Saudi Dukung Statemen Anti-Iran Presiden Amerika
-
Donald Trump dan Raja Salman
Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz, Sabtu (14/10) melakukan pembicaraan telepon dengan Presiden Amerika Serikat dan menyatakan dukungan atas statemen anti-Iran yang disampaikan Donald Trump.
Di saat mayoritas negara dunia dan organisasi internasional, bahkan beberapa pejabat Amerika sendiri menyebut statemen anti-Iran, Donald Trump melanggar aturan diplomasi, memalukan dan tidak bernilai, Raja Salman justru menyambut strategi baru Amerika terkait Iran.
Sebelumnya, rezim Saudi bersama Bahrain dan Uni Emirat Arab juga menyatakan dukungannya atas statemen Trump yang menyerang Iran.
Presiden Amerika, Jumat (13/10) dengan mengabaikan delapan laporan Badan Energi Atom Internasional, IAEA yang menegaskan komitmen Iran atas kesepakatan nuklir, mengumumkan, saya tidak setuju jika Iran dianggap memegang komitmen Rencana Aksi Bersama Komprehensif, JCPOA.
Hal ini disampaikan oleh Presiden Donald Trump dalam rangka upayanya mencabut kesepakatan nuklir Iran.
Uni Eropa dan sejumlah banyak negara dunia pasca pidato Trump mengatakan, seperti sebelumnya, kami akan mendukung penuh JCPOA.
Trump juga kembali menuduh Iran mendukung terorisme dan memasukkan Pasukan Garda Revolusi Islam Iran, Pasdaran yang memainkan peran asasi dalam memerangi teroris dukungan Amerika dan sekutu-sekutunya terutama Saudi, UEA dan Bahrain, di Suriah dan Irak, ke dalam daftar organisasi teroris.
Pasdaran terjun dalam perang menumpas kelompok teroris Takfiri di Irak dan Suriah atas permintaan resmi pemerintah kedua negara itu, dengan mengirim para penasehat militernya. Langkah tersebut ternyata tidak disukai oleh Trump dan sekutu-sekutunya.
Presiden Amerika dalam pidatonya juga menggunakan istilah Teluk Arab untuk menyebut Teluk Persia, tanpa memperhatikan bukti sejarah dan dokumen Kementerian Luar Negeri negara itu. (HS)