhadap Jalur Gaza yang dimulai sejak Oktober 2023 tidak hanya mengubah Gaza, melainkan juga secara mendalam mengubah struktur politik dan keamanan Asia Barat serta posisi Barat di dunia, menegaskan, "Gaza masih menjadi saksi hidup akibat tiga tahun perang, kehancuran, dan genosida."

Menurut laporan IRNA, Selasa, 13 Oktober 2026, Bloomfield dalam laporan ini menulis, "Bagi Gaza, Israel, Asia Barat, dan seluruh dunia, ada satu dunia sebelum 7 Oktober dan dunia lain yang terbentuk setelahnya."

Menurutnya, tiga tahun setelah dimulainya perang dan satu tahun setelah kesepakatan yang disebut gencatan senjata, dimensi perubahan ini tidak lagi dapat diabaikan.

Penulis ini dengan menyebut citra satelit dan pembaruan peta Google menegaskan bahwa perbandingan citra Gaza sebelum dan sesudah perang menyingkap luasnya kehancuran. Kota-kota yang berubah menjadi tumpukan puing, masjid dan rumah sakit yang tidak lagi berbekas, serta pesisir yang kini tertutup tenda-tenda pengungsi.

Bloomfield menggambarkan kondisi ini sebagai wajah upaya pemusnahan sebuah bangsa dan menulis bahwa perang telah mengubah Gaza maupun rezim Zionis secara fundamental.

Menurut tulisannya, "Benjamin Netanyahu sebelum 7 Oktober telah memantapkan semacam rasa aman dan imunitas dalam masyarakat Israel, tetapi operasi Badai Al-Aqsa menghancurkan anggapan itu."

Bloomfield selanjutnya menambahkan bahwa konsekuensi operasi 7 Oktober dan respons militer biadab rezim Zionis yang berujung pada tewasnya puluhan ribu warga Palestina, termasuk banyak anak, telah melampaui perbatasan Gaza dan memengaruhi seluruh kawasan.

Ia menulis bahwa rezim Zionis dengan dalih membela perbatasannya, memperluas operasi dan perang militer ke wilayah lain, mengirim pasukan ke Suriah, memantapkan kehadiran militernya di sebagian wilayah Lebanon selatan, dan di wilayah-wilayah ini juga menggunakan taktik serupa dengan yang diterapkannya di Gaza.

Ia menambahkan bahwa agresi tanpa alasan terhadap Iran juga berujung pada perluasan konflik di kawasan dan menyeret lebih banyak negara ke dalam pusaran perselisihan. Bloomfield juga menyebut intensifikasi ketegangan di Yaman, Arab Saudi, negara-negara pinggiran Teluk Persia, serta perkembangan di Sudan dan Etiopia, dan menulis bahwa kini lebih dari 12 negara di dua benua terjebak dalam berbagai bentuk rangkaian konflik yang saling berkaitan.

Bloomfield menilai salah satu konsekuensi terpenting perang Gaza adalah melemahnya secara nyata supremasi hukum internasional.

"Steve Bloomfield, mantan redaktur internasional The Observer, dalam laporan di The Guardian menyatakan bahwa perang genosida rezim Zionis terhadap Gaza sejak Oktober 2023 tidak hanya mengubah Gaza, tetapi juga struktur politik dan keamanan Asia Barat serta posisi Barat. Tiga tahun setelah perang dan satu tahun setelah kesepakatan gencatan senjata, Gaza masih menjadi saksi hidup akibat perang, kehancuran, dan genosida."(Sail)