Iran, Rusia dan Turki Mulai Perundingan Teknis Soal Suriah
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i32469-iran_rusia_dan_turki_mulai_perundingan_teknis_soal_suriah
Iran, Rusia dan Turki memulai perundingan di Astana, ibukota Kazakhstan, soal gencatan senjata Suriah pada hari Ahad (5/02/2017) setelah ketiga negara negara memdiasi perundingan perdamaian antara Damaskus dan kelompok oposisi di sana.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Feb 06, 2017 17:03 Asia/Jakarta
  • Perundingan Astana
    Perundingan Astana

Iran, Rusia dan Turki memulai perundingan di Astana, ibukota Kazakhstan, soal gencatan senjata Suriah pada hari Ahad (5/02/2017) setelah ketiga negara negara memdiasi perundingan perdamaian antara Damaskus dan kelompok oposisi di sana.

Kementerian Luar Negeri Kazakhstan pada Senin (6/02/2017) menyatakan bahwa para ahli dari tiga negara dan PBB mengadakan perundingan teknis secara tertutup terkait pelaksanaan gencatan senjata, yang mulai berlaku di Suriah akhir tahun lalu.

 

Reuters mengutip seorang pejabat kementerian mengatakan bahwa agenda perundingan meliputi pelaksanaan penghentian pertempuran, pembahasan proposal dari kelompok oposisi bersenjata Suriah tentang gencatan senjata, dan opsi soal mekanisme penerapannya.

 

"Ini adalah tentang menciptakan mekanisme mengontrol pelaksanaan gencatan senjata," kata sumber tersebut seraya menambahkan bahwa "perwakilan dari Yordania diharapkan ikut ambil bagian untuk pertama kalinya."

 

Pada bulan Januari, Astana menjadi tuan rumah perundingan dua hari antara Damaskus dan kelompok-kelompok oposisi, yang dimediasi Iran, Rusia dan Turki.

 

Gencatan senjata nasional di Suriah, yang ditengahi Rusia dan Turki dengan dukungan Iran pada bulan Desember 2016, merupakan versi perpanjangan dari gencatan senjata sebelumnya yang mengakhiri pertempuran di Aleppo dan mengembalikan kota strategis itu di bawah kontrol Damaskus.

 

Pihak yang bertikai di Suriah akan melanjutkan perunidingan mereka di kota Jenewa, Swiss, pada 20 Februari mendatang di bawah pengawasan PBB.

 

Pada hari Ahad, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengapresiasi perundingan Astana dan menilainya sebagai "langkah terobosan."

 

Dikatakannya bahwa Moskow mendukung perundingan Jenewa, seraya menambahkan, "Kami tidak berencana mengganti Jenewa dengan format Astana."

 

Perundingan Jenewa awalnya direncanakan berlangsung pada tanggal 8 Februari, namun utusan PBB untuk Suriah, Staffan di Mistura, mengatakan telah mengubah jadwal perundingan demi mendapat keuntungan lebih lanjut dari hasil perundingan Astana.(MZ)