Perang Suriah, Buah Konspirasi AS dan Negara Arab
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i46358-perang_suriah_buah_konspirasi_as_dan_negara_arab
Mantan perdana menteri sekaligus menteri luar negeri Qatar dalam sebuah pidato mengungkap dukungan negaranya atas para teroris dan kelompok bersenjata di Suriah lewat Arab Saudi dan Turki dengan koordinasi pasukan Amerika Serikat dan beberapa pihak lain.
(last modified 2026-04-16T09:59:01+00:00 )
Okt 29, 2017 15:02 Asia/Jakarta

Mantan perdana menteri sekaligus menteri luar negeri Qatar dalam sebuah pidato mengungkap dukungan negaranya atas para teroris dan kelompok bersenjata di Suriah lewat Arab Saudi dan Turki dengan koordinasi pasukan Amerika Serikat dan beberapa pihak lain.

Hamad bin Jassim Al Thani, mantan PM dan Menlu Qatar dalam salah satu pidatonya mengatakan, Saudi menyerahkan kasus Suriah kepada Qatar sehingga bisa menjalankan kebijakan-kebijakannya lewat tangan Doha, dan bukti-bukti kuat terkait penyerahan kasus ini bisa diakses.

Beberapa kali pembocoran rahasia terkait realitas krisis Suriah berhasil menyedot perhatian publik dunia bahwa perang Suriah dapat dipahami sebagai buah dari intervensi negara-negara Barat dan sebagian Arab serta penyalahgunaan aksi unjuk rasa warga Suriah yang menuntut reformasi.

Barat dan beberapa negara Arab memberikan dukungan kepada teroris serta mengirim ribuan milisi bersenjata ke Suriah sehingga aksi-aksi unjuk rasa warga negara itu berubah menjadi aksi teror. Negara-negara Barat bermaksud menggulingkan pemerintahan konstitusional Suriah pimpinan Bashar Al Assad dengan memanfaatkan aksi unjuk rasa damai warga.

Padahal mayoritas rakyat Suriah beberapa kali menunjukkan dukungannya atas Assad. Pada pemilu presiden Suriah yang digelar 3 Juni 2014 lalu, untuk ketiga kalinya Assad terpilih sebagai presiden negara itu.

Intervensi destruktif asing pimpinan Amerika Serikat dan bantuan Saudi bersama beberapa negara kawasan lain di Suriah, tidak menciptakan sebuah interaksi konstruktif antara masyarakat dan pemerintah dalam kerangka reformasi politik, tapi justru menjerumuskan Suriah ke dalam perang total.

Berubahnya sebagian aksi demonstrasi damai warga Suriah menjadi kerusuhan, akibat pengiriman anasir-anasir teroris ke Suriah dan dukungan total atas mereka, secara praktis telah menyeret Suriah ke jurang krisis yang berlangsung selama enam tahun. Dampak krisis ini bukan saja terbatas di Suriah dan kawasan, tapi dunia.

Situasi krisis regional adalah buah kesalahan para politikus sejumlah negara kawasan sendiri termasuk Saudi, Qatar dan Turki. Berlanjutnya kebijakan negara-negara itu dapat menjerumuskan seluruh kawasan ke dalam perang dan instabilitas yang lebih besar.

Secara umum, konspirasi terhadap Suriah harus dicermati dalam kerangka intervensi transregional dan regional Timur Tengah oleh Barat dengan tujuan memecah belah dan melemahkan negara-negara kawasan. Pada saat yang sama, sejumlah negara Arab seperti Saudi, juga Turki sudah berubah menjadi pemasok dana, teroris dan persenjataan untuk melancarkan proyek Amerika di kawasan.

Dalam situasi seperti ini, peninjauan ulang secara mendasar kebijakan-kebijakan terkait Suriah oleh sejumlah negara kawasan seperti Saudi, Qatar dan Turki, dan menolak menerima dikte Amerika dan Saudi, sangat urgen bagi penyelesaian krisis-krisis di kawasan.

Gerakan semacam ini dapat menjadi langkah efektif untuk membalas kesalahan-kesalahan di masa lalu dan kembali ke jalur yang benar serta memainkan peran konstruktif dalam rangka membantu penyelesaian krisis-krisis regional termasuk krisis Suriah. (HS)