Siapa Sebenarnya yang Sukses Perangi Terorisme di Irak dan Suriah
Di saat pasukan Irak dan Suriah meraih sejumlah kemenangan signifikan dalam perang melawan terorisme, komando koalisi internasional anti-Daesh pimpinan Amerika Serikat mengakui serangan koalisi itu telah menewaskan puluhan warga sipil Irak dan Suriah.
Abdul Amir Rashid Yarallah, Komandan Operasi Ninawa, Kamis (1/12) mengabarkan, pasukan Irak sejak pertengahan Oktober hingga awal Desember 2016, selain berhasil membebaskan 361 desa, juga menghancurkan 632 bom mobil dan melakukan serangan udara terhadap posisi Daesh lebih dari 3500 kali.
Bersamaan dengan itu, komando koalisi internasional anti-Daesh pimpinan Amerika mengakui bahwa serangan koalisi itu dalam sembilan bulan terakhir telah menewaskan 54 warga sipil Irak dan Suriah.
Terorisme bukan satu atau dua tahun belakangan menjadi fenomena mengerikan di Timur Tengah, tapi sejak tahun 2003 saat Amerika menyerang Irak, terorisme mulai mengakar di kawasan itu. Sejak 2003 sampai 2011, Amerika meneriakkan slogan perang melawan terorisme, namun hasilnya bukan saja tidak berhasil menumpas habis kelompok-kelompok teroris, bahkan justru memperbanyak. Pasca tahun 2011, kelompok-kelompok teroris berubah menjadi salah satu pemain penting dukungan Amerika dan sekutu-sekutunya dalam transformasi negatif sejumlah negara termasuk Suriah dan Irak.
Seiring dengan semakin kencangnya gelombang protes internasional atas dukungan Amerika dan sekutu-sekutunya terhadap kelompok teroris khususnya di Suriah dan Irak, Washington terpaksa membagi dua terorisme menjadi terorisme baik dan buruk, dan dukungan atas "terorisme baik" berubah menjadi kebijakan aktif Amerika.
Di penghujung tahun 2014, saat Amerika mulai membentuk koalisi internasional anti-Daesh bersama sekutu-sekutunya, yang tidak diragukan hanya mendukung kelompok-kelompok teroris semata, perang melawan terorisme buruk juga tidak menjadi perhatiannya.
Model tindakan Amerika ini yang mendorong komando koalisi internasional anti-Daesh, terpaksa mengakui bahwa serangan koalisi itu, hanya dalam waktu sembilan bulan saja telah menewaskan 54 warga sipil Suriah dan Irak. Dalam satu serangan saja, koalisi internasional menewaskan 24 warga sipil di kota Manbij, Utara Suriah dan sekitarnya.
Jumlah total korban tewas akibat serangan koalisi internasional anti-Daesh pimpinan Amerika sejak tahun 2014 di Irak dan Suriah mencapai 173 orang, meskipun bukti-bukti dan keterangan media menyebutkan jumlahnya lebih besar berkali-kali lipat dari itu.
Sementara model tindakan lain dalam perang melawan terorisme di Irak dan Suriah adalah langkah militer kedua negara itu serta penggunaan kemampuan dan kapasitas dalam negeri seperti pasukan sukarelawan rakyat.
Evaluasi atas model tindakan kedua tersebut menunjukkan kesuksesan dalam memerangi terorisme. Di Suriah selain pemerintah dan militer berhasil meraih keunggulan, mereka juga merebut kontrol sepertiga wilayah Timur kota Aleppo yang sejak tahun 2012 diduduki oleh kelompok teroris dan sekarang rakyat Suriah sedang menanti sebuah kemenangan besar.
Di Irak, operasi pembebasan kota Mosul dari tangan kelompok teroris Daesh oleh militer dan pasukan sukarelawan rakyat negara itu terus mengalami kemajuan. Mosul adalah benteng terakhir Daesh di Irak dan pembebasan kota itu akan mengakhiri hidup Daesh di Irak.
Model tindakan dalam perang melawan terorisme di Irak dan Suriah dengan bertumpu pada kekuatan militer dan pasukan rakyat membuktikan bahwa perang ini membutuhkan tekad dan kehendak nyata serta serius, sehingga sikap melawan terorisme yang semacam ini sama sekali tidak bisa diabaikan dalam menghadapi ancaman kolektif global tersebut. (HS)