"Deal of the Century" dan Gagalnya Impian Trump
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i49607-deal_of_the_century_dan_gagalnya_impian_trump
Anggota Komite Eksekutif Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) mengatakan, kesepakatan abadi, "Deal of the Century" yang diprakarsai Amerika Serikat adalah dalam kerangka menghapus semua isu Palestina.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jan 10, 2018 12:45 Asia/Jakarta
  • Donal Trump, Presiden AS (paling kanan)
    Donal Trump, Presiden AS (paling kanan)

Anggota Komite Eksekutif Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) mengatakan, kesepakatan abadi, "Deal of the Century" yang diprakarsai Amerika Serikat adalah dalam kerangka menghapus semua isu Palestina.

Ahmed al-Majdalani mengatakan hal itu dalam sebuah wawancara seperti dikutip Qodsna, Selasa, 9 Januari 2018. Ia menambahkan, pemerintah AS telah menginformasikan kepada Arab Saudi tentang rincian Deal of the Century dan Mohammed bin Salman, Putra Mahkota Arab Saudi juga telah menyampaikan kesepakatan itu kepada Mahmoud Abbas, Pemimpin Otorita Palestina. 

Menurut pandangan opini publik dan kalangan politik regional, Deal of the Century adalah sebuah proyek besar untuk menghapus semua isu Palestina dan dalam kerangka membentuk koalisi yang melibatkan rezim Zionis Israel untuk menarget Front Muqawama (perlawanan) di kawasan.

Dalam kerangka perencanaan baru terkait Palestina tersebut, Donald Trump, Presiden AS pada 6 Desember 2017 mengumumkan al-Quds sebagai ibukota rezim penjajah, Zionis Israel. Trump juga menginstruksikan Kementerian Luar Negeri AS untuk memindahkan Kedutaan Besar negara ini dari Tel Aviv ke al-Quds. Keputusan Presiden AS ini menyulut kemarahan luas rakyat Palestina dan menuai kecaman internasional.

Perencanaan baru dan berbahaya AS diluncurkan menyusul kunjungan luar negeri perdana Trump ke Arab Saudi pada Mei 2017 dan kontrak makro-ekonomi dan militer dengan para pejabat Riyadh. Mengingat perencanaan Trump ini adalah untuk sepenuhnya mengakhiri krisis Palestina yang menguntungkan rezim Zionis, maka rencana tesebut adalah perencanaan yang paling berbahaya yang disusun oleh AS untuk menghapus cita-cita rakyat Palestina dan menutup kasus Palestina.

Kalangan politik menilai konspirasi baru dan gabungan Arab Saudi-AS tersebut sebagai operasi terbesar Washington dan sekutu Arabnya untuk menghapus isu Palestina. Dalam beberapa kasus, para pejabat AS bakan memiliki pandangan tentang masalah "tempat tinggal alternatif" bagi rakyat Palestina.

Surat kabar Zionis, Haaretz mengungkap bahwa Deal of the Century akan mengakhiri konflik Palestina-Israel yang telah berusia 70 tahun. Trump dan Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel telah menyetujui persyaratan baru yang mengesampingkan solusi dua negara sebagai jawaban atas konflik itu.

Jika kesepakatan tersebut terealisasi, Mesir akan mengatur Jalur Gaza yang diblokade, sementara Yordania akan memberlakukan perwalian politik di bagian-bagian Tepi Barat yang diduduki. Di sisi lain, Israel akan mengendalikan bagian-bagian Tepi Barat yang tersisa dan memberikan kewarganegaraan Israel kepada warga Palestina yang hidup di bawah pendudukannya.

Menurut Haaretz, ada banyak pertemuan rahasia yang diadakan antara pejabat Israel dan para pemimpin Arab, termasuk Abdel Fattah ElSisi, Presiden Mesir dan Abdullah II, Raja Yoradnia. Pertemuan rahasia antara John Kerry, mantan Menteri Luar Negeri AS, Netanyahu, El Sisi dan Raja Abdullah juga diadakan di Yordania pada bulan Februari 2016.

Realisasi konspirasi seperti Deal of the Century akan menafikan cita-cita Palestina, di mana salah satu komponen cita-cita itu adalah pembentukan Negara Independen Palestina yang ibukotanya al-Quds. Dalam kerangka rencana itu, AS telah menyiapkan ruang dan kondisi untuk menghapus masalah Palestina.

Pengurangan bantuan AS kepada Badan Bantuan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) dan pada akhirnya pemutusan semua bantuan negara itu kepada UNRWA merupakan upaya untuk menghentikan aktivitas berbagai lembaga internasional yang aktif mengurus krisis Palestina dan menyiapkan kondisi untuk menghapus isu Palestina.

Meskipun rencana Presiden AS untuk menghapus masalah Palestina masih pada tahap awal, namun rencana itu telah memicu reaksi luas dari berbagai pihak. Beberapa waktu lalu, kita menyaksikan goncangan diplomatik PBB terhadap rezim Zionis dan pendukungnya terutama AS terkait dengan konspirasi mereka.

Segala bentuk gerakan AS untuk menyertai kebijakan-kebijakan hegemonik Israel di Quds akan membawa konsekuensi berat politik, diplomatik dan ekonomi bagi AS

Dan langkah seperti itu tentunya akan menambah persoalan yang dihadapi Trump akibat kebijakan dalam dan luar negerinya yang kontroversial. Kritikan kalangan internal dan internasional terhadap dirinya juga akan meningkat. Kebencian dan kemarahan yang berkobar akan membawa konsekuensi yang tidak dapat diprediksi.

Persiapan Trump untuk menghapus isu Palestina tidak akan menghasilkan apapun kecuali berkobarnya Intifada baru Palestina; yaitu Intifada Ketiga yang dipicu oleh keputusan Presiden AS yang mengumumkan al-Quds al-Sharif sebagai ibukota rezim Zionis.

Intifada Ketiga Palestina dengan semua fiturnya yang luas dan disebut sebagai "Intifada Arab dan Islam" akan menghancukan perimbangan rezim Zionis dan sekutu-sekutunya. Intifada itu akan mencegah mimpi-mimpi Trump terwujud dan ia akan terkejut dan bahkan tidak percaya menyaksikan kenyataan ini. (RA)