Dengan Apa Seorang Imam Bisa Diketahui?
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i38854-dengan_apa_seorang_imam_bisa_diketahui
Abu Bashir berkata, “Saya bertanya kepada Imam Musa bin Jakfar, “Saya menjadi tebusan Anda. Seorang imam akan diketahui dengan apa?”
(last modified 2026-04-28T13:34:36+00:00 )
Jun 04, 2017 13:03 Asia/Jakarta
  • Imam Musa Kazdim as
    Imam Musa Kazdim as

Abu Bashir berkata, “Saya bertanya kepada Imam Musa bin Jakfar, “Saya menjadi tebusan Anda. Seorang imam akan diketahui dengan apa?”

Beliau menjawab, “Dengan beberapa sifat:

Pertama; ayahnya mengenalkan kepada masyarakat akan keimamahannya [kepemimpinannya].

Kedua; dia bisa menjawab setiap masalah yang ditanyakan kepadanya.

Ketiga; dia mengetahui kabar yang akan datang.

Keempat; dia bisa berbicara dengan masyarakat dengan bahasa apa saja.

Kemudian beliau berkata, “Hai Abu Muhammad! Sekarang aku tunjukkan sebuah tanda kepadamu sebelum engkau bangkit dari sini.”

Abu Bashir berkata, “Tidak lama kemudian datanglah seorang lelaki warga Khorasan dan berbicara dengan bahasa Arab dengan beliau. Kemudian Imam menjawabnya dengan bahasa Persia. Lelaki tersebut berkata, saya berbicara dengan Anda memakai bahasa Arab dengan anggapan bahwa Anda tidak bisa berbicara dengan bahasa Persia.

Kemudian Imam Musa berkata, “Subhanallah! Seandainya aku tidak bisa menjawabmu dengan bahasamu sendiri, lalu dimanakah kelebihanku atas kamu dan bagaimana aku sebagai imam kamu.”

Kemudian beliau berkata, “Hai Abu Muhammad! Tidak ada ucapan seorangpun dari masyarakat yang tersembunyi bagi imam dan dia tahu bahasa burung dan mengetahui ucapan setiap makhluk hidup.

Percakapan Imam Musa bin Jakfar as Dengan Harimau

Ibnu Syahr Asyub meriwayatkan dari Ali bin Hamzah Bathaini bahwa dia mengatakan, “Ketika saya bersama Imam Musa as dalam sebuah perjalanan, datanglah seekor harimau dan tangannya memegang bagian belakang kuda yang ditunggangi beliau. Lalu beliau berhenti karena harimau tersebut. Sepertinya harimau itu bercakap-cakap dengan Imam dan Imam juga mengatakan sesuatu kemudian harimau itu menepi. Kemudian Imam Musa as menghadap ke arah kiblat dan berdoa. Namun saya tidak paham dan beliau mengisyaratkan dengan tangannya kepada harimau agar pergi.

Harimau itu lama bercakap-cakap dan dan Imam Musa mengatakan amin...amin...kemudian harimau itu pergi dan saya berkata kepada beliau, “Saya menjadi tebusan Anda, saya heran dengan kisah harimau ini.”

Imam Musa as berkata, “Harimau ini datang kepadaku mengadukan tentang pasangannya yang sulit melahirkan. Dia meminta kepadaku untuk memohon kepada Allah agar dimudahkan kelahirannya. Akupun berdoa untuknya. Dalam hatiku terdetik, bayi yang akan lahir adalah jantan dan aku mengabarkan kepadanya dan harimau itu berkata kepadaku, pergilah dan selamat jalan...semoga Allah tidak menjadikan binatang buas pun bisa menguasaimu dan anak keturunanmu juga siapapun dari pengikutmu dan akupun mengamininya.”

Mengetahui Ilmu Gaib

Ketika Imam Musa as dipenjara oleh Harun ar-Rasyid, Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan; muridnya Abu Hanifah datang menemui Imam untuk menanyakan masalah keilmuan dan membahasnya dengan beliau. Kedua orang ini adalah mujtahid di zamannya dan ingin mengajak Imam kepada keyakinannya.

Ketika mereka sampai kepada Imam, pada saat itu juga seorang lelaki yang menjadi penjaga Imam mengatakan, “Giliran saya sudah selesai dan saya mau pulang ke rumah. Bila Anda ada urusan, sampaikan kepada saya dan akan saya kerjakan saat giliran saya tiba.”

Imam Musa as berkata, “Tidak. Saya tidak ada urusan.”

Begitu penjaga penjara itu pergi, Imam Musa menghadap kepada kedua mujtahid ini dan berkata, “Tidak herankah kalian dengan lelaki ini. Dia malam ini akan meninggal dunia, tapi dia ingin memenuhi kebutuhanku besok?”

Keduanya bangkit dan pergi dan bercakap-cakap bersama, “Kita datang untuk meyakinkannya kepada keyakinan kita, tapi kita lihat bahwa dia mengetahui kabar gaib. Kemudian kedua orang ini mengutus seseorang untuk menunggu di dekat rumah penjaga penjara itu. Begitu pertengahan malam lewat, teriakan dan jeritan muncul dari rumah itu. Ditanya, ada apa?

Dikatakan bahwa lelaki penjaga penjara itu mati.

Sang utusan itu pergi dan mengabarkan kepada kedua mujtahid itu dan mereka kembali menemui Imam dan bertanya, “Kami ingin tahu dari mana Anda mengetahui ilmu gaib.”

Imam Musa as berkata, “Ilmu ini merupakan ilmu yang diajarkan Rasulullah Saw kepada Ali Murtadha dan tidak ada seorangpun yang bisa mendapatkannya. Keduanya terperangah dan tidak bisa berbicara apa-apa sekalipun ingin mengatakannya. Kemudian keduanya bangkit dan pergi dengan rasa malu dan mereka tidak tahan untuk menyembunyikannya. Lalu menyampaikannya kepada semua orang.” (Emi Nur Hayati)

Sumber: Sad Pand va Hekayat; Imam Musa Kazdim as