Dampak Kudeta Lunak Sang Raja
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i39908-dampak_kudeta_lunak_sang_raja
Transformasi terbaru di Arab Saudi saat ini berada dalam pengaruh kudeta lunak yang dilancarkan raja Salman bin Abdul Aziz, yang berambisi mewariskan takhta kerajaan kepada anaknya yang baru saja dinobatkan sebagai putera mahkota dengan menyingkirkan Muhammad bin Nayef.
(last modified 2026-04-16T09:59:01+00:00 )
Jun 22, 2017 14:04 Asia/Jakarta

Transformasi terbaru di Arab Saudi saat ini berada dalam pengaruh kudeta lunak yang dilancarkan raja Salman bin Abdul Aziz, yang berambisi mewariskan takhta kerajaan kepada anaknya yang baru saja dinobatkan sebagai putera mahkota dengan menyingkirkan Muhammad bin Nayef.

Di dalam negeri Arab Saudi sebenarnya muncul gelombang protes dari para pangeran, tapi berupaya diberangus oleh raja Salman. Pada acara baiat Muhammad bin Salman yang disiarkan secara langsung oleh media Arab Saudi semacam Al Arabia dan lainnya, Rabu malam (21/6), salah seorang pangeran menyampaikan protes dan segera diamankan oleh petugas yang hadir di sana.

Pelaksanaan baiat tersebut melanggar tradisi bertahun-tahun yang dilaksanakan rezim Al Saud. Pasalnya berdasarkan wasiat Abdul Aziz yang menjadi ketentuan negara ini, transisi kekuasaan bukan dilakukan dari ayah kepada anaknya, tapi dari sudara kepada saudara lainnya. Pada awalnya Muqrin bin Abdul Aziz yang menjadi putera mahkota, tapi ia mengundurkan diri dan digantikan oleh Muhammad bin Nayef. Kemudian, secara tida-tiba raja Salman bin Abdul Aziz mencopot Muhammad bin Nayef yang diganti anaknya sendiri, Muhammad bin Salman.

Reaksi AS dan Israel terhadap kudeta lunak yang dilakukan raja Salman menunjukkan restu Gedung Putih dan dukungan Tel Aviv terhadap manuver tersebut yang dipandang akan memuluskan jalan untuk mengobarkan perang baru di kawasan.

Para analis politik menilai sambutan AS dan Israel terhadap kudeta lunak yang terjadi di Arab Saudi berkaitan erat dengan kepentingan politik dan ekonomi Washington dan Tel Aviv. Pengamat Timur Tengah, dan mantan anggota parlemen Iran, Sabah Zanganeh menilai langkah tergesa-gesa raja Salman mengangkat puteranya sebagai putera mahkota Arab Saudi telah dipersiapkan jauh hari. Sejak Muhammad bin Salman memasuki arena politik dan memangku jabatan menteri pertahanan, dan pecahnya perang Yaman yang menyulut eskalasi konflik di kawasan, ia menempatkan dirinya sebagai penyulut perang di Timur Tengah. Dengan dukungan AS, Muhammad bin Salman berhasil menjadi putera mahkota, dan tampaknya tidak lama lagi akan mengisi posisi puncak sebagai raja.

Di sisi lain, hubungan antara Arab Saudi dan rezim Zionis di era raja Salman mengalami peningkatan signifikan melebihi periode sebelumnya. Peningkatan hubungan Riyadh dan Tel Aviv mengarah pada fase terang-terangan dengan intensnya pertemuan antara pejabat rezim Zionis dan Arab Saudi. Bahkan menteri intelejen rezim Zionis Yisrael Katz mengusulkan supaya Benyamin Netanyahu mengunjungi Riyadh dan meningkatkan hubungan dengan rezim Al Saud. Fakta ini menunjukkan bahwa Israel diuntungkan dengan langkah-langkah yang telah diambil raja Salman, baik dalam urusan dalam negeri maupun luar negerinya.

Kedekatan hubungan antara Arab Saudi dan Israel telah dirancang oleh AS dan dikukuhkan dengan kunjungan Trump ke Riyadh serta penandatangan kontrak militer dan politik, terutama pembelian alutsista dan senjata dari AS senilai ratusan miliar dolar. Dukungan Washington terhadap baiat Muhammad bin Salman untuk mengamankan kontrak tersebut.