Surat Penuh Berkah
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i31309-surat_penuh_berkah
Sekali lagi kisah kedermawanan Imam Hasan asa terulang kembali. Seorang miskin datang menemui Imam Hasan. namun kelihatannya dia malu pada orang-orang yang hadir di situ untuk menyampaikan hajatnya. Imam Hasan menangkap kondisi yang ada. Beliau memberikan kertas dan pena kepadanya dan berkata, “Hai lelaki, tulislah keinginanmu di kertas ini dan kembalikan lagi kertas itu padaku.”
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Jan 19, 2017 12:14 Asia/Jakarta
  • Imam Hasan as
    Imam Hasan as

Sekali lagi kisah kedermawanan Imam Hasan asa terulang kembali. Seorang miskin datang menemui Imam Hasan. namun kelihatannya dia malu pada orang-orang yang hadir di situ untuk menyampaikan hajatnya. Imam Hasan menangkap kondisi yang ada. Beliau memberikan kertas dan pena kepadanya dan berkata, “Hai lelaki, tulislah keinginanmu di kertas ini dan kembalikan lagi kertas itu padaku.”

Lelaki ini gembira atas jalan keluar ini. Dia mengambil kertas dan pena itu dan menulis keinginanannya pada kertas itu. Imam mengambil kertas dari lelaki itu dan membacanya. Namun beliau memberikannya sebelum lelaki itu meminta kepada beliau. Orang-orang yang ada di situ terbiasa menyaksikan kedermawanan Imam Hasan. Mereka bertanya, “Wahai Putra Amirul Mukiminin! Betapa penuh berkah kertas ini!”

Imam Hasan berkata, “Iya. Namun keberkahannya bagi kami lebih besar. Karena Allah telah memberikan nikmat kepada kami dan menetapkan kami layak untuk melakukan pekerjaan yang baik.”

Kemudian berkata, “Pekerjaan yang baik adalah pekerjaan yang dilakukan sebelum diminta oleh orang yang membutuhkan.”Bila kalian membantu orang yang membutuhkan setelah dia meminta kepadamu, pemberianmu sebagai ganti harga dirinya. Apalagi ketika dia melewati malam sampai pagi dalam kondisi takut dan berharap; apakah besok akan kecewa ataukah gembira. Sementara dia datang kepadamu dengan kaki gemetar dan hatinya penuh dengan ketakutan. Oleh karena itu, bila engkau memenuhi hajatnya sebagai ganti harga dirinya, ini baginya sungguh lebih besar dari pekerjaan baik yang engkau lakukan untuknya.”

Siapakah Musuhmu?

Seorang lelaki tidak ragu bahwa Imam Hasan as pasti akan menolongnya. Oleh karena itu dengan yakin dia pergi menemui Imam Hasan dan menyampaikan keluhannya, “Wahai Putra Amirul Mukminin! Demi Allah yang telah memberikan nikmat yang banyak kepada Anda! Selamatkanlah saya dari keburukan musuh yang telah mematahkan punggung saya!”

Imam Hasan berkata, “Siapakah musuhmu? Katakan! Supaya aku ambil hakmu darinya.”

Lelaki itu berkata, “Musuhku adalah kemiskinan dan kegalauan dan tidak tersisa lagi dari hidupku sehingga bisa dimusnahkannya.”

Imam Hasan sejenak menundukkan kepalanya, kemudian memanggil budaknya dan berkata, “Pergilah ke rumah dan ambillah semua uang yang ada!”

Sang budak keluar dari masjid dan beberapa saat kemudian kembali kepada Imam Hasan dengan membawa satu kantong uang. Imam memberikan kantong yang berisi uang itu kepada lelaki miskin ini seraya berkata, “Bila musuh ini kembali kepadamu, maka kenalkan kepadaku sehingga dengan pertolongan Allah, aku cabut keburukannya darimu.”

Lelaki ini tahu bahwa Imam Hasan as tidak akan membuatnya kecewa. Tapi dia tidak memprediksi yang satu ini.”

Bergaul Dengan Orang-Orang Miskin

Beberapa orang lelaki miskin duduk di atas tanah dan meletakkan makanan yang sederhana dan sedikit di atas taplak dan mereka makan bersama-sama. Imam melihat mereka dan berguman, “Betapa sederhananya hidangan makanan itu! Lihatlah bagaimana mereka mengenyangkan perutnya dengan beberapa potong roti.”

Ketika Imam sudah dekat pada mereka, kepadanya mereka berkata, “Wahai Putra Rasulullah! Duduklah bersama kami dan makanlah sesuap makanan, bismillah!”

Imam kepada dirinya berkata, “Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong. Lihatlah betapa ramah mereka mengundangmu!”

Kemudian Imam Hasan tersenyum dan duduk di samping mereka dan makan makanan mereka. Kemudian beliau pamitan seraya berkata, “Semoga Allah memberikan keberkahan pada kalian! Kalian telah mengundangku dan aku telah menerima undangan kalian. Untuk itu, terimalah undangan saudara kalian dan datanglah ke rumahku untuk makan malam!”

Malam itu Imam Hasan memerintahkan untuk menyiapkan makanan yang enak dan berkata kepada para pembantunya, “Malam ini aku punya tamu, jamulah mereka dengan baik.”

Para tamu Imam Hasan datang. Imam menjamu mereka dengan penuh penghormatan. Ketika pamitan, beliau mengucapkan rasa terima kasih dan memberikan baju untuk masing-masing mereka, karena mereka mau menerima undangan beliau.

Beberapa orang lelaki itu tidak pernah mengalami mendapatkan perlakuan sebaik ini dari seseorang. Kenangan malam itu tidak akan pernah terhapus dari ingatan mereka.

Tamunya Anak-Anak

Imam Hasan melewati sebuah gang. Ada beberapa anak sedang makan. Mereka mengucapkan salam kepada Imam Hasan dan meminta beliau untuk makan juga bersama mereka. Imam dengan senang menerima undangan mereka dan makan bersama mereka. Setelah itu beliau berkata, “Kalian telah mengundang saya. Sekarang terimalah undanganku dan datanglah!”

Anak-anak gembira mendengar ucapan Imam Hasan ini. Mereka pergi ke rumah beliau. Dengan penuh kasih sayang, Imam Hasan menjamu mereka dan memberikan baju baru untuk masing-masing dari mereka. Setelah acara perjamuan yang tak terlupakan, para tamu kecil ini pamitan kepada Imam Hasan dan pergi.

Salah seorang sahabat Imam Hasan mendengar kejadian ini dan berkata kepada beliau, “Sesungguhnya Anda adalah orang yang terhormat dan ramah dalam menerima tamu.”

Imam Hasan menjawab, “Mereka lebih ramah dalam menerima tamu daripada aku. Karena mereka memberikan semua apa yang dimilikinya. Sementara aku hanya menjamu mereka dengan makanan dan pakaian.” (Emi Nur Hayati)

Sumber: Sad Pand va Hekayat; Imam Hasan as