Engkau Takuti Kami Dengan Kematian?
-
Imam Sajjad as
Setelah tragedi Asyura, ketika para tawanan perang dibawa ke Syam, Ibnu Ziyad menyelenggarakan pertemuan sia-sia dan memerintahkan agar keluarga Rasulullah Saw dibawa ke dalam pertemuan itu.
Ibnu Ziyad memandang Imam Sajjad as dan berkata, “Siapakah engkau?”
Imam Sajjad as berkata, “Ali bin Husein.”
Ibnu Ziyad berkata, “Bukankah Allah telah membunuh Ali bin Husein?”
Imam Sajjad as berkata, “Aku punya saudara bernama Ali. Kalian telah membunuhnya. Pada Hari Kiamat kalian harus mempertanggungjawabkan perbuatan keji kalian ini.”
Ali Akbar dan Ali Ashghar; keduanya adalah saudara Imam Sajjad as yang mencapai syahadah dalam tragedi Asyura.
Ibnu Ziyad berkata, “Tidak. Allah-lah yang membunuhnya (yakni karena kehendak Allah dia terbunuh).
Imam Sajjad mengisyaratkan pada ayat al-Quran yang berbunyi, “Allah akan mematikan orang-orang ketika kematiannya telah tiba. Dan tidak seorang pun akan mati kecuali atas izin-Nya.”
Ibnu Ziyad berkata, “Engkau juga termasuk orang-orang ini dan masa kematianmu telah tiba.”
Pada saat itu Sayidah Zainab menghadap kepadanya dan berkata, “Hai putra Ziyad! Belum cukupkah darah yang engkau tumpahkan dari keluarga kami?”
Engkau mau membunuhnya? Bunuhlah aku juga!”
Imam Sajjad juga berkata, “Hai putra Ziyad! Engkau takuti aku dengan kematian? Tidak tahukah engkau bahwa terbunuh di jalan Allah adalah kebanggaan bagi kami dan syahadah adalah kehormatan bagi kami?”
Mendengar jawaban telak ini Ibnu Ziyad berkata, “Bebaskan dia, supaya berada di sisi keluarganya.”
Pekerjaan Sia-Sia, Terlarang
Di kota Madinah ada seorang pelawak yang membuat orang lain tertawa karena sikap-sikapnya. Tapi dia tidak bisa membuat Imam Sajjad tertawa sama sekali. Lelaki ini memutuskan untuk melakukan sesuatu supaya Imam Sajjad as juga tertawa dan menurutnya menggembirakan beliau.
Ketika Imam Sajjad lewat di jalan, dia mendekat dan mengambil jubah yang beliau pakai, kemudian pergi. Imam Sajjad tidak menunjukkan reaksi sama sekali. Orang-orang yang menyaksikan kejadian ini mengambil jubah Imam Sajjad as darinya.
Imam Sajjad as bertanya, “Siapakah lelaki ini?”
Orang-orang menjawab, “Seorang pelawak yang membuat masyarakat tertawa.”
Imam Sajjad as berkata, “Sampaikan kepada orang ini, bahwa akan datang suatu hari dimana orang-orang yang bicara dan berbuat sia-sia akan memahami kerugian perbuatannya.
Wanita Tua Yang Menjadi Muda Karena Permohonan Imam Sajjad
Hibabah Walabiyah adalah seorang perempuan yang bisa menemui delapan imam maksum as. Pada masa pemerintahan Imam Ali as, Hibabah menemui Imam dan berkata, “Wahai Imam! Saya ingin mengetahui dalil keimamahan Anda!”
Imam Ali mengambil batu kecil dari tanah dan meletakkan cincinnya di atasnya. Pada saat itu, ukiran permata yang ada di cincin beliau terukir juga di batu kecil ini. Imam Ali memberikan batu kecil itu kepada Hibabah dan berkata, “Lihatlah! Siapa saja yang mengklaim keimamahan dan dia bisa menetapkan ukiran pada batu kecil ini, maka dia adalah imam dan orang lain harus menaatinya.”
Sepeninggal Imam Ali dan keimamahan Imam Hasan, Hibabah datang menemui beliau dan berkata, “Wahai putra Rasulullah Saw, apa dalil keimamahan Anda?”
Imam Hasan as berkata, “Hai Hibabah! Bawalah [ke sini] batu kecil yang diukir oleh ayahku!”
Hibabah memberikan batu kecil itu kepada Imam Hasan as. Beliau meletakkan cincinya di atas batu kecil itu dan ukiran cincinnya terukir di batu kecil itu.
Setelah syahadah Imam Hasan as, kini giliran Imam Husein as. Dia pergi menemui Imam Husein dan terulanglah kejadian itu.
Pada masa keimamahan Imam Sajjad, Hibabah berusia 113 tahun. Dia menemui Imam Sajjad dan berkata, “Wahai putra Rasulullah Saw! Apa dalil keimamahan Anda?”
Imam Sajjad mengisyaratkan kepada Hibabah dengan tangannya. Seketika itu Hibabah menjadi muda dan keceriaan telah kembali kepadanya. Kemudian Imam Sajjad as berkata kepadanya, “Bawalah [ke sini] batu kecil yang diukir oleh ayahku.”
Hibabah memberikan batu tersebut kepada Imam Sajjad. Imam Sajjad juga meletakkan cincinnya di atas batu itu dan mengukirnya.
Hibabah yang telah menjadi muda lagi hidup sampai pada zamannya Imam Ridha as dan kejadian ini juga berlanjut. Hibabah meninggal dunia sembilan bulan setelah Imam Ridha mengukir di atas batu kecil itu.
Tamu-Tamu Imam Sajjad as
Suatu hari Imam Sajjad melewati gang-gang Madinah dan pandangan beliau tertuju pada beberapa orang yang menderita penyakit lepra. Mereka sedang makan bersama dengan taplak yang telah dihamparkannya. Begitu Imam Sajjad sampai ke dekat mereka, mereka berkata kepada Imam, “Wahai putra Rasulullah Saw! Silahkan makan bersama kami!”
Dengan penuh kasih sayang Imam Sajjad menanyakan kondisi mereka dan berkata, “Semoga Allah menambahkan keberkahan pada makanan kalian. Seandainya saya hari ini saya tidak berpuasa, pasti saya akan menerima undangan kalian dan makan makanan kalian. Namun saya ingin kalian besok datang ke rumah saya dan kita makan bersama.”
Mereka menerima undangan Imam Sajjad dan datang ke rumah beliau sebagai tamu. Mereka dijamu dengan makanan yang lezat. Imam Sajjad menyambut mereka dengan ramah. Kenangan perjamuan itu tidak pernah terlupakan dari ingatan para tamu itu karena sebelumnya tidak pernah seseorang menunjukkan kasih sayangnya seperti ini kepada mereka. (Emi Nur Hayati)
Sumber: Sad Pand va Hekayat; Imam Sajjad as