Perjalanan Araghchi ke Oman untuk Pembicaraan Nuklir tidak Langsung dengan AS
https://parstoday.ir/id/news/world-i185092-perjalanan_araghchi_ke_oman_untuk_pembicaraan_nuklir_tidak_langsung_dengan_as
Pars Today – Sayid Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, tiba di Muscat, ibu kota Oman, untuk menghadiri perundingan nuklir (tidak langsung) dengan delegasi Amerika Serikat.
(last modified 2026-02-12T14:32:04+00:00 )
Feb 06, 2026 19:15 Asia/Jakarta
  • Menlu Iran, Sayid Abbas Araghchi
    Menlu Iran, Sayid Abbas Araghchi

Pars Today – Sayid Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, tiba di Muscat, ibu kota Oman, untuk menghadiri perundingan nuklir (tidak langsung) dengan delegasi Amerika Serikat.

Menurut laporan Pars Today mengutip IRNA, Sayid Abbas Araghchi tiba di Bandara Muscat pada dini hari Jumat, (8/2/2026) dan disambut oleh para pejabat Oman. Putaran baru perundingan nuklir Iran–Amerika Serikat, sebagaimana diumumkan oleh Menteri Luar Negeri Iran, akan digelar pada Jumat pagi di Muscat, ibu kota Oman.

 

Berdasarkan pernyataan pejabat Amerika Serikat, Steve Witkoff, utusan dan perwakilan khusus Presiden AS untuk urusan Asia Barat, serta Jared Kushner, menantu sekaligus penasihat Donald Trump, akan memimpin perundingan dari pihak Amerika Serikat. Witkoff telah tiba di Muscat beberapa jam sebelum kedatangan delegasi Iran.

 

Putaran perundingan nuklir Iran dan Amerika Serikat ini berlangsung di tengah pengerahan militer Amerika Serikat ke kawasan serta ancaman dan tuduhan yang dilontarkan terhadap Iran, yang membahayakan keamanan kawasan. Republik Islam Iran kembali ke meja perundingan dengan Amerika Serikat dengan membawa pengalaman pahit lima putaran perundingan sebelumnya dengan Washington, yang pada akhirnya terhenti akibat serangan militer rezim Israel dan Amerika Serikat terhadap fasilitas nuklir Iran. Oleh karena itu, isu kepercayaan menjadi tantangan terpenting bagi Iran dalam putaran perundingan kali ini. Perundingan ini sendiri dalam sepekan terakhir diwarnai berbagai spekulasi dan bahkan sempat berada di ambang pembatalan.

 

Lavrov: Klaim kemungkinan serangan Rusia ke Eropa tidak berdasar

 

Dalam lanjutan ketegangan antara Rusia dan Eropa, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov dalam pernyataannya menyebut klaim mengenai kemungkinan serangan Moskow terhadap negara-negara Eropa sebagai tidak berdasar dan berasal dari ketidaktahuan terhadap sejarah.

 

Lavrov, menanggapi pernyataan Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius yang sebelumnya mengatakan bahwa Eropa harus bersiap menghadapi kemungkinan perang dengan Rusia pada tahun 2029 atau 2030, menegaskan: Saya tidak tahu siapa yang mereka coba yakinkan bahwa Rusia berniat melakukan serangan.

 

Menteri Luar Negeri Rusia itu juga menekankan: Cukup dengan mengetahui sejarah, maka pikiran-pikiran semacam itu tidak akan terlintas.

 

Presiden Kuba: Kami siap mempertahankan diri dari setiap kemungkinan agresi

 

Presiden Kuba juga, dengan merujuk pada meningkatnya ancaman Amerika Serikat terhadap negaranya, menyatakan bahwa Havana sepenuhnya siap menghadapi segala bentuk kemungkinan agresi.

 

Miguel Díaz-Canel dalam sebuah konferensi pers mengatakan: rencana pertahanan Kuba telah diperbarui berdasarkan pengalaman konflik internasional terbaru.

 

Ia menambahkan bahwa Havana siap berdialog dengan Amerika Serikat mengenai isu apa pun, seraya menegaskan: dialog di bawah tekanan tidak mungkin dilakukan, dan perundingan harus berlangsung tanpa prasyarat, tanpa tekanan, serta dengan penghormatan penuh terhadap kedaulatan Kuba.

 

UNRWA Ajukan Permintaan Mendesak untuk Pengiriman Bantuan yang Tertahan ke Gaza

 

Dalam berita lain dari Asia Barat disebutkan bahwa Badan Bantuan dan Pekerjaan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), dalam sebuah pernyataan dengan menyinggung memburuknya krisis kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya di Jalur Gaza, meminta otoritas rezim Zionis agar sesegera mungkin mengizinkan pengiriman bantuan kemanusiaan badan tersebut yang saat ini tertahan dan disimpan di gudang-gudang di Mesir dan Yordania.

 

UNRWA menegaskan dalam pernyataan itu bahwa bantuan-bantuan vital telah siap dikirim, namun penghalangan yang berkepanjangan terhadap masuknya barang-barang bantuan telah membuat upaya pertolongan bagi warga sipil berada dalam kondisi buntu.

 

Tiongkok: Beijing Tidak Berniat Masuk ke dalam Perlombaan Senjata

 

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok dalam pernyataannya menyampaikan bahwa Beijing mempertahankan persenjataan nuklirnya pada tingkat minimum yang diperlukan, dan menegaskan bahwa Tiongkok tidak berniat terlibat dalam perlombaan senjata.

 

Lin Jian, dalam sebuah konferensi pers, dengan menekankan bahwa Beijing selalu bersikap sangat hati-hati dan bertanggung jawab dalam isu-isu terkait senjata nuklir, menambahkan bahwa Tiongkok secara konsisten berpegang pada strategi nuklir pertahanan diri, menjalankan kebijakan tidak menggunakan senjata nuklir sebagai pihak pertama, serta memberikan komitmen tanpa syarat untuk tidak menggunakan atau mengancam penggunaan senjata nuklir terhadap negara-negara non-nuklir maupun kawasan bebas senjata nuklir. (MF)