Ketika Kebingungan Al Saud Berlanjut dalam Perang Yaman
Al Saud bersikeras untuk melanjutkan perang melawan Yaman ketika mereka sendiri sedang kebingungan yang mendalam baik apakah tetap melanjutkan perang itu sendiri dan begitu juga dalam menyikapi perkembangan di Yaman selatan.
Pola perilaku Arab Saudi di Yaman saat ini memiliki dua dimensi. Yang pertama adalah pemboman membabi buta berbagai bagian negara. Sementara itu, jet-jet tempur Saudi hari Ahad lalu, 1 September membom sebuah penjara tahanan perang di provinsi Dhamar, yang terletak 99 kilometer selatan Sanaa, ibukota negara ini dan menurut Kementerian Kesehatan Yaman, sejauh ini mereka berhasil mengeluarkan jasad 123 orang dari puing-puing penjara dan beberapa masih dilaporkan hilang.
Serangan-serangan semacam itu adalah indikasi yang jelas tentang kebingungan Al Saud dan kelanjutan perang yang sia-sia. Situasi ini lebih jelas di Yaman selatan dan ada lebih banyak indikasi terkait masalah ini yang membentuk dimensi kedua dari pola perilaku Al Saud.
Pertikaian antara Uni Emirat Arab dan Arab Saudi di Yaman selatan meningkat dan kawasan selatan Yaman menjadi "prestise" bagi Riyadh. Dengan demikian, Al Saud telah meningkatkan jumlah tentara bayaran dan peralatan militer di selatan Yaman.
Sekaitan dengan hal ini, Reuters menurunkan laporan, "Perang di selatan Yaman dalam beberapa pekan terakhir telah menciptakan front baru, dimana pusat perang ini berada di Aden."
Di satu sisi, Al Saud berupaya mencegah perubahan perimbangan kekuasaan di selatan yang menguntungkan Dewan Transisi Selatan dengan meningkatkan jumlah pasukan dan peralatan militer, khususnya di provinsi Shabwa dan Abyan dan di sisi lain, lewat bernegosiasi dengan Dewan Transisi Selatan, Saudi berusaha meyakinkan mereka untuk bekerja dalam kerangka kerja pemerintah Yaman yang telah mengundurkan diri.
Dengan demikian, delegasi Dewan Transisi Selatan Yaman yang dipimpin oleh Aidarous Qasim al-Zubaidi melakukan perjalanan untuk melakukan perundingan dengan Al Saud ke Jeddah untuk kedua kalinya dalam dua pekan terakhir atas undangan Kementerian Luar Negeri Saudi.
Pendekatan ini adalah yang paling mengisahkan kebingungan Al Saud dalam perang Yaman. Karena perselisihan antara Dewan Transisi Selatan dan Riyadh bukanlah yang dangkal, melainkan perselisihan mendasar dan berakar pada banyak masalah. Dewan Transisi Selatan menyerukan pemisahan selatan dari utara Yaman, tetapi Arab Saudi tidak menganggap pemisahan selatan dalam situasi saat ini sesuai dengan kepentingannya karena Ansarullah telah membentuk pemerintahan di utara.
Dewan Transisi Selatan menganggap pemerintah yang telah mengundurkan diri, khususnya Mansur Hadi tidak memiliki legitimasi dan juga menentang partai al-Islah yang memiliki hubungan dengan Ikhwanul Muslimin, sementara Arab Saudi mengejar kegiatan dalam kerangka pemerintah yang telah mengundurkan diri dan partisipasi partai al-Islah. Dalam keadaan seperti itu, tujuan-tujuan Arab Saudi tampaknya tidak terpenuhi melalui negosiasi dengan Dewan Transisi Selatan.
Poin terakhir adalah bahwa Al Saud berusaha mencegah keruntuhan penuh koalisi terhadap Yaman lewat upaya negosiasi dengan Dewan Transisi Selatan yang didukung UEA, tetapi tampaknya kemungkinan koalisi ini akan segera dibubarkan secara resmi.