Mesir Tegas Tolak Kebijakan Arab Saudi yang Anti Hizbullah
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i46655-mesir_tegas_tolak_kebijakan_arab_saudi_yang_anti_hizbullah
Presiden Mesir menekankan bahwa sekalipun ada permintaan dari Arab Saudi kepada negara-negara Arab untuk mengembargo Hizbullah, tapi Kairo masih belum memikirkan untuk mengambil langkah terhadap Hizbullah. Abdel Fattah al-Sisi, Presiden Mesir berkali-kali menegaskan bahwa Kairo di kancah internasional dan regional tidak akan mengikuti dan menaati Riyadh.
(last modified 2026-04-24T16:42:03+00:00 )
Nov 09, 2017 11:16 Asia/Jakarta

Presiden Mesir menekankan bahwa sekalipun ada permintaan dari Arab Saudi kepada negara-negara Arab untuk mengembargo Hizbullah, tapi Kairo masih belum memikirkan untuk mengambil langkah terhadap Hizbullah. Abdel Fattah al-Sisi, Presiden Mesir berkali-kali menegaskan bahwa Kairo di kancah internasional dan regional tidak akan mengikuti dan menaati Riyadh.

Dalam kerangka ini, Abdel Fattah al-Sisi dalam wawancaranya dengan televisi CNBC Amerika menjelaskan, sesuai dengan apa yang terjadi di Suriah, Irak, Yaman dan Libya, stabilitas keamanan di Timur Tengah sangat lemah dan kawasan tidak mampu menanggung ketegangan baru.

Arab Saudi yang merupakan sekutu Mesir mengklaim bahwa Hizbullah Lebanon harus dilucuti senjatanya dan dikeluarkan dari pemerintah Lebanon. Arab Saudi sendiri dalam proses pengunduran diri Saad Hariri dari jabatan perdana menteri Lebanon berusaha menyebut langkah yang diambil Hariri dikarenakan kebijakan Hizbullah.

Saad Hariri hari Sabtu (4/11) menyampaikan pengunduran dirinya dari jabatan perdana menteri Lebanon dari Riyadh. Dalam proses ini, Hariri berada dalam pengaruh Arab Saudi dan menyampaikan kebijakan yang telah didiktekan para pejabat Saudi dalam kerangka Iranphobia dan anti front Mqawama.

Pernyataan pengunduran diri Saad Hariri di Arab Saudi dan pernyataan anti Iran dan Hizbullah Lebanon-nya secara gamblang menunjukkan bahwa rezim Al Saud dan rezim Zionis Israel memainkan peran utama pengunduran diri Saad Hariri dengan tujuan menciptakan krisis politik di Lebanon dan membuat negara ini terjebak dalam instabilitas keamanan.

Dengan mencermati masalah ini, presiden Mesir menyinggung instabilitas di kawasan, termasuk Irak, Suriah, Libya dan Yaman secara tidak langsung mengritik peran Arab Saudi menebar fitnah lewat dukungannya terhadap para teroris dan sibuk berperang yang berujung pada instabilitas Timur Tengah. Reaksi Mesir menunjukkan bahwa Arab Saudi gagal menarik dukungan para sekutunya, sekalipun dengan menebar kebijakan fitnah di Lebanon.

Sikap Mesir terkait apa yang terjadi di Lebanon adalah mengambil jarak dari kebijakan tidak logis dan interventif Arab Saudi di kawasan. Beberapa waktu lalu, Mesir meninjau kembali kebijakannya dalam mengikuti Arab Saudi terkait perkembangan Irak dan Suriah. Masalah ini menimbulkan sejumlah perselisihan di antara Kairo dan Riyadh.

Pada dasarnya, hubungan kedua negara, Mesir dan Lebanon selama  ini berlangsung dalam atmosfir saling menghormati. Lebanon dengan memiliki variabel bernilai seperti Hizbullah yang menghadapi rezim Zionis Israel dan para teroris Takfiri di kawasan memiliki posisi istimewa di tengah masyarakat Mesir. Opini publik di negara-negara Arab menilai Hizbullah Lebanon sebagai simbol kekuatan dunia Arab. Mereka yakin bahwa tanpa bantuan Hizbullah dalam memerangi kelompok-kelompok teroris Daesh (ISIS) di Suriah, maka bendera Daesh dan seluruh kelompok teroris Takfiri yang didukung Arab Saudi telah dikibarkan di sejumlah negara-negara Arab.

Selain itu, kekalahan yang dialami rezim Zionis Israel di kawasan akibat perjuangan Hizbullah dan front Muqawama seluruh pasukan Muqawam lainnya di kawasan, seperti pasukan Palestina. Bila tidak karena perjuangan pasukan Muqawama di kawasan, maka Timur Tengah akan menyaksikan periode baru penjajahan rezim Zionis Israel.

Pemerintah al-Sisisi berusaha menerapkan kebijakan luar negeri yang lebih independen, berbeda dengan negara-negara kecil Arab yang berada dalam tekanan Saudi agar menyesuaikan kebijakan luar negerinya dengan Riyadh. Qatar sebagai bagian dari negara-negara Teluk Persia juga sekarang tidak sudi melanjutkan kerjasamanya dengan Arab Saudi.