PM Zionis Puji Pernyataan Presiden AS terkait Iran
-
Benjamin Netanyahu, PM rezim Zionis Israel.
Perdana Menteri rezim Zionis Israel mengapresiasi pernyataan anti-Republik Islam Iran yang dilontarkan oleh Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa keputusan Trump terkait dengan perjanjian nuklir JCPOA (Rencana Aksi Bersama Komprehensif) sebagai keputusan yang berani. Demikian dilansir IRIB, Sabtu (14/10/2017).
Netanyahu sebelum ini juga berulang kali sejalan dan mendukung Trump yang menyebut JCPOA sebagai kesepakatan terburuk dan menuntut pembatalan perjanjian internasional ini.
PM rezim Zionis –tanpa menyinggung kepemilikan Israel atas ratusan hulu ledak nuklir di arsenal senjatanya– menuding Iran sedang mengejar senjata atom.
Klaim konyol Netanyahu tersebut dilontarkan ketika Badan Eneri Atom Internasional (IAEA), PBB dan Dewan Keamanan selalu mengakui aktivitas damai nuklir Iran.
Presiden AS pada Jumat petang mengabaikan delapan laporan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) yang menegaskan komitmen Iran terhadap JCPOA. Trump mengatakan bahwa ia tidak akan mengkonfirmasi komitmen Iran terhadap perjanjian nuklir ini. Kebijakan baru pemerintah AS tersebut tentunya bertujuan untuk merusak kesepakatan internasional JCPOA.
Usai pengumuman kebijakan baru pemerintah AS, Uni Eropa dan banyak negara dunia mengumukan akan sepenuhnya mendukung JCPOA seperti sebelumnya. Hanya Israel dan sejumlah rezim reaksioner Arab di kawasan (rezim Al Saud, Al Khalifa dan Al Nahyan) yang mendukung pernyataan Trump.
Presiden AS juga mengulang kembali tuduhan palsu terhadap Iran dan mengklaim bahwa Tehran mendukung terorisme. Trump kemudian memasukkan Pasukan Garda Revolusi Islam Iran (Pasdaran/IRGC) ke dalam daftar sanksi.
AS memasukkan Pasdaran ke dalam daftar sanksi ketika pasukan ini memiliki peran mendasar dalam memberantas teroris Daesh (ISIS) di Suriah dan Irak, di mana menurut pengakuan pejabat AS sendiri, Daesh adalah bentukan Washington.
Selama ini, atas permintaan resmi pemerintah Suriah dan Irak, Pasdaran telah memberikan bantuan penasihat militer kepada kedua negara Arab ini untuk menumpas kelompok-kelompok teroris takfiri yang didukung oleh AS, di mana Trump tidak akan dapat menerima tindakan tersebut.
Presiden AS dalam pidatonya juga mengabaikan berbagai dokumen Kementerian Luar Negeri negaranya dan menggunakan nama palsu dengan Teluk Arab ketika menyebut Teluk Persia.
Usai pernyataan itu, Hassan Rouhani, Presiden Iran meminta Trump untuk memahami sejarah dan geografi dunia guna meningkatkan pemahamannya tentang kewajiban internasional, dan etika, etiket serta konvensi global. (RA)