Jawaban Iran atas Klaim Uni Emirat Arab
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Republik Islam Iran, Bahram Qassemi menilai keliru dan penuh ilusi statemen menlu Uni Emirat Arab (UEA) terkait Tehran. Seraya mengisyaratkan petualangan negara ini di kawasan, Qassemi merekomendasikan Abu Dhabi mengakhiri kebijakan destruktif, gagal dan pemicu tensi.
Bahram Qassemi menegaskan, "Sangat disayangkan Abu Dhabi selama beberapa tahun terakhir menciptakan banyak kesulitan di kawasan dengan kebijakan petualangan dan di luar kapasitasnya. Di antaranya partisipasi di perang dan pertumpahan darah warga tak berdosa Yaman, upaya menduduki sebagian wilayah Yaman, intervensi di Libya dan memprovokasi pemerintah regional untuk memblokade dan menjatuhkan sanksi negara lain. Sangat penting bagi Abu Dhabi untuk mengakhiri kebijakan merusak, gagal dan pengobaran tensi tersebut."
Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab, Abdullah bin Zayed Al Nahyan Selasa (29/8) saat jumpa pers bersama sejawatnya dari Rusia, Sergei Lavrov di Abu Dhabi menuding Republik Islam Iran dan Turki berusaha melemahkan kredibilitas pemerintah Suriah. Ia mengklaim intervensi ini dan upaya mereka (Iran dan Turki) memaksakan hegemoni baru mencegah pencapaian solusi bagi krisis Suriah.
Klaim ini meluncur di saat dialog Suriah-Suriah di koridor perundingan Astana yang digagas Iran, Rusia dan Turki serta didukung PBB serta demi perundingan Jenewa, peluangnya terbuka lebar.
Hossein Royvaran, pengamat politik hari Rabu (30/8) saat diwawancarai Televisi Aljazeera menjelaskan, Iran mendukung pemerintahan Suriah dan tidak pernah berusaha mengganti pemerintah Damaskus, namun Uni Emirat Arab menduduki Yaman dan sejumlah pulau negara ini serta menunjuk seorang komandan militer di Provinsi Hadramaut.
Sikap seperti ini harus dilihat akarnya di Washington. Yousef Al Otaiba, dubes Uni Emirat Arab di Amerika Serikat beberapa waktu lalu saat diwawancarai The Atlantic mengatakan, "...Kita menghadapi dua ancaman di kawasan. Pertama Iran dan yang lainnya radikalisme serta terorisme."
Saat menjawab pertanyaan terkait kecenderungan pemerintah Uni Emirat Arab terhadap Presien AS, Donald Trump, ia menekankan, "Alasan kecondongan Uni Emirat Arab kepada Trump adalah ia menilai Iran sebagai bagian dari masalah dan bukannya bagian dari solusi."
Meski Uni Emirat Arab tergila-gila kepada Trump, sejumlah pejabat Amerika mengaku khawatir atas angan-angan tinggi Mohammad bin Zayed, putra mahkota Abu Dhabi dan menteri luar negeri Uni Emirat Arab.
Koran Washington Post di laporannya terkait hal ini membongkar peran Uni Emirat Arab di sabotase upaya dan langkah-langkah perdamaian di Yaman. UEA ketika menuding Iran mengobarkan instabilitas di kawasan, negara ini terlibat dukungan penuh baik senjata, finansial dan intelijen kepada rezim Zionis dalam menumpas rakyat tertindas Palestina serta selama beberapa tahun terakhir berpartisipasi dalam pembantaian warga tak berdaya Yaman di koalisi Arab pimpinan Arab Saudi.
Seperti yang dijelaskan Qassemi beberapa lalu bahwa negara-negara tersebut lebih baik memikirkan stabilitas dengan menghormati hak setiap bangsa dalam menentukan nasibnya sendiri ketimbang membelanjakan miliaran dolar kekayaan rakyatnya dengan imbalan dukungan fiktif Amerika Serikat. (MF)