Anggota Parlemen Irak: Oman, "Mangsa" Saudi setelah Qatar
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i40576-anggota_parlemen_irak_oman_mangsa_saudi_setelah_qatar
Seorang anggota parlemen Irak mengkritik langkah-langkah para pejabat Arab Saudi di kawasan dan mengatakan, setelah Qatar, "mangsa" berikutnya Mohammad bin Salman, Putra Mahkota baru Arab Saudi adalah Oman.
(last modified 2026-02-17T10:03:26+00:00 )
Jul 06, 2017 06:20 Asia/Jakarta
  • Anggota Parlemen Irak: Oman,

Seorang anggota parlemen Irak mengkritik langkah-langkah para pejabat Arab Saudi di kawasan dan mengatakan, setelah Qatar, "mangsa" berikutnya Mohammad bin Salman, Putra Mahkota baru Arab Saudi adalah Oman.

Seperti dilansir Alalam, Rabu (5/7/2017), Mash'an al-Jabouri, wakil Provinsi Salahuddin di Parlemen Irak di laman Twitter-nya menulis, jika empat negara yang mengembargo Qatar mencapai tujuan-tujuannya, mereka akan menggulingkan Emir Qatar, dan target berikutnya adalah konspirasi anti-Oman, sebab, negara ini menentang agresi ke Yaman.

Ia menambahkan, berita yang datang dari Arab Saudi menunjukkan bahwa Mohammad bin Salman telah menyiapkan pasukan untuk menyerang Qatar, namun karena dukungan Turki, Iran dan Rusia kepada Doha, maka setiap orang yang menyerang Qatar akan menjadi mangsa api.

Menurut surat kabar al-Watan terbitan Arab Saudi, menyusul semakin dekatnya tenggat waktu yang ditentukan oleh empat negara Arab yang mengembargo Qatar untuk menerima tuntutan mereka, isu mengenai serangan militer ke Doha menguat.

Sumber-sumber pemberitaan telah menyinggung peta serangan militer Arab Saudi dan Uni Emirat Arab ke Qatar, namun semua perimbangan itu hancur menyusul penempatan pasukan Turki di Qatar, di mana hal ini menyulut kemarahan Arab Saudi dan UEA terhadap Turki.

Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Mesir dan Bahrain memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar pada tanggal 5 Juni 2017 atas tuduhan bahwa pemerintah Doha mendukung kelompok-kelompok teroris.

Pada 23 Juni, empat negara Arab itu mengajukan 13 syarat untuk normalisasi hubungan dengan Qatar, di mana tenggat waktunya habis pada tanggal 2 Juli 2017. Namun dengan mediasi Kuwait, tenggat waktu tersebut diperpanjang hingga 48 jam yaitu sampai Selasa malam, 4 Juli 2017

Tuntutan terpenting Arab Saudi dan sekutunya adalah pemutusan hubungan Qatar dengan Republik Islam Iran dan Hizbullah Lebanon, penghentian penuh jaringan Aljazeera dan penutupan pangkalan militer Turki di Qatar.

Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, Menteri Luar Negeri Qatar pada Senin malam menyerahkan jawaban tertulis Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, Emir Qatar terkait syarat-syarat Arab Saudi kepada Sheikh Sabah al-Ahmad al-Jaber al-Sabah, Emir Kuwait.

Kuwait juga segera menyerahkan jawaban Qatar tersebut kepada Arab Saudi, Mesir, UEA dan Bahrain pada Selasa malam.

Menlu empat negara tersebut kemudian menggelar pertemuan di Mesir pada Rabu untuk mengevaluasi jawaban Qatar.

Sameh Sukri, Menlu Mesir pasca pertemuan itu mengatakan, Qatar memberikan jawaban negatif terhadap 13 syarat dari empat negara Arab ini.

Adel al-Jubeir, Menlu Arab Saudi usai pertemuan tersebut juga mengatakan bahwa Riyadh dan sekutunya akan mengambil langkah baru anti-Doha di waktu yang tepat. (RA)