Pulihnya Hubungan Qatar-Yordania dan Kekalahan Saudi
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i53287-pulihnya_hubungan_qatar_yordania_dan_kekalahan_saudi
Setelah berbulan-bulan memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar, Yordania baru-baru ini mulai membuka kembali hubungan dan kerja sama bisnis serta investasi dua arah dengan Doha.
(last modified 2026-03-03T08:52:08+00:00 )
Mar 13, 2018 14:21 Asia/Jakarta
  • Raja Salman dan putranya
    Raja Salman dan putranya

Setelah berbulan-bulan memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar, Yordania baru-baru ini mulai membuka kembali hubungan dan kerja sama bisnis serta investasi dua arah dengan Doha.

Surat kabar Yordania, Al Raya dalam salah satu laporannya menulis, dalam kerangka pemulihan hubungan Yordania dan Qatar, dan kembalinya kondisi ke era sebelum krisis empat negara Arab, Mesir, Uni Emirat Arab, Bahrain Arab Saudi, dengan Qatar, Kamar Dagang Doha menerima kunjungan delegasi ekonomi Yordania yang dipimpin Nael Al Kabariti.

Saudi sekitar sembilan bulan lalu bersama UEA, Bahrain dan Mesir, memutus hubungan politik dan diplomatik dengan Doha. Yordania yang mengekor Saudi dan sekutu-sekutunya juga menurunkan level hubungannya dengan Qatar sampai setingkat kuasa usaha dan mengusir duta besar Qatar dari Amman.

Saat Yordania menurunkan level hubungannya dengan Qatar, Kuwait dan Oman, dua negara anggota Dewan Kerjasama Teluk Persia, (P-GCC) berusaha memainkan peran mediasi konflik Qatar dengan empat negara Arab. Kedua negara itu juga tidak menunjukkan persetujuan dengan kebijakan Saudi terkait Qatar. Dari 22 negara anggota Liga Arab, hanya tujuh negara yaitu Saudi, UEA, Bahrain, Mesir, Libya, Mauritania dan Komoro juga memutus hubungan dengan Qatar.

Pada situasi seperti ini, dimulainya kembali hubungan Yordania dan Qatar terjadi setelah perwakilan koalisi damai di Parlemen Yordania meminta pemerintah negara itu untuk meningkatkan level hubungan dengan Doha. Desakan anggota Parlemen Yordania ini disampaikan setelah beberapa bulan hubungan Amman-Riyadh memburuk akibat tekanan Putra Mahkota Saudi terhadap Raja Yordania untuk mendukung sikap Riyadh terutama terkait Palestina.

Qatar dihimpit empat negara Arab

Dengan terungkapnya kegagalan kebijakan Saudi dalam beberapa bulan terakhir, muncul pemberitaan yang membuktikan kegagalan Raja Saudi itu. Sehubungan dengan hal ini, situs surat kabar Al Sharq Al Awsat, Qatar menulis, sumber-sumber diplomatik kawasan mengatakan, Raja Saudi, Salman bin Abdulaziz pasca memburuknya hubungan Riyadh akibat kebijakan-kebijakan anaknya Mohammed bin Salman, menarik sebagian wewenang pengelolaan hubungan dengan negara-negara lain termasuk Yordania, Maroko dan Oman dari anaknya.

Upaya menghidupkan dan memperkuat hubungan negara-negara Arab dengan Qatar dalam beberapa bulan terakhir, bisa diartikan sebagai pertanda bahwa negara-negara itu ternyata mengekor kebijakan regional Saudi bukan karena keinginan sendiri tapi karena keterpaksaan dan tekanan Riyadh.

Kegagalan dalam kebijakan diplomatik atas Qatar ini juga dapat dimaknai sebagai kegagalan yang lebih besar dari kebijakan regional Saudi. Sikap rasional dan tegas Qatar yang berujung dengan kegagalan Saudi dan sekutu-sekutunya memaksakan pandangan tidak rasional dan intervensi terhadap Qatar, telah memicu reaksi luas dari negara-negara Arab.

Di sisi lain, provokasi Saudi di kawasan terhadap poros perlawanan, membuat Qatar berulang kali menegaskan bahwa Hamas dan Hizbullah adalah dua gerakan perlawanan yang sedang berperang menghadapi musuh, sementara Republik Islam Iran juga adalah sebuah kekuatan Islam regional, dan semua kapasitas tersebut harus dimanfaatkan oleh seluruh negara kawasan.

Strategi negara-negara Arab sekarang yang lebih dipusatkan kepada perluasan kerja sama dengan Qatar membuktikan perhatian negara-negara itu terhadap kebijakan-kebijakan rasional Doha terkait perkembangan kawasan. Sebuah diplomasi aktif yang membuat Saudi terisolasi di arena internasional dan regional. (HS)