Krisis Ekonomi Negara Arab Semakin Akut
-
P-GCC
Surat kabar Kuwait, Al Rai memberitakan meningkatnya masalah ekonomi yang melilit negara-negara Arab anggota Dewan Kerja Sama Teluk Persia (P-GCC) melebihi sebelumnya.
Koran Al Rai dalam berita yang dimuat hari Sabtu (24/6) menyinggung semakin seriusnya masalah ekonomi yang melilit negara-negara anggota P-GCC yang ditandai dengan membengkaknya defisit anggaran dan implementasi aturan pajak pertambahan nilai.
"Kondisi krisis ekonomi yang menimpa negara-negara ini menyebabkan anggota kerja sama teluk Persia akan menerapkan aturan pajak pertambahan nilai sekitar lima persen, dan para pengamat ekonomi memandang masalah tersebut, berdampak negatif terhadap kehidupan masyarakat," tulis koran terkemuka Kuwait.
Anjloknya harga minyak di pasar global yang dimulai sejak musim panas 2014 sebelum tercapainya kesepakatan Wina terus berlanjut. Akibatnya sejumlah negara Arab seperti Arab Saudi dan Bahrain menerapkan kebijakan penghematan anggaran.
Anjloknya harga minyak menyebabkan Arab Saudi dilanda defisit anggaran yang besar, sehingga mengambil kebijakan penghematan anggaran, termasuk pemangkasan subsidi, dan kenaikan harga BBM.
Tapi, para analis politik dan ekonomi internasional menilai kebijakan haus perang yang disulut Riyadh di berbagai negara kawasan, terutama Yaman menjadi pemicu utama membengkaknya defisit anggaran rezim Al Saud.