Giliran Israel Jual Gas ke Negara Arab
Meskipun rakyat Yordania menentang normalisasi hubungan dengan rezim Zionis Israel, namun Tel Aviv baru-baru ini menandatangani kontrak penjualan gasnya ke Amman senilai 10 miliar dolar.
Radio Israel pada hari Senin (26/9/2016) melaporkan bahwa rezim Zionis telah menandatangani kontrak senilai 10 miliar dolar untuk menjual gas di ladang lepas pantai, Leviathan kepada Yordania. Sebanyak 45 miliar meter kubik gas akan dialirkan ke Yordania selama 15 tahun.
Dua tahun lalu ketika Tel Aviv-Amman melakukan perundingan dalam masalah tersebut, rakyat Yordania berkali-kali menggelar aksi protes menentang rencana pembelian gas dari Israel dan mendesak penghentian normalisasi hubungan negara mereka dengan rezim Zionis.
Anehnya, gas yang dijual Israel ke Yordania diambil dari ladang gas Leviathan di perairan Lebanon dan menurut para pejabat Beirut, langkah itu sama seperti pencurian terhadap sumber daya alam Lebanon oleh rezim Zionis.
Karena ketidakpedulian para pejabat Beirut, Israel memulai langkah-langkah pendahuluan untuk mengeruk cadangan minyak dan gas dari perairan Lebanon dengan dukungan perusahaan-perusahaan Amerika Serikat.
Pada akhirnya, ketidakpedulian ini dan juga penolakan pemerintah Yordania terhadap tuntutan rakyatnya, Israel – yang selama ini menjadi konsumen utama gas Mesir – dalam waktu dekat akan mampu menjadi salah satu produsen gas di Timur Tengah.
Meskipun selama ini Israel merampas kekayaan negara-negara Arab mulai dari Palestina sampai Mesir, Lebanon dan Suriah dengan dukungan penuh AS, namun juga tidak boleh melupakan kelalaian dan ketidakpedulian para pemimpin Arab dalam kasus ini. Pendudukan tanah Arab dalam tujuh dekade terakhir juga terjadi karena ketidakpedulian dan perpecahan di tengah para pemimpin Arab.
Dalam kondisi seperti ini, negara-negara Arab khususnya Lebanon tampaknya harus mengesampingkan perseteruan internal dan memusatkan perhatiannya pada isu-isu dan sumber-sumber nasional seperti, pencurian air, minyak dan gasnya oleh Israel.
Lebanon perlu mengerahkan seluruh unsur kekuatan untuk melindungi hak-haknya, karena kemenangan dalam front ini membutuhkan solidaritas nasional yang kuat. Sikap cuek dan friksi internal tidak hanya akan merugikan kepentingan negara-negara di kawasan, tetapi juga dunia Islam secara keseluruhan. (RM)