Transformasi Asia Barat 9 Mei 2020
-
Sekjen Hizbullah Lebanon, Sayid Hassan Nasrullah
Transformasi Asia Barat selama beberapa sepekan terakhir diwarnai sejumlah isu penting di antaranya mengenai reaksi terhadap pelabelan teroris terhadap Hizbullah yang dilakukan pemerintah Jerman.
Selain itu, mengenai penolakan Israel terhadap pertukaran tawanan, Arab Saudi tidak serius untuk mengakhiri agresi di Yaman, Qatar menyerukan kerja sama mengatasi krisis regional, pemerintahan baru Irak terbentuk, perekonomian negara-negara Arab terpukul akibat virus corona dan rezim Zionis membombardir wilayah utara Gaza.
Reaksi terhadap Pelabelan Teroris terhadap Hizbullah oleh Jerman
Berbagai kalangan di kawasan Asia Barat mereaksi keputusan Kementerian Dalam Negeri Jerman menyematkan label pejoratif teroris terhadap Hizbullah dan melarang aktivitas organisasi ini di negaranya.
Partai-partai Tunisia dalam pernyataan hari Selasa (5/5/2020) menilai keputusan Berlin melarang aktivitas Hizbullah Lebanon di negaranya demi mengamini dikte rezim Zionis yang didukung penuh oleh Amerika Serikat. Mereka juga menggambarkan langkah Jerman terhadap Hizbullah Lebanon sebagai keputusan Zionisme global.
Lima partai Tunisia ini menyebut keputusan Berlin diambil karena peran Hizbullah Lebanon sebagai gerakan paling penting dalam melawan rezim Zionis.
Partai-partai Tunisia juga menyerukan supaya rakyat dan para pemimpin negara-negara Arab bersama semua orang yang independen di dunia bersama-sama menghadapi langkah-langkah imperialisme terhadap pihak lain.
Mereka menilai tindakan Jerman tersebut bertujuan untuk melemahkan gerakan perlawanan, menghancurkan cita-cita luhur Palestina dan mengabaikan hak bangsanya untuk menentukan nasib sendirinya
Sementara itu, Sekjen Hizbullah Lebanon, Sayid Hassan Nasrullah menyebut keputusan Jerman untuk menyebut Hizbullah sebagai teroris di bawah tekanan Amerika Serikat dan rezim Zionis.
Reaksi Sayid Hassan Nasrullah adalah bahwa Jerman tidak bertindak secara independen dalam menyebut Hizbullah sebagai teroris, tetapi melakukannya di bawah tekanan dari Amerika Serikat dan lobi Zionis.
Pandangan Sekjen Hizbullah ini, secara implisit menyebut negara-negara Eropa tidak independen dari Amerika Serikat dan selain itu menunjukkan bahwa menargetkan Muqawama di kawasan adalah strategi utama Amerika Serikat dan rezim Zionis, yang bahkan dilakukan dengan menekan negara-negara Eropa untuk mematuhi strategi ini.
Selain itu, Sayid Nasrullah juga mengungkapkan bahwa dominasi AS dan rezim Zionis terhadap wilayah Asia Barat tidak akan mungkin terjadi tanpa menghilangkan atau membatasi semua kelompok perlawanan. Sebab kelompok perlawananlah yang menentang konspirasi AS-Zionis di wilayah tersebut.
Sayid Hassan Nasrullah menjelaskan bahwa Amerika Serikat sedang mengejar proyek hegemonik di kawasan dan bahwa Israel mengejar proyek pendudukan dan menambahkan bahwa gerakan perlawanan oleh mereka harus dikutuk dan dikepung karena mereka menentang konspirasi ini.
Hizbullah sebagai organisasi resmi dan sah dengan tingkat popularitas yang tinggi di Lebanon, dan negara-negara Asia Barat merupakan gerakan kunci dalam menentang agresi Zionis terhadap Palestina, dan selama ini aktif memerangi kelompok-kelompok teroris seperti Daesh dan Front al-Nusra.
Hamas: Israel Tolak Proposal Pertukaran Tawanan
Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) menyatakan, tidak ada kemajuan sama sekali dalam masalah pertukaran tawanan dengan rezim Zionis lewat mediasi pihak lain.
Hamas, seperti dilaporkan televisi al-Alam, Selasa (5/5/2020) menambahkan bahwa Israel ingin lari dari proposal yang ditawarkan oleh Yahya al-Sinwar, Ketua Biro Politik Hamas di Gaza.
"Kami siap untuk memberikan konsesi parsial dalam masalah pertukaran tawanan dengan imbalan pembebasan tawanan lansia, orang sakit, dan anak-anak dari penjara Israel di tengah pandemi Corona," kata Yahya al-Sinwar pada April lalu.
Para pejabat Hamas mengatakan sejauh ini tidak ada perkembangan terbaru mengenai rencana pertukaran tawanan.
Sebanyak 5.800 warga Palestina dikurung di penjara-penjara rezim Zionis, di mana 200 dari mereka anak-anak dan 700 lainnya dalam kondisi sakit.
Rezim Zionis Bombardir Wilayah Utara Gaza
Rezim Zionis melancarkan serangan artileri dan udara menyerang wilayah utara Jalur Gaza.
Media Palestina Rabu (6/5/2020) melaporkan, serangan artileri dan jet tempur rezim Zionis menyerang daerah timur kota Beit Hanoun yang terletak di utara Jalur Gaza.
Sebelumnya, media rezim Zionis mengklaim sebuah roket mengenai area terbuka di Sdot Negev.
Alarm tanda bahaya terdengar di permukiman Zionis yang berdekatan dengan jalur Gaza setelah roket ditembakkan.
Tidak ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas serangan itu.
Serangan terbaru rezim Zionis ke jalur Gaza dilancarkan di saat virus corona menyebar di wilayah ini.
Arab Saudi tidak Serius untuk Mengakhiri Agresi Yaman
Ketua Komite Tinggi Revolusi Yaman, Mohammed Ali al-Houthi mengatakan koalisi Arab Saudi sama sekali tidak serius untuk mengakhiri agresi dan pencabutan blokade Yaman.
Mohammed al-Houthi, seperti dilaporkan Sputniknews, Jumat (8/5/2020) menambahkan, "Utusan khusus PBB untuk Yaman telah melakukan upaya tertentu, tapi kami tidak melihat keseriusan yang menunjukkan keinginan koalisi Saudi untuk mengakhiri agresi serta menghapus blokade dan sanksi terhadap Yaman."
Menurutnya, apa yang terjadi adalah penawaran prakarsa yang bersifat formalitas yang tidak ada hubungannya dengan inti masalah dan bahkan tidak memberikan solusi nyata di tengah penyebaran virus Corona.
Sementara itu, juru bicara Angkatan Bersenjata Yaman, Brigadir Jenderal Yahya Saree pada Kamis (7/5/2020) malam, mengatakan koalisi Saudi melancarkan 110 kampanye udara dan 11 serangan darat dalam satu pekan terakhir meskipun mengumumkan gencatan senjata.
Agresi Arab Saudi terhadap Yaman akan memasuki tahun keenam pada 26 Maret 2020.
Koalisi Saudi pada 9 April lalu, mengaku menerapkan gencatan senjata sepihak selama dua pekan dan kemudian memperpanjangnya menjadi satu bulan, tetapi mereka tidak berkomitmen dengan keputusan itu bahkan untuk beberapa jam.
Qatar Serukan Kerja Sama Atasi Krisis Regional
Menteri Luar Negeri Qatar, Mohammed bin Abdulrahman Al Thani menyerukan kerja sama antara negara-negara di Asia Barat untuk mengatasi berbagai krisis saat ini.
Mohammed Al Thani pada hari Jumat (8/5/2020) mengatakan wabah virus Corona telah menambah beban ekonomi bagi semua negara dan jika negara-negara regional ingin memecahkan masalah ini, maka mereka harus bekerja sama.
Menurutnya, Asia Barat berpotensi meledak karena meningkatnya ketegangan dan ketidakmampuan negara-negara dalam mengelola krisis dan melakukan reformasi internal, serta berlanjutnya blokade Qatar, perang di Irak, Yaman, dan daerah lain.
"Berlanjutnya konflik dan intervensi dalam urusan negara lain, telah menghapus peluang kerja sama untuk menangani krisis di masa depan. Pendekatan seperti ini mengkhawatirkan," ujar menlu Qatar.
Berbicara tentang perang Yaman, Mohammed Al Thani menandaskan Arab Saudi memulai perang ini dengan misi melindungi perbatasannya, tapi kemudian diketahui bahwa agresi ini dilakukan tanpa strategi yang jelas dan Riyadh mengejar tujuan lain dari perang Yaman.
Arab Saudi dengan dukungan AS, Uni Emirat Arab, dan beberapa negara lain, melancarkan agresi militer terhadap Yaman sejak Maret 2015. Koalisi Saudi kemudian memblokade Yaman dari darat, udara, dan laut.
Pemerintahan Baru Irak Terbentuk
Pemerintahan baru Irak yang dipimpin oleh Mustafa Kazemi menerima mosi kepercayaan dari parlemen Irak pada Rabu malam.
Sebelumnya Mustafa Al-Kazemi resmi menjabat sebagai perdana menteri Irak setelah mendapat suara mayoritas parlemen.
Parlemen Irak dalam sidang yang seharusnya diselenggarakan pada hari Rabu (06/05/2020) malam, pukul 21:00 waktu setempat, tetapi tetapi ditunda hingga pukul 24:00 malam karena perbedaan pendapat faksi-faksi yang ada dengan dihadiri 233 dari jumlah keseluruhan 329 anggota parlemen, akhirnya memilih untuk mendukung kabinet Mustafa al-Kazemi.
Pada sidang ini, pengambilan keputusan terkait dua menteri perminyakan dan luar negeri ditunda karena perselisihan tentang menteri yang diusulkan.
Dalam jam-jam terakhir menjelang sidang parlemen tadi malam, Mustafa al-Kazemi, atas permintaan beberapa faksi, terpaksa untuk mengubah sejumlah menteri yang diusulkan untuk beberapa kementerian.
Pemerintah Mustafa al-Kazemi menggantikan Adil Abdul-Mahdi, yang mengundurkan diri pada 29 November tahun lalu.
Perekonomian Negara Arab Terpukul Akibat Virus Corona
Kepala Perhimpunan Pengusaha Arab, Hamdi al-Tabbaa memperkirakan bahwa kerugian ekonomi negara-negara Arab akibat pandemi Corona mencapai sekitar 323 miliar dolar.
Prediksi itu didasarkan pada laporan yang diterbitkan oleh Dana Moneter Internasional (IMF) baru-baru ini mengenai kondisi ekonomi Asia Barat (Timur Tengah) dan wilayah Afrika Utara karena penyebaran wabah Corona.
Al-Tabbaa Sabtu (9/5/2020), menegaskan negara-negara Arab, baik eksportir minyak atau importir, terkena dampak negatif dan menanggung kerugian akibat dampak dari virus Corona, yang jumlahnya hampir 12 persen dari postur ekonomi mereka.
"Analisa menunjukkan bahwa utang negara-negara Arab akan meningkat 190 miliar dolar pada tahun 2020 dan pada akhirnya mencapai 1,46 triliun dolar," ujarnya.
Al-Tabbaa menambahkan, perusahaan-perusahaan di kawasan Arab mengalami kerugian selama kuartal pertama tahun ini sebesar 420 miliar dolar, yang setara dengan 8 persen dari total kekayaan wilayah tersebut.
Dia mencatat ada penurunan belanja konsumen dan investasi di negara-negara Arab setelah penyebaran virus Corona, yang kemudian diikuti dengan penutupan pasar, penurunan jumlah wisatawan, dan gangguan layanan publik.(PH)