Petualangan Berbahaya AS di Suriah
Bersamaan dengan dimulainya permainan baru Amerika Serikat terkait Suriah, sumber-sumber media di negara Arab ini melaporkan serangan jet-jet tempur pasukan koalisi pimpinan AS terhadap warga sipil di Deir El Zor, timur Suriah yang menyebabkan puluhan warga sipil tewas, di mana mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak
Pesawat-pesawat tempur pasukan koalisi pimpinan AS telah beberapa kali membombardir desa al-Dablan di timur Deir El Zor pada Rabu, 28 Juni 2017. Serangan ini merenggut nyawa sedikitnya 40 warga sipil.
"Koalisi (pimpinan AS) melancarkan serangan udara ke rumah warga di desa al-Dablan di wilayah Mayadin. Serangan ini menewaskan lebih dari 40 warga sipil yang sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak, dan puluhan orang terluka," tulis kantor berita SANA.
Menurut sumber tersebut, rumah-rumah penduduk juga rusak akibat serangan udara koalisi pimpinan AS, bahkan penduduk desa yang ketakutan terpaksa meninggalkan rumah mereka dan melarikan diri ke padang pasir untuk menghindari serangan susulan.
Sehari sebelumnya, jet-jet tempur koalisi pimpinan AS juga menyerang distrik al-Mayadin di Provinsi Deir El Zor dan menyebabkan 42 orang tewas. Serangan yang keluar dari kerangka PBB dan tanpa koordinasi dengan pemerintah Suriah ini telah berulang kali dilakukan oleh koalisi pimpinan AS sejak bulan Agustus 2014 dengan dalih memerangi kelompok teroris Daesh (ISIS).
Gerakan pasukan koalisi pimpinan AS dalam rangka mengarahkan Daesh dan sejalan dengan kelompok teroris Takfiri ini, di mana serangan koalisi ini terhadap rakyat Suriah merupakan satu barisan dengan kejahatan teroris di negara Arab ini.
Meskipun kebijakan yang diumumkan oleh koalisi pimpinan AS adalah memerangi teroris Daesh, namun faktanya gerakan mereka justeru melemahkan front yang memerangi terorisme.
Tujuan serangan pasukan koalisi terhadap posisi militer Suriah dan sekutunya yang berada di garis terdepan di medan tempur melawan teroris adalah untuk memberikan semangat kepada teroris dan kelompok-kelompok bersenjata yang didukung AS hingga dalam kondisi darurat dan diperlukan, mereka bisa menyiapkan ruang untuk permainan politik Negara Adidaya ini.
Skenario yang hingga sekarang diluncurkan AS terhadap Suriah adalah klaim serangan kimia ke distrik Khan Sheikhun di Idlib pada 4 April 2017. Klaim serangan kimia –yang hingga sekarang belum dilakukan penyelidikan atas hal ini– menjadi stempel atas skenario pemerintah Donald Trump, Presiden AS dan petualangan negara ini, di mana akhirnya, Trump memberikan izin atas serangan udara ke pangkalan udara al-Shayrat, Suriah.
Atas instruksi tersebut, AS meluncurkan 59 rudal Tomahawk dari dua kapal perang USS Porter dan USS Ross yang bersiaga di Laut Mediterania ke pangkalan udara al-Shayrat di timur Homs, Suriah pada 6 April 2017. Pangkalan ini merupakan pusat paling utama Suriah untuk memerangi kelompok teroris Takfiri Daesh dan Front al-Nusra. Serangan ini dilancarkan ketika hingga sekarang belum ada bukti atas keterlibatan pemerintah Suriah dalam serangan kimia di Khan Sheikhun.
Seymour Hersh, wartawan investigasi dan pakar Amerika mengatakan, militer AS memiliki informasi bahwa serangan kimia yang diklaim di Khan Sheikhun tidak pernah dilakukan. Ia dalam wawancara dengan majalah Welt am Sonntag menyinggung percakapan seorang penasihat keamanan AS dan seorang tentara negara ini di Suriah terkait dengan serangan di Khan Sheikhun. Tentara AS tersebut mengatakan, kami mengetahui bahwa serangan kimia itu tidak pernah terjadi, namun hanya serangan militer Suriah terhadap gudang senjata Daesh.
Permainan terkait Khan Sheikhun menegaskan bahwa skenario baru yang diluncurkan AS adalah awal dari petualangan lain negara ini di Suriah yang menimbulkan kekhawatiran atas kemungkinan serangan lain AS ke Suriah.
Konstantin Kosachev, Ketua Komite Hubungan Luar Negeri Senat Rusia pada Rabu mengatakan, petualangan baru AS tidak menyenangkan, bahkan seandainya para pejabat negara ini mengetahui serangan (kimia) lainnya, mereka tidak akan berupaya untuk mencegahnya, namun mereka secara sadar akan menarget Persiden Suriah (Bashar al-Assad) atau menyiapkan serangan pre-emptive ke negara ini dan menjustifikasinya.
Petualangan baru Gedung Putih atas dasar klaim persiapan Suriah untuk melancarkan serangan kimia merupakan bentuk "permainan dengan api," dan tentunya teroris dan kelompok-kelompok bersenjata bisa menyalahgunakannya untuk melakukan provokasi.
Dengan memperhatikan pengalaman dari permainan di Khan Sheikhun, Republik Islam Iran, Rusia dan Suriah telah memperingatkan segala bentuk tindakan baru anti-Damaskus oleh Washington. Sergei Lavrov, Menteri Luar Negeri Rusia pada Rabu dengan tegas mengatakan, Moskow akan merespon tepat terhadap tindakan provokatif Washington terhadap Suriah.
Situs Israel, DEBKAfile yang dekat dengan bagian keamanan rezim Zionis Israel juga menulis, kehadiran Bashar al-Assad, Presiden Suriah di pangkalan militer Hmeimim di Latakia menunjukkan kesiapan Suriah dan Rusia untuk menghadapi serangan AS. (RA)