Tujuan Manuver Militer Gabungan AS dan UEA
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i49857-tujuan_manuver_militer_gabungan_as_dan_uea
Latihan militer bersama selama dua pekan antara pasukan Angkatan Darat Uni Emirat Arab (UEA) dan Angkatan Darat Amerika Serikat, yang dikenal sebagai, "Iron Union 6" telah dimulai pada hari Minggu, 14 Januari 2018.
(last modified 2026-04-24T16:42:03+00:00 )
Jan 15, 2018 13:23 Asia/Jakarta
  • UEA dan AS akan memulai latihan militer gabungan di Abu Dhabi.
    UEA dan AS akan memulai latihan militer gabungan di Abu Dhabi.

Latihan militer bersama selama dua pekan antara pasukan Angkatan Darat Uni Emirat Arab (UEA) dan Angkatan Darat Amerika Serikat, yang dikenal sebagai, "Iron Union 6" telah dimulai pada hari Minggu, 14 Januari 2018.

Diberitakan bahwa manuver gabungan tersebut bertujuan untuk mengembangkan dan mempromosikan hubungan antarkedua negara melalui pelatihan dan pertukaran keahlian militer dan untuk meningkatkan kemampuan tempur dan keterampilan pasukan AD kedua negara.

Dalam beberapa tahun terakhir, anggota Dewan Kerjasama Teluk Persia termasuk UEA telah menyelenggarakan manuver militer di antara anggota dewan tersebut atau dengan negara di luar anggotanya. AS adalah negara yang selalu menjadi mitra UEA dalam berbagai latihan militer.

Sebelumnya, kedua negara telah menggelar latihan militer gabungan "Iron Union 5" di UEA pada September 2017 selama dua pekan. Dengan kata lain, dalam empat bulan terakhir, UEA dan AS telah menggelar dua manuver besar militer.

Disebutkan bahwa latihan militer bersandi Iron Union bertujuan untuk pertukaran pengalaman militer antara pasukan AD UEA dan AS guna meningkatkan kemampuan dan kesiapan tempur pasukan. Manuver militer ini juga untuk memperkuat hubungan internasional dan mengembangkan keterampilan militer pasukan AD kedua negara demi mencapai keterampilan yang cukup untuk melaksanakan misi-misinya.


Latihan militer gabungan antara ADUEA dan AS.

Manuver militer Iron Union merupakan kelanjutan dari latihan militer bersandi "Iron Claw" yang dilaksanakan dalam konteks program pasukan gabungan UEA dengan negara-negara sahabatnya. Manuver militer di negara-negara Arab pesisir Teluk Persia mengalami peningkatan ketika di berbagai wilayah yang maju seperti Eropa, penyelenggaran manuver militer justru mengalami penurunan.

Penyebab utama penurunan latihan militer itu adalah perubahan konsep keamanan dari "tidak adanya perang" menjadi "keamanan dalam bentuk indikator kehidupan." Dalam konsep seperti ini, pelaksanaan manuver militer dianggap sebagai langkah yang hanya "menghabiskan biaya" dan menyebabkan sumber-sumber finansial –yang seharusnya untuk pembangunan dan kesejahteraan rakyat– terkuras habis untuk pembiayaan di bidang militer.

Ada dua faktor penting yang menyebabkan meningkatnya penyelenggaraan manuver militer di negara-negara Arab Teluk Persia. Pertama, lingkungan yang tidak aman dan penuh gejolak di Timur Tengah dan kepentingan ekonomi kekuatan-kekuatan Barat terutama AS.

Sebenarnya, salah satu penyebab utama ketidakamanan dan bergejolaknya Teluk Persia adalah pemenuhan kepentingan ekonomi AS dan kekuatan-kekuatan Barat. Ketidakamanan dan gejolak di kawasan telah menyebabkan negara-negara kecil dan dependen seperti UEA perlu untuk berkoalisi dengan kekuatan-kekuatan seperti AS. Inilah yang diinginkan Barat sehingga mereka bisa menjadikan negara-negara Arab sebagai "sapi perah" untuk memenuhi kepentingannya.

Kondisi dan ketergantungan seperti itu tentunya sangat menguntungkan kekuatan-kekuatan Barat seperti AS. Selain bisa memenuhi kepentingan-kepentingan ekonominya melalui koalisi tersebut, AS juga bisa menjamin kepentingan dan keamaan rezim Zionis Israel melalui kedekatannya dengan negara-negara Arab.

Defense News dalam laporannya di akhir tahun 2017 mengabarkan persetujuan awal Donald Trump, Presiden AS atas pembahasan rencana penjualan jet tempur F-35 kepada UEA di parlemen. F-35 adalah jet tempur generasi kelima, dan di Timur Tengah, AS hanya menyerahkan pesawat tempur tersebut kepada Israel, oleh karena itu, penjualan F-35 ke UEA harus melalui persetujuan Tel Aviv.

Tampaknya rezim Zionis secara tersirat telah mengumumkan persetujuan atas penjualan F-35 AS kepada UEA. Penyebab utama persetujuan Tel Aviv ini adalah paritisipasi UEA dalam berbagai manuver internasional dengan Israel, di mana manuver bersandi "Red Flag" adalah salah satu dari menuver internasional itu.

Sepertinya, negara-negara Arab lupa bahwa manuver militer di kawasan Teluk Persia yang diselenggarakan melalui kerjasama dengan kekuatan-kekuatan asing dan di luar anggota Dewan Kerjasama Teluk Persia akan menambah tantangan-persoalan ekonomi di negara-negara itu ketimbang terpenuhinya keamanan.

Kerjasama militer dengan kekuatan seperti AS justru akan lebih menguntungkan Negara Adidaya ini ketimbang kepentingan negara-negara Arab, sebab, negara-negara ini akan menjadi pengimpor rutin senjata AS dan rezim Zionis juga akan semakin aman dengan banyaknya sekutu Washington di kawasan Timur Tengah. (RA)