Ketertindasan Palestina dan Klaim HAM Amerika
-
Palestina
Aksi-aksi anti-kemanusiaan yang dilakukan rezim Zionis Israel termasuk salah satu masalah yang berulangkali menjadi tema pembahasan Dewan Hak Asasi Manusia dan Majelis Umum PBB. Akan tetapi upaya kecaman internasional atas pelanggaran HAM yang dilakukan Israel ini, selalu saja digagalkan oleh intervensi Amerika Serikat.
Dalam menghadapi isu-isu seperti kejahatan kemanusiaan Israel, Amerika selalu memanfaatkan kekuatan pengaruhnya demi kepentingan Israel.
Amerika, terkait sikap Dewan HAM PBB yang mengecam aksi brutal Israel di wilayah pendudukan, secara resmi mengumumkan, dimasukkannya masalah yang mengungkit "kondisi HAM di Palestina dan wilayah-wilayah Arab lainnya", adalah ancaman terhadap kredibilitas lembaga PBB ini.
Sekitar setahun lalu, Wakil tetap Amerika di PBB, Nikki Haley memberikan batas waktu pada Dewan HAM PBB untuk menghentikan protes terhadap Israel atau harus menunggu keluarnya Amerika dari keanggotaan dewan ini.
Amerika menuntut penghapusan pasal 7 terkait dengan kondisi HAM di wilayah Palestina pendudukan, dari agenda sidang-sidang Dewan HAM PBB.
Majalah Amerika, Foreign Policy menulis, pasca penentangan negara-negara Eropa atas voting resolusi di Majelis Umum PBB yang menuntut dihapusnya Israel dari agenda sidang-sidang Dewan HAM PBB, Washington mulai terisolasi dan semakin dekat pada keputusan untuk keluar dari Dewan HAM PBB.
Dukungan Amerika atas sekutu-sekutunya meski mereka melakukan kejahatan kemanusiaan, membuktikan adanya standar ganda yang digunakan negara itu dalam menyikapi aturan internasional. Ancaman Gedung Putih untuk memutus bantuan finansial ke PBB pasca pengesahan draf resolusi di Dewan Keamanan yang mengecam pembangunan distrik Zionis, merupakan salah satu langkah Washington dalam kerangka ini.
Salah satu anggota Human Rights Watch, HRW, Louis Charbonneau mengatakan, dengan terus menggagalkan upaya Dewan Keamanan PBB dalam membentuk sebuah komite pencari fakta internasional untuk menyelidiki pembunuhan terhadap demonstran Palestina di perbatasan Gaza, Amerika telah kehilangan reputasinya.
Kebisuan dan kelalaian DK PBB dalam masalah ini bukan hanya akan mendorong pelanggaran hak rakyat Palestina oleh Israel di Jalur Gaza, bahkan akan semakin mengikis kredibilitas Amerika terlebih karena selalu menggunakan standar ganda dalam masalah Palestina.
Sejak Perang Dunia Kedua hingga sekarang, Israel adalah penerima bantuan militer terbesar dari Amerika. Menurut laporan pusat riset Kongres Amerika, bantuan militer Washington ke Israel setara dengan 53 persen total bantuan militer asing negara itu.
Sekitar tiga perempat bantuan tersebut digunakan untuk membeli peralatan perang dari perusahaan-perusahaan Amerika dan sisanya untuk membeli peralatan militer dari perusahaan-perusahaan Israel.
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatullah Sayid Ali Khamenei menegaskan, kita tidak boleh membiarkan kekuatan raksasa propaganda Barat, yang sebagian besarnya dikuasai Israel, menyingkirkan masalah-masalah penting Dunia Islam dan dengan konspirasi terselubung, menghapus masalah utama umat Islam. (HS)