Nasib Suriah, Antara Perundingan Jenewa dan Astana
Presiden Suriah, Bashar Assad dalam wawancara dengan televisi Belarusia, OTN, mengkritik perundingan Jenewa, dengan mengatakan, Perundingan ini kebanyakan hanya sekedar propaganda dan konsumsi media semata, yang tidak membuahkan hasil bagi bangsa Suriah, tapi perundingan Astana memberikan pengaruh signifikan.
Mengapa Bashar Assad memandang demikian terhadap perundingan Jenewa dan Astana? Jawaban terpenting dari soal ini bertumpu pada rapor perundingan Jenewa yang tidak membuahkan hasil dalam meredam krisis Suriah.
Di saat para aktor politik peserta perundingan Jenewa 5 diharapkan bisa memanfaatkan hasil dari tiga babak perundingan Astana, dan mengambil keputusan penting dalam meredam krisis Suriah, AS justru melancarkan serangan rudal ke pangkalan militer Al-Shayrat demi menghalangi implementasi hasil perundingan Jenewa.
Padahal, capaian 4 babak perundingan Astana telah berkontribusi penting dalam mewujudkan gencatan senjata di berbagai wilayah Suriah, mewujudkan zona penahan friksi segi empat di Suriah, dan menyiapkan sarana untuk membantu melepaskan negara Arab ini dari cengkeraman teroris.
Terkait hal ini, Presiden Suriah, Bashar Assad mengatakan, Perundingan Astana berbeda dengan perundingan lainnya. Sebab, perundingan yang dilakukan dengan pihak oposisi bersenjata atas pengawasan Rusia.
Perundingan ini membuahkan hasil positif melalui upaya untuk mewujudkan gencatan senjata. Salah satu hasil dari perundingan ini adalah kesepakatan regional untuk meredam friksi. Tujuan utama dari kesepakatan regional untuk meredam konflik demi melindungi nyawa warga sipil sekaligus meredam pertumpahan darah di tahap awal.
Poin lain mengenai keefektifan perundingan Astana dibandingkan Jenewa adalah kemampuan perundingan ini memisahkan kelompok teroris Daesh dan Front Al Nusra serta kelompok afiliasinya dengan tidak melibatkan mereka dalam perundingan Astana. Hal ini membuka jalan bagi penumpasan kelompok teroris di Suriah.
Pengamat politik Timur Tengah, Seyyed Hadi Seyyed Afkhami menyampaikan pandangannya:
Rangkaian perundingan Astana membahas agenda untuk menekan sayap Daesh dan Front Al Nusra, bahkan upaya bersama untuk memberangus kelompok teroris ini. Oleh karena itu, penandatangan kesepakatan mengenai zona peredam konflik di Suriah dalam perundingan Astana 4 bertujuan untuk mewujudkan tujuan tersebut, dan pertempuran bisa diredam. Dengan demikian wilayah tersebut bisa diperkuat dan menjadikannya sebagai "zona aman".
Statemen Bashar Assad mengenai perundingan Astana yang berpengaruh signifikan dalam upaya meredam konflik Suriah. Pada saat yang sama, perundingan Jenewa yang digelar selama ini hanya sekedar propaganda semata, karena tidak berpijak dari realitas sebenarnya yang terjadi di Suriah.
Meskipun sudah digelar beberapa babak, tapi mengapa perundingan Jenewa tidak membuahkan hasil sebagaimana perundingan Astana ?
Salah satu faktor utamanya kembali kepada aktor politik negara-negara yang terlibat dalam perundingan Jenewa yang lebih besar dibandingkan perundingan Astana. Pada perundingan Astana hanya melibatkan tiga negara yaitu: Rusia, Iran dan Turki. Di luar itu, AS hadir sebagai peninjau dalam posisi lebih rendah perannya dari ketiga negara itu.
Sedangkan dalam perundingan Jenewa melibatkan begitu banyak negara dengan beragam kepentingan di dalamnya. Alih-alih mencari persamaan, yang terjadi selama ini dalam perundingan Jenewa justru bagaimana mencari dukungan politik sebanyak-banyaknya, terutama dari pihak-pihak pendukung oposisi Suriah untuk menciptakan perimbangan kekuatan di arena Suriah.