Terungkapnya Klaim dan Kebohongan Israel
Memburuknya situasi di Jalur Gaza akibat blokade dan invasi rezim Zionis Israel telah menimbulkan kekhawatiran internasional. Masyarakat dunia telah berulang kali mengungkapkan rasa muak mereka terhadap meningkatnya tindakan anti-kemanusiaan rezim Zionis di Gaza dan kebohongan rezim ini untuk menjustifikasi berbagai kejahatannnya di Palestina.
Sejak tahun 2007, Israel memblokade Gaza dari darat, laut dan udara serta tidak mengizinkan masuknya barang-barang pokok seperti bahan bakar dan obat-obatan ke wilayah yang berpenduduk sekitar 1,7 juta jiwa ini. Selama ini pula, rezim Zionis telah beberapa kali melancarkan invasi militer ke Gaza yang merenggut nyawa ribuan warga Palestina dan menghancurkan infrastruktur di wilayah ini.
Robert Piper, Koordinator Bantuan Kemanusiaan PBB baru-baru ini mengkritik kebohongan-kebohongan rezim Zionis terkait kejahatan rezim penjajah al-Quds ini di Palestina. Ia mengatakan, para pejabat Israel meyakini warga Palestina menggunakan bahan-bahan bangunan untuk tujuan militer, namun Tel Aviv hingga sekarang tidak memberikan bukti apapun atas tuduhannya itu.
Piper menegaskan, pada dasarnya tidak ada indikasi adanya penggunaan bahan bangunan yang masuk ke Gaza untuk tujuan militer. Israel, lanjutnya selalu membuat skenario untuk mencapai tujuan-tujuan anti-rakyat Palestina.
Sementara itu, Sami Abu Zuhri, juru bicara Gerakan Muqawama Islam Palestina (Hamas) mengatakan, pernyataan Koordinator Bantuan Kemanusiaan PBB adalah bukti kepalsuan klaim-klaim Israel. Ia menyebut tudingan para pejabat rezim Zionis tersebut sebagai upaya untuk menutupi blokade Gaza dan trik untuk menjustifikasi dan melanjutkan blokade keji ini.
Israel, selain memperketat blokade Gaza dan menolak untuk mencabutnya, juga mencegah masuknya bahan-bahan bangunan seperti semen ke wilayah ini dengan dalih semen itu bisa digunakan Hamas untuk membangun tunel-tunel bawah tanah.
Rezim Zionis sejak sembilan tahun lalu telah memblokade Gaza dan mencegah masuknnya peralatan dan barang-barang pokok seperti obat-obatan, bahan bakar dan bahan-bahan bangunan.
PBB telah berulang kali menuntut Israel untuk membuka semua penyeberangan Gaza dan menegaskan pencabutan penuh pembatasan terhadap semua penyeberangan itu sesuai dengan Resolusi Nomor 1860 Dewan Keamanan PBB (DK-PBB). Namun Israel tidak pernah menuruti tuntutan lembaga internasional itu dan tetap melanjutkan kebijakan anti-Palestina.
Resolusi 1860 dikeluarkan DK-PBB pada tahun 2009 untuk menghentikan invasi rezim Zionis ke Gaza selama 22 hari. Resolusi ini menegaskan penghentian serangan militer Israel dan menekankan peningkatan upaya untuk memberlakukan gencatan senjata permanen serta jaminan untuk membuka semua penyeberangan Gaza selamanya (pencabutan blokade Gaza).
Tragedi Gaza mengingatkan sebagian kejahatan rezim Zionis terhadap rakyat Palestina. Selama 68 tahun di bawah penjajahan Israel, rakyat Palestina tidak pernah aman dari pembunuhan dan genosida yang dilakukan para penjajah, bahkan hingga sekarang, masyarakat dunia hampir setiap hari menyaksikan kebengisan Israel di Palestina.
Israel memiliki sejarah hitam yang dipenuhi dengan kejahatan-kejahatan terhadap rakyat Palestina. Sejak berdirinya rezim Zionis, hampir tidak ada periode waktu yang di masa itu tidak ada kejahatan mengerikan rezim ini. Kejahatan Israel memiliki dampak dan konsekuensi mengerikan yang telah mempengaruhi kehidupan warga Palestina dalam jangka waktu yang lama.
Tel Aviv selama ini menerapkan berbagai kebijakan kekerasan terhadap warga Palestina. Rezim Zionis menggunakan kebijakan anti-kemanusiaan untuk menarget warga Palestina termasuk memblokade Gaza dan mengubahnanya menjadi penjara terbesar bagi bangsa Palestina.
Dalam beberapa tahun terakhir, ratusan warga Gaza meninggal dunia karena peningkatan blokade Israel . Sementara itu, banyak pasien Palestina yang berada di ambang kematian karena tidak bisa berobat ke luar Gaza.
Selain blokade Israel, kebijakan pemerintah Mesir yang menutup penyeberangan Rafah juga menambah penderitaan warga Gaza. Kementerian Kesehatan Palestina baru-baru ini menuntut Mesir untuk segera membuka penyeberangan Rafah guna menolong para pasien di Jalur Gaza.
Asraf al-Qudra, juru bicara Kementerian Kesehatan Palestina dalam pernyataan terbarunya menyinggung penutupan penyeberangan Rafah selama 74 hari berturut-turut. Padahal jalur ini adalah satu-satunya penyeberangan bagi penduduk Gaza untuk akses keluar.
Al-Qudra menegaskan pentingnya pebukaan penyeberangan Rafah. Sebab, hal ini akan dapat mengurangi penderitaan warga Palestina terutama para pasien di Gaza. Ia juga menyinggung keputusasaan para pasien Palestina untuk bisa keluar dari Gaza dan berobat di rumah sakit Mesir.
Al-Qudra mengatakan, situasi sulit ini terjadi akibat intensifikasi blokade Gaza dan kebijakan rasis rezim Zionis yang bertentangan dengan semua norma internasional. Kondisi warga Palestina di Gaza telah menimbulkan kekhawatiran dunia. Situasi buruk di wilayah ini merupakan lonceng tanda bahaya tentang kemungkinan terjadinya sebuah tragedi kemanusiaan yang mengerikan. (RA)