Bila Engkau Membunuh Suamimu...
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i31787-bila_engkau_membunuh_suamimu...
Berdasarkan surat perjanjian damai yang ditandatangani antara Muawiyah dan Imam Hasan as, Muawiyah tidak berhak menentukan pengganti bagi dirinya. Namun Muawiyah tidak menepati perjanjian itu. Ia memutuskan untuk memilih anaknya yang penuh foya-foya bernama Yazid sebagai penggantinya. Tapi orang-orang sekitarnya, para pembesar Madinah dan para sahabat Nabi Saw menentangnya. Karena mereka tahu, Yazid tidak akan mampu mengemban pemerintahan.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Jan 26, 2017 14:15 Asia/Jakarta
  • Imam Hasan as
    Imam Hasan as

Berdasarkan surat perjanjian damai yang ditandatangani antara Muawiyah dan Imam Hasan as, Muawiyah tidak berhak menentukan pengganti bagi dirinya. Namun Muawiyah tidak menepati perjanjian itu. Ia memutuskan untuk memilih anaknya yang penuh foya-foya bernama Yazid sebagai penggantinya. Tapi orang-orang sekitarnya, para pembesar Madinah dan para sahabat Nabi Saw menentangnya. Karena mereka tahu, Yazid tidak akan mampu mengemban pemerintahan.

Di tengah-tengah masalah ini, penghalang Muawiyah yang peling urgen adalah Imam Hasan as. Muawiyah tahu bahwa Imam Hasan as tidak akan mengizinkan Yazid dipilih sebagai pengganti ayahnya. Muawiyah benar-benar berusaha untuk menyingkirkan penghalang ini dan akhirnya dia terpikir untuk membunuh Imam Hasan as. Untuk mewujudkan rencana busuk ini, dia harus memilih orang yang paling tepat.

Setelah lama berpikir, akhirnya dia menemukan jalan bahwa untuk urusan ini dia harus meminta bantuan istri Imam Hasan. Oleh karena itu, orang yang paling tepat adalah Ju’dah salah satu istri Imam Hasan as. Kepada Ju’dah dia mengatakan, “Bila engkau meracuni Hasan dan membunuhnya, maka akan aku nikahkan engkau dengan Yazid. Selain itu, engkau akan mendapatkan seratus ribu dirham.”

Ju’dah menerima untuk melakukan hal ini.

Seorang Lelaki Bak Gunung

Sabar, menahan diri dan keksatriaan Imam Hasan sedemikian besar sehingga membuat musuh-musuhnya juga keheranan dan memaksa mereka mengakuinya. Semua itu adalah sifat-sifat yang dipelajari Imam Hasan dari ayahnya yang mulia.

Terkait hal ini dinukil sebuah kisah bahwa setelah syahadah Imam Hasan yang benar-benar mazlum, ketika jenazah beliau mau dimakamkan di kuburan Baqi’, Marwan salah satu musuh bebuyutan keluarga Rasulullah Saw datang dan ikut memanggul tabut Imam Hasan.

Pada saat itu Imam Husein as berkata kepadanya, “Hai Marwan! Engkau datang ikut acara pemakaman seorang lelaki yang ketika masih hidup, engkau menyakitinya dengan bentuk yang paling buruk.”

Dengan sedih Marwan berkata, “Iya. Aku menyakiti orang yang kesabarannya menandingi gunung-gunung.”

Baqi’ adalah kuburan yang terkenal di Madinah. Di sana dikubur empat jenazah Imam Maksum as; Imam Ja’far Shadiq, Imam Zainul Abidin, Imam Muhammad Baqir dan Imam Hasan as dan sejumlah para pembesar.

Saudaraku Sayang, Bagaimana Kondisimu?

Sayidina Husein as tahu bahwa saudaranya sedang mendekati kematian. Dia tahu bahwa dengan segera tidak akan bisa lagi melihat saudaranya untuk selamanya. Dia melihat sedemikian rupa ke mata Imamnya yang menguning dan sakit. Seakan-akan mata ini akan menutup untuk selamanya. Akhirnya dengan bibir yang bergetar dia membuka pembicaraan dan berkata, “Saudaraku sayang! Bagaimana kondisimu?”

Imam Hasan as berkata, “Letakkanlah tanganmu pada tanganku. Ketika aku melihat malaikat maut, aku akan menekan tanganmu dan akan aku katakan, bagaimana kondisiku.”

Imam Husein memegang tangan saudaranya. Setelah beberapa saat, Imam Hasan menekan tangan saudaranya. Sayidina Husein mendekatkan telinganya ke mulut saudaranya. Imam Hasan tersenyum dan berkata, “Malaikat maut berkata: Kabar gembira! Allah meridhaimu!”

Imam Hasan mengatakan itu dan tersenyum untuk yang terakhir kalinya.

Kematian Itu Benar; Namun...

Imam Hasan as sedang mendekati kematian. Semuanya tahu bahwa beberapa saat kemudian mereka akan kehilangan imam dan pemimpinnya. Duka dan kesedihan telah menyelimuti rumah Imam Hasan as. Para sahabat dan orang-orang terdekat sedang menangis. Imam Hasan as telah menyampaikan wasiatnya yang terakhir, kemudian menangis.

Salah satu sahabatnya berkata, “Wahai Putra Rasulullah! Anda adalah pemimpin umat Islam dan memiliki posisi yang tinggi di sisi Allah... dua puluh kali Anda pergi haji dengan berjalan kaki. Tiga kali Anda telah membagikan harta kekayaan Anda kepada orang-orang miskin. Anda tahu bahwa kematian adalah benar dan dengan segera Anda akan menyusul Rasulullah, ayah dan ibu Anda. Dalam kondisi seperti ini mengapa Anda khawatir dan menangis saat sampai di akhir kehidupan duniawi?

Imam Hasan as berkata, “Apa yang engkau katakan itu semuanya benar. Namun aku menangis karena dua dalil; pertama, aku teringat saat terjadinya kiamat dimana semua orang – tidak tahu akan kejadian mengerikan yang sedang dihadapinya – terperangah dan kebingungan dan melihat ke setiap arah. Kedua, karena perpisahan dengan para pecintaku...”

Hai Putra Ibuku!

Saudaraku sayang! Aku ingin setelah kematianku, engkau yang memandikan aku dan mengkafaniku. Kemudian bawalah aku ke kuburan kakek kita dan setelah itu bawalah aku ke kuburan nenek kita Fatimah [binti Asad; ibunya Imam Ali as] dan kuburlah aku di sisinya...

Hai putra ibuku! Dengan sangat cepat engkau akan memahami bahwa kelompok pezalim ini [keluarga Bani Umayyah] akan berkumpul menghalangimu karena menganggap bahwa engkau ingin menguburkan jenazahku di sisi kuburan Rasulullah. Mereka sedang menyusun fitnah, tapi demi Allah, jangan engkau biarkan satu tetespun darah mengalir ke bumi dari hamba-hamba Allah...

Husein as berjanji kepada saudaranya untuk menjaga kondisi dengan detil. Setelah Imam Hasan as merasa tenang akan masalah ini, beliau juga menyampaikan wasiatnya kepada anggota keluarga, dan terakhir beliau mengingatkan tentang pengganti setelahnya dan berkata, “Saudaraku! Husein sayang! Berdasarkan wasiat ayah kita, setelahku engkau adalah imam dan pemimpin umat Islam. Aku menyerahkan amanat ini kepadamu dan aku akan menunggu pertemuan denganmu di sisi kakek kita...” (Emi Nur Hayati)

Sumber: Sad Pand va Hekayat; Imam Hasan as