Sambutan Rakyat Lebanon atas Seruan Hizbullah Bela Al Quds
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i48085-sambutan_rakyat_lebanon_atas_seruan_hizbullah_bela_al_quds
Aksi unjuk rasa membela Al Quds, Senin (11/12) di selatan Beirut, diikuti oleh puluhan ribu orang dan perwakilan partai-partai politik Lebanon.
(last modified 2026-05-10T18:00:53+00:00 )
Des 12, 2017 14:16 Asia/Jakarta

Aksi unjuk rasa membela Al Quds, Senin (11/12) di selatan Beirut, diikuti oleh puluhan ribu orang dan perwakilan partai-partai politik Lebanon.

Demonstrasi rakyat Lebanon itu adalah bentuk reaksi atas keputusan terbaru Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengakui Al Quds sebagai ibukota rezim Zionis Israel. Hari Kamis (8/12) Sayid Hassan Nasrullah, Sekjen Hizbullah dalam pidatonya, menyeru seluruh lapisan masyarakat Lebanon untuk turun ke jalan menunjukkan pembelaannya atas Al Quds.

Para demonstran membawa plakat berisi kecaman atas keputusan Trump dan menegaskan bahwa Al Quds adalah ibukota abadi Palestina. Dalam aksi itu, Sayid Hassan Nasrullah berorasi lewat video conference. Ia memuji demonstrasi yang digelar beberapa hari terakhir di Lebanon dan di sejumlah negara lain, serta meminta agar aksi tersebut berlanjut.

Sayid Hassan Nasrullah mengatakan, Trump mengira dengan mengakui Al Quds sebagai ibukota Israel, ia akan didukung dunia dan seluruh negara berlomba-lomba untuk bergabung dengan Amerika, namun kenyataannya ia justru menuai kecaman dari dunia dan semakin terkucil. Sekjen Hizbullah menyebut keputusan Trump itu sebagai awal dari kebinasaan Israel.

Demonstrasi dan unjuk rasa warga untuk mendukung kota Baitul Maqdis yang diduduki penjajah, merupakan gerakan yang urgen sebagai bentuk perlawanan atas kubu penjajah dan keputusan Amerika terkait Al Quds. Oleh karena itu, para analis meyakini bahwa jawaban paling tepat atas langkah Trump saat ini adalah dimulainya Intifada Palestina di seluruh wilayah Palestina.

Akan tetapi hal yang perlu diperhatikan dalam pidato Sayid Hassan Nasrullah adalah proses keruntuhan Israel dan berubahnya keputusan Trump menjadi hitung mundur proses ini. Reaksi luas dunia baik di tingkat pemerintah maupun warga terhadap statemen Trump yang mengakui Al Quds sebagai ibukota Israel dan pemindahan kedutaan besar Amerika dari Tel Aviv ke Al Quds, tidak pernah terjadi sebelumnya.

demo bela Al Quds di Beirut

Masalah ini membuktikan kebangkitan luas masyarakat dunia melawan manuver Amerika yang ingin mengokohkan pendudukan Israel di kawasan. Poin penting lainnya yang disampaikan Sayid Hassan Nasrullah dalam pidatonya adalah, Trump dengan keputusan kontroversialnya itu telah melakukan kesalahan mendasar yang bisa menimbulkan reaksi lebih luas dari berbagai lapisan masyarakat, termasuk kalangan akademisi.

Profesor John Joseph Mearshmeier, pengajar di Universitas Chicago sekaligus penggagas teori Offensive Realism dalam pidatonya hari Senin (11/12) di Universitas Tehran mengatakan, langkah pemerintah Amerika terkait pengakuan atas Al Quds sebagai ibukota Israel, adalah kesalahan besar dalam kebijakan luar negeri Washington.

Dukungan total Amerika atas Israel menunjukkan bahwa Washington bukanlah pihak yang dapat dipercaya dan bukan mediator yang netral dalam upaya membantu penyelesaian berbagai krisis di kawasan Timur Tengah, secara adil, terutama krisis Palestina. Kesalahan semacam itu dapat semakin mengucilkan Amerika di level global dan bisa mempercepat keruntuhan Israel.

Ini adalah realitas yang berulangkali diakui sendiri oleh para politisi Amerika dan disampaikan dalam laporan-laporan mereka. Beberapa waktu lalu, Dinas Intelijen Amerika, CIA dalam laporannya menjelaskan, Israel tidak akan bertahan hingga beberapa tahun ke depan dan akan kehilangan eksistensinya.

Jeff Gates, salah satu analis terkemuka Amerika mengatakan, hasil sejumlah penelitian di beberapa universitas menunjukkan bahwa keruntuhan Israel yang hampir pasti itu, diperkirakan akan terjadi dalam beberapa tahun mendatang. Kebangkitan luas masyarakat kawasan termasuk demonstrasi anti-Amerika dan anti-Zionis di Lebanon, membuktikan bahwa publik dunia sebenarnya menolak dikte Amerika untuk kawasan.

Di sisi lain, penyadaran para pemimpin gerakan perlawanan di kawasan, selain semakin mengungkap kebusukan pemerintah Amerika dan Israel, juga mengabarkan akhir kejadian yang mereka harapkan. (HS)