Arab Saudi dan Senjata Makan Tuan Terorisme
-
polisi Saudi
Arab Saudi yang merupakan salah satu pendukung utama terorisme dalam berbagai dimensinya, di dalam negeri ternyata berhadapan dengan ancaman-ancaman teror.
Kementerian Dalam Negeri Saudi hari Kamis, 16 Februari 2017 mengumumkan, aparat keamanan negara ini, berhasil menghancurkan empat jaringan teroris yang berafiliasi ke Daesh di kota Mekah, Madinah, Riyadh dan Al Qasim. Dalam pernyataannya, Kemendagri Saudi mengatakan, dari 18 orang yang ditangkap, 15 di antaranya adalah warga Saudi sendiri.
Saudi adalah sponsor utama kelompok-kelompok teroris, terutama dalam enam tahun terakhir. Dukungan itu diberikan dalam bentuk pengerahan kekuatan media, ekonomi dan militer. Saudi memberikan bantuan militernya untuk para teroris dengan membeli peralatan perang dari Barat. Dengan kata lain, Al Saud juga memberikan dukungan ekonomi dan militer kepada para teroris dengan menganggarkan dolar-dolar minyaknya untuk membeli senjata dari Barat, agar digunakan oleh kelompok-kelompok teroris.
Oleh karena itu, Saudi adalah pemain utama dalam menciptakan kekacauan dan instabilitas di kawasan Timur Tengah terutama di Suriah, Irak dan Yaman. Realitasnya, dampak-dampak instabilitas di sebuah kawasan tidak hanya menimpa beberapa negara tertentu saja, tapi sebagaimana stabilitas dan keamanan di sebuah kawasan menjamin keamanan dan stabilitas di sebagian besar wilayah lain, maka kekacauan dan ketidakamanan di sebuah kawasan juga menjadi ancaman bagi keamanan dan stabilitas di negara-negara lain termasuk negara-negara kuat di kawasan itu.
Kondisi yang sama melanda Saudi hari ini. Al Saud sebagai salah satu pendukung kelompok-kelompok teroris, telah menjerumuskan kawasan Timur Tengah ke dalam instabilitas yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan sekarang dalam negeri negara itu harus berhadapan dengan ancaman-ancaman teror.
Ini bukan kali pertama, Kemendagri Saudi mengaku telah menghancurkan jaringan teroris di negara itu. Pada 24 Januari 2017, Kemendagri Saudi mengabarkan penangkapan atas 16 orang termasuk tiga warga negara itu dan 13 warga Pakistan karena terlibat dalam dua aksi teror di Jeddah.
Poin yang harus diperhatikan disini adalah, dari 34 anasir teroris yang ditangkap pada bulan Januari dan Februari 2017, 18 orang atau lebih dari setengahnya adalah warga Saudi sendiri. Dengan demikian dapat dikatakan pemerintahan Saudi bukan saja pendukung kelompok-kelompok teroris di negara-negara kawasan lain, tapi karena struktur pemerintahannya yang kental nuansa ekstremisme, maka hal itu menjadi faktor tumbuhnya terorisme di dalam negeri sendiri.
Selain itu perlu diingat bahwa 15 warga Saudi juga terlibat dalam peristiwa teror 11 September 2001 di Amerika Serikat. (HS)