Ketika Olimpiade Milan Menjadi Cermin Kemarahan Global dan Isolasi Israel
-
Pembukaan Olimpiade Musim Dingin Milan, Italia
Pars Today - Olimpiade Musim Dingin Milan dimulai dengan cemoohan terhadap atlet Israel dan Wakil Presiden Amerika Serikat.
Upacara pembukaan Olimpiade Musim Dingin Milan 2026, sekilas, merupakan perayaan global. Namun, di balik permukaan yang gemerlap ini, dua gelombang cemoohan dan protes yang melanda Stadion San Siro meneriakkan cerita lain.
Cerita tentang kemarahan yang terpendam dan rasa jijik global yang meluas yang bahkan lingkungan Olimpiade yang damai pun tidak dapat meredamnya. Kedua peristiwa ini bukanlah kebetulan. Keduanya merupakan cerminan yang keras dan jelas dari realitas politik yang pahit di era sekarang.
Cemoohan Pertama: Nama “Israel” dan Luka Mendalam Gaza
Masuknya tim beranggotakan empat orang yang berafiliasi dengan rezim Zionis dengan bendera di tangan dan senyum di wajah mereka ditujukan kepada penonton bukan sebagai perwakilan olahraga, tetapi sebagai simbol rezim kriminal dan genosida.
Sorakan ejekan dari penonton pada upacara pembukaan sebenarnya merupakan protes terhadap kejahatan dan genosida yang sedang berlangsung di Gaza. Para penonton yang berkumpul dari seluruh dunia untuk merayakan olahraga tidak dapat dan tidak akan tetap diam menghadapi pengingat akan tragedi tersebut.
Reaksi spontan ini menunjukkan bahwa kemarahan dan rasa jijik publik terhadap tindakan Israel melampaui batas geografis dan bahkan arena yang tampaknya netral seperti olahraga. Dengan tindakan simbolis ini, orang-orang menyatakan bahwa rezim yang namanya terkait dengan pendudukan dan pembunuhan tidak dapat lepas dari tanggung jawab historis dan moralnya, bahkan ketika muncul dalam kedok seorang "atlet".
Sorakan ejekan ini merupakan peringatan bagi komunitas internasional bahwa hati nurani manusia tidak tertidur.
Cemoohan Kedua: Ejekan atas Vance, Petanda Runtuhnya Mitos Adikuasa AS
Insiden di stadion San Siro tidak terbatas pada Israel. Gelombang protes dan ejekan baru meletus dengan ditampilkannya gambar "J. D. Vance", Wakil Presiden Amerika Serikat.
Reaksi ini merupakan respons yang menghancurkan terhadap intimidasi dan kebijakan unilateralis Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir. Sebuah negara yang pernah menyebut dirinya "pemimpin dunia bebas" kini telah menciptakan citra yang dibenci dan tidak dapat diandalkan di mata opini publik dunia dengan secara tanpa syarat mendukung kejahatan, berulang kali melanggar hukum internasional, dan memberikan tekanan bahkan pada sekutu tradisionalnya.
Cemoohan terhadap Vance menunjukkan bahwa rasa jijik ini tidak lagi terbatas pada jalanan dan demonstrasi, tetapi telah menembus arena internasional dan sosial. Dengan langkah ini, rakyat dunia secara terbuka menyatakan bahwa mereka bukan hanya tidak menginginkan Amerika yang mendominasi dan menindas, tetapi juga bahwa mereka mengejeknya dalam setiap penampilan dan situasi (bahkan sebagai tamu di Olimpiade).
Refleksi Tak Terbantahkan, Pengakuan Media Arus Utama
Ketakterbantan gelombang rasa jijik publik ini sedemikian rupa sehingga bahkan media internasional yang berafiliasi dengan gerakan kekuasaan pun tidak dapat menyensornya atau menafsirkannya kembali sepenuhnya.
Reuters, sebagai sumber global utama, dan media arus utama Israel seperti The Times of Israel dan Haaretz terpaksa secara langsung membahas "cemoohan" terhadap atlet Israel dan wakil presiden AS dalam laporan mereka. Hal ini menunjukkan betapa dalamnya dan jelasnya peristiwa itu. Ketika media yang biasanya bersikap hati-hati atau merendahkan dalam meliput berita tentang Israel dan AS terpaksa mencerminkan reaksi yang begitu lantang dari populasi global, itu berarti bahwa protes tersebut begitu keras dan meluas sehingga tidak dapat diabaikan.
Refleksi yang dipaksakan ini tidak hanya menegaskan keaslian peristiwa itu, tetapi juga menunjukkan bahwa narasi dominan sedang runtuh dan realitas perasaan masyarakat dunia memaksakan dirinya bahkan pada saluran berita tradisional. Namun dalam kasus rezim pendudukan, pesannya bahkan lebih jelas. Israel telah jatuh ke dalam isolasi total di semua lini.
Sebuah Pesan di Balik Sebuah Upacara
Kedua peristiwa ini, jika digabungkan dan liputannya yang luas dan tak terbantahkan, bahkan di media yang relevan, mengirimkan pesan yang jelas dan berlipat ganda:
1. Bagi masyarakat dunia, kehendak dan perasaan mereka tidak dapat diabaikan. Seruan yang muncul di San Siro dan kemudian bahkan bergema di halaman Reuters dan Times of Israel, menunjukkan bahwa kesadaran kemanusiaan yang terbangun tidak lagi berada di pinggir lapangan dan semakin menonjol.
2. Bagi penguasa, peristiwa ini merupakan peringatan bahwa legitimasi dan "citra yang diterima" mereka di skala global secara fundamental terkikis. Ketika respons spontan masyarakat pada acara olahraga yang damai begitu kuat sehingga bahkan media partisan mereka terpaksa merekamnya, inilah saatnya untuk memikirkan kembali kebijakan secara radikal.
Olimpiade Milan bukan hanya cerminan dari keruntuhan moral dua sekutu strategis, tetapi juga menyaksikan keretakan yang lebih dalam. Kesenjangan antara narasi resmi kekuatan-kekuatan tersebut dan realitas yang dialami oleh masyarakat dunia.
Insiden ini membuktikan bahwa kebencian terhadap penindasan dan perundungan tidak mengenal batas, dan suaranya dapat terdengar bahkan dari balik tembok propaganda yang tinggi. Seruan ini, yang kini tercatat dalam laporan berita dunia, lebih fasih daripada resolusi apa pun, menandai berakhirnya suatu era dan munculnya kesadaran baru.(sl)