Lawatan Pertama Mattis ke Irak
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i33256-lawatan_pertama_mattis_ke_irak
Menteri Pertahanan Amerika Serikat, James Mattis Senin (20/2) melakukan lawatan mendadak ke Baghdad, Irak.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Feb 21, 2017 08:08 Asia/Jakarta
  • James Mattis
    James Mattis

Menteri Pertahanan Amerika Serikat, James Mattis Senin (20/2) melakukan lawatan mendadak ke Baghdad, Irak.

Mattis setibanya di Baghdad mengklaim bahwa Amerika Serikat hadir di Irak bukan untuk menguasai minyak negara ini. Ini merupakan lawatan pertama James Mattis sebagai menteri pertahanan Amerika ke Irak. Menhan baru AS ini seperti pendahulunya, Ashton Carter, ketika berkunjung ke Irak, Baghdad mengalami fase penting.

 

Fase pertama pembebasan wilayah Barat Mosul dari pendudukan teroris Daesh telah dimulai sejak hari Ahad atas instruksi langsung dari Perdana Menteri Haider al-Abadi. James Mattis melalui kunjungannya ke Irak hari Senin dari satu sisi berusaha mengirimkan pesan bahwa prestasi dan kemenangan di lapangan pasukan gabungan Irak di Mosul dan secara keseluruhan perang melawan Daesh tidak akan berhasil tanpa dukungan Amerika. Sama seperti Carter di era pemerintahan Barack Obama, berkunjung ke Irak ketika terjadi transformasi penting di Baghdad seperti saat pembebasan al-Anbar dan operasi pembebasan Mosul pada Oktober 2016 sehingga mencitrakan Amerika memiliki saham di kemenangan militer Irak.

 

Isu lain adalah Irak memiliki posisi penting bagi Amerika mengingat transformasi Suriah, karena dapat dikatakan bahwa Washington kehilangan posisinya di krisis Suriah dan Gedung Putih mengakui kalah dari Rusia dan Republik Islam Iran di Damaskus. Amerika meyakini bahwa perang melawan teroris Daesh di Irak akan berakhir dengan kesuksesan. Oleh karena itu, pemerintah Amerika berupaya memanfaatkan Irak sebagai peluang untuk mengembalikan statusnya di perang kontra terorisme yang senantiasa mereka propagandakan. Lawatan James ke Irak dapat dicermati dari sisi ini.

 

Poin lain adalah meski menhan Amerika setibanya di Baghdad mengumumkan bahwa Washington tidak berencana merampok minyak Irak, namun statemen ini kontradiksi dengan pernyataan presiden Amerika. Donald Trump, presiden Amerika beberapa waktu lalu di sebuah pidatonya dan ditujukan kepada staf Dinas Intelijen Amerika (CIA) mengatakan, “Jika AS sebelumnya menguasai ladang minyak Irak, maka Daesh tidak akan ada. Oleh karena itu, AS harus menguasai minyak Irak.”

 

Mengingat karakteristik utama Donald Trump adalah sifat realistis transaksi dan perhitungan ekonominya, kini dapat dikatakan bahwa Amerika berusaha menguasai minyak Irak. Minyak bagi Amerika adalah produk strategis dan merupakan salah satu dalih utama fokus Gedung Putih terhadap Timur Tengah serta untuk menjamin keamanan suplai energi dari wilayah ini ke seluruh penjuru dunia termasuk Eropa dan Amerika sendiri. (MF)