Di Konferensi Al Quds Kecam Iran, Arab Dukung Palestina atau Israel ?
Parlemen Arab, Kamis (28/12) menggelar pertemuan bertema "Al Quds Ibukota Abadi Negara Palestina" di Kairo, Mesir, akan tetapi pertemuan tersebut justru berubah menjadi arena yang menguntungkan bagi para pendukung rezim Zionis Israel.
Dalam pertemuan Parlemen Arab di Kairo, masalah yang dibahas keluar dari tema aslinya yaitu Palestina, dan sebaliknya menjadi momen yang menguntungkan Israel, sedangkan isu Palestina tersingkirkan dari meja konferensi. Parlemen Arab justru mengesahkan sebuah draf usulan anti-Iran yang jelas tidak pada tempatnya dan menunjukkan bahwa negara-negara Arab masih berada di bawah ketiak Arab Saudi.
Dalam pernyataan anti-Iran di pertemuan Parlemen Arab, Iran kembali dituduh mencampuri urusan dalam negeri negara-negara Arab seperti Yaman, dan Tehran dianggap ancaman bagi keamanan nasional negara-negara Arab..
Untungnya, pandangan realistis wakil Irak dalam pertemuan itu menunjukkan bahwa masalah Al Quds merupakan dalih bagi negara-negara yang bergantung pada Saudi untuk menyerang Iran, negara yang terbukti sebagai pendukung asli bangsa-bangsa tertindas kawasan terutama Palestina.
Perang verbal wakil Irak dengan Bahrain dalam pertemuan Parlemen Arab di Kairo adalah indikasi besarnya kemarahan para penguasa Arab atas pengaruh Iran di kawasan. Adel Al Asoomi, wakil Bahrain menuturkan, Bahrain bukan hanya tidak merasa bangga karena berhubungan dengan Iran, bahkan menganggap hubungan seluruh negara Arab dengan Iran sebagai noda hitam.
Sebaliknya Abbas Al Bayati, wakil Irak dalam pertemuan Parlemen Arab di Kairo menegaskan, Baghdad bangga menjalin hubungan dengan Iran dan bukan hanya Irak, beberapa negara pesisir Teluk Persia yang lainpun demikian.
Di saat menuduh Iran mencampuri urusan dalam negeri negara-negara Arab dan menganggap hubungan dengan Iran sebagai noda hitam, Bahrain dan Saudi justru mesra menjalin hubungan dengan Israel. Ini adalah pengkhianatan besar terhadap rakyat Palestina. Tentunya sikap para penguasa Arab itu bertolak belakang dengan cita-cita bangsa Muslim dan Arab.
Dukungan atas Palestina adalah keinginan seluruh bangsa Muslim dunia dan mereka membenci sikap sebagian penguasa Arab yang menjalin hubungan dengan Israel, musuh utama umat Islam. Namun demikian, langkah anti-Iran yang diambil Bahrain dan Saudi di pertemuan Parlemen Arab Kairo tidak akan pernah bisa mengubah kenyataan, dan hubungan penguasa Arab dengan Israel tidak bisa ditutupi hanya dengan retorika.
Hari ini publik dunia Islam sudah menyadari bahwa Saudi dan Bahrain adalah pengkhianat, pasalnya mereka bekerjasama dengan Israel dan mengorbankan kepentingan bangsa Arab sendiri terutama bangsa Palestina. Wakil Bahrain di pertemuan Parlemen Arab di Kairo menganggap hubungan dengan Iran tidak patut dibanggakan, sementara negaranya dan Saudi sibuk melakukan negosiasi dengan Israel untuk memulihkan hubungan.
Simon Aran, salah seorang jurnalis Israel, Kamis (28/12) mengutip sumber Tel Aviv mengatakan, sebuah delegasi yang terdiri dari tiga orang termasuk seorang pejabat tinggi Saudi, berkunjung ke Israel. Sebelumnya, tanggal 9 Desember 2017 delegasi pejabat Bahrain juga berkunjung ke Israel untuk melakukan negosiasi.
Hubungan memalukan semacam ini dicatat dalam sejarah bangsa Arab dan terjadi di saat pembantaian terhadap rakyat Palestina oleh militer Israel terus berlangsung, ditambah keputusan Amerika mengakui Al Quds sebagai ibukota Israel. Semuanya adalah uluran tangan persahabatan terhadap para perampok dan penjajah tanah Palestina.
Di sisi lain, Iran terbukti menjadi satu-satunya suara lantang yang nyata-nyata mendukung Palestina. Hassan Hanizadeh, salah seorang pengamat Timur Tengah dalam wawancara dengan Iranpress mengatakan, keputusan Parlemen Iran menekan pemerintah untuk mengerahkan seluruh kemampuan yang dimiliki untuk mengakui Al Quds sebagai ibukota abadi Palestina, merupakan langkah strategis. (HS)