Pengkhianatan Arab Atas Bangsa Palestina
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i48073-pengkhianatan_arab_atas_bangsa_palestina
Presiden Republik Islam Iran, Hassan Rouhani bertolak menuju Turki hari ini (Selasa,12/12/2017) untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Organisasi Kerjasama Islam (OKI) di Istanbul pada Rabu besok.
(last modified 2026-04-24T16:42:03+00:00 )
Des 12, 2017 11:12 Asia/Jakarta

Presiden Republik Islam Iran, Hassan Rouhani bertolak menuju Turki hari ini (Selasa,12/12/2017) untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Organisasi Kerjasama Islam (OKI) di Istanbul pada Rabu besok.

Sidang ini sangat penting sebagai reaksi kolektif pertama negara-negara Muslim terhadap keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk memindahkan kedutaannya dari Tel Aviv ke kota al-Quds, Palestina.

Dalam beberapa hari ini, sebagian besar negara Muslim menyaksikan protes besar-besaran untuk menolak keputusan AS yang mengakui al-Quds sebagai Ibukota rezim Zionis Israel.

Selain itu, banyak dari negara-negara sekutu AS baik di Timur Tengah maupun di Eropa, menentang keputusan Gedung Putih dan kali ini Washington benar-benar terkucil di antara sekutunya.

Menurut banyak analis, AS berani mengusik al-Quds dan menginjak semua pencapaian perundingan damai Timur Tengah, disebabkan oleh hubungan gelap beberapa negara Arab regional dengan Israel.

Delegasi Bahrain baru-baru ini melakukan kunjungan ke wilayah pendudukan. Sebuah perjalanan yang menunjukkan bagaimana Al Khalifa menikam gerakan intifada bangsa Palestina dari belakang.

Arab Saudi adalah salah satu negara lain yang bahkan tidak ingin menutupi hubungannya dengan rezim penjajah. Kegiatan saling kunjung di antara kedua pihak menunjukkan bahwa keputusan AS memindahkan kedutaannya ke kota suci umat Islam, tidak akan terjadi jika tanpa lampu hijau dari beberapa rezim pengkhianat di Timur Tengah.

Presiden Rouhani dalam sebuah pidato di gedung Parlemen Iran, Senin kemarin, meminta Arab Saudi untuk mengakhiri hubungannya dengan rezim Zionis. "Kami ingin Arab Saudi menghentikan dua hal; persahabatan yang salah arah dengan Israel dan pemboman Yaman yang tidak manusiawi."

Ini adalah sebuah sikap tegas dan jika seruan ini kembali disampaikan pada KTT Istanbul, maka para pemimpin Muslim diharapkan akan terbangun dari tidur lelapnya.

Beberapa negara Arab telah mengkhianati perjuangan bangsa Palestina dan mereka membangun hubungan dengan Israel demi mempertahankan monarkinya. Sudah seharusnya mereka belajar dari nasib semua diktator yang menambatkan hatinya pada dukungan AS dan Israel.

Diktator Mesir Hosni Mubarak atau Raja Iran terakhir, Shah Reza Pahlavi, termasuk di antara para penguasa di dunia Muslim yang gagal menyelamatkan tahktanya meskipun memperoleh dukungan besar dari AS dan Israel.

Keputusan Washington untuk memindahkan kedutaannya ke al-Quds, semakin memperlihatkan konspirasi Amerika-Zionis untuk menghancurkan Masjid al-Aqsa, dan negara-negara yang ingin bekerjasama dengan mereka akan menghadapi guncangan dari dalam.

Rezim-rezim seperti Al Khalifa dan Al Saud, sebagai pemerintah pertama yang menjalin hubungan mesra dengan Tel Aviv, harus siap menyambut kemarahan bangsa Arab dan tidak jelas bagaimana nasib mereka ke depan.

KTT OKI di Istanbul adalah sebuah kesempatan bagi semua negara Muslim untuk setidaknya mengadopsi satu posisi tunggal untuk pembebasan al-Quds dan menunjukkan kalau mereka peduli dengan masalah Palestina.

Mungkin jika rezim Saudi – daripada mengebom Yaman – bersama dengan negara-negara Muslim lainnya melawan rezim Zionis, maka mereka dapat membebaskan dirinya dari rasa tidak nyaman yang mereka ciptakan sendiri. (RM)